Karena kamu pacarku


Kukenal pria yang berjalan disampingku ini 20 tahun yang lalu. Ketika itu aku baru saja “diputuskan”oleh pacarku yang kudapati berselingkuh dengan wanita lain.

Tidak seperti wanita pada umumnya yang akan marah dan menanggis mendapati pasangannya bermain hati, aku hanya terdiam dan menahan tanggis dan pergi. Bahkan ketika malam tiba disaat tidak seorangpun yang melihat, aku juga tidak menanggis. Aku hanya mendengarkan lagu kesukaanku sampai tertidur dan mendapati bantalku basah keesokan paginya.

Sambil bersujud didepanku, pria yang telah kucintai lebih dari lima tahun ini memintaku memaafkannya dan menyesali perbuatannya. Tapi, kesempatan itu tidak pernah kuberikan padanya. Dia telah berani bermain api, dan dia harus berani mempertanggungjawabkan semua yang telah terbakar dan menjadi debu dibawa angin pergi.

Sejak aku berpisah dengan mantanku, aku menyibukan diri dan tenggelam dalam pekerjaanku. Sebenarnya, dengan postur tubuh cukup tinggi, tubuh terawat singset bersih, wajah yang dikatakan temanku mirip Angelina Jolie, bagiku untuk mendapatkan pria lain sangatlah mudah.

Tetapi aku tidak melakukannya. Mengapa? Karena tidaklah mudah bagiku untuk melupakan seseorang yang telah kita sangat cintai selama bertahun-tahun sekalipun dia pantas untuk dilupakan. Aku biarkan saja hatiku sendiri yang menuntunku mencari cinta yang baru.

“Kevin, panggil saja aku Kevin”, kata pria ini ketika kutanya namanya setelah dia menolongku membawakan barang-barang bawaanku pindah keapartemen baru. “Aku tinggal disebelah sana no. 7, jika ada perlu apa-apa aku siap membantu”, lanjutnya ramah.

Aku berterimakasih padanya dan kamipun saling bertukar no HP. Tidak ada hal yang special yang bisa kugambarkan dari sosok seperti Kevin. Orangnya setinggi aku sekitar 170cm. Rambutnya hitam pekat dipotong pendek, cocok dengan wajahnya yang agak lonjong. Tubuhnya sedikit gemuk tapi pas untuk dilihat. Yang paling mengesankanku adalah sikap ramahnya yang tulus.

Perkenalanku dengan Kevin ternyata pelan-pelan mampu membuatku melupakan mantanku. Kami sering melakukan jogging bersama dipagi hari dan kadang sore hari. Dan kami ternyata memiliki hobi mendengarkan lagu yang genrenya beat cepat atau dance.

Kevin orangnya benar-benar ramah dan itu tidak hanya padaku. Pernah disuatu pagi saat kami hendak berjogging, ada seorang wanita tua yang kerepotan membawa barangnya. Tanpa perlu aba-aba dia langsung mendatangi wanita itu dan menawarkan bantuan.

Awalnya aku sempat curiga Kevin berlaku ramah didepanku saja, dan karena merasa penasaran aku pernah coba-coba iseng sedikit menjelekkan Kevin pada salah satu penghuni apartrmen kami. Dan jawaban yang kudapatkan justru membuatku menyesal akan keisenganku.

“Maafkan aku nona muda, kamu sangatlah cantik dan juga menarik. Tetapi aku tidak menyangka bahwa berpikir begitu. Kevin yang kamu kenal, bukanlah seperti yang kamu kenal pada pria lain”.

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu berpikir begitu, mungkin kamu mendapatkan banyak pengalaman yang membuatmu curiga pada kebaikkan orang lain dalam mendekatimu, dan aku tidak menyalahkanmu. Tapi untuk kali ini, kamu telah salah menilai orang”.

“Kevin adalah seorang duda yang kusebut tidak sah. Dan keramahan hatinya adalah benar tulus adanya. Ketika ia membawa istrinya datang kesini setahun yang lalu, mereka adalah pasangan yang sangat berbahagia yang baru saja menikah”.

“Mereka mengundang kami untuk ikut merayakan kebahagiaan kecilnya bersama dan malam itu menjadi malam yang sangat menyenangkan. Tetapi keesokan paginya, saat istrinya berangkat bekerja, istrinya didorong dan terjatuh dari apartrmen ini ketika menolong seorang wanita tua yang dirampok beberapa pemuda”.

“Coba kamu bayangkan bagaimana perasaanmu mengetahui orang sangat kamu cintai dan telah kamu miliki harus dipisahkan dengan cara seperti itu…”.

Kesunyian terjadi beberapa menit. Wanita tua yang bercerita ini terdiam dengan mata berkaca-kaca. Lalu dia melanjutkan.

“Tahukah kamu, aku telah berkali-kali meminta maaf padanya atas apa yang menimpa istrinya. Aku bahkan menyalahkan diriku mengapa bukan aku yang harus mati karena aku sudah tua dan sudah puas dengan kehidupanku, tetapi tahukah apa yang dikatakannya padaku?”.

“Dia mengatakan agar aku harus berbahagia karena masih diberi umur panjang. Dia juga bersyukur karena tidak terjadi apa-apa padaku yang tua ini. Dia bahkan masih memelukku. Tetapi sepandai apapun kamu menyembunyikan perasaanmu, kamu tidak bisa menyembunyikannya selamanya”.

“Ketika kami semua berziarah kepemakaman istrinya, disanalah tanggis paling pilu yang pernah kami lihat”.

Wanita tua ini berhenti bercerita. Aku juga hampir tidak mampu menahan air mataku lagi. Ketika aku dilukai mantanku, aku kira kisahkulah yang paling menyakitkan didunia. Tetapi ketika mendengar cerita wanita ini, aku merasa aku sangat egois. Wanita tua ini memandangiku dan di melanjutkan ceritanya.

“Saat itu hujan cukup deras, tetapi tanggisannya lebih deras. Bibirnya terlihat berdarah-darah berusaha menahan luapan kesedihan yang begitu menyayat jiwa. Jari-jarinya terluka mengali setiap tanah yang ditimbun diatas peti istrinya. Seandainya kamu ada disana kamu akan…”.

Tak kuasa lagi aku menahan air mataku. Kulihat wanita inipun menutup mulutnya tidak mampu bercerita lagi. Akupun tidak mampu mendengar lagi. Aku begitu menyesal karena keisenganku justru mendapatkan kenyataan yang begitu menyedihkan dari seorang pria ramah. Kupeluk wanita ini. Kami tidak berkata apa-apa. Dia memelukku kembali.

“Tahukah mengapa aku meminta maaf padanya? Tahukah siapa wanita tua yang ditolong istrinya? Tahukah…”. “Ya aku tahu sayang, aku tahu…”, jawabku memotong perkataannya. Aku tidak mau wanita tua ini merasa bersalah dan mengenang kenangan yang seharusnya ia lupakan dan juga bukan kesalahannya. Kami tenggelam dalam air mata.

“Cup…”, sebuah kecupan kecil mendarat dipipiku. Dan, “Cup…”, sebuah kecupan lagi. Ketika kecupan ketiga mendarat dipipiku, aku pun “terpaksa” bertanya lagi pada pria yang berjalan disampingku malam ini.

“Sayang, kenapa sih kamu selalu mencium pipiku ketika berpapasan dengan orang lain? Aku kan malu…”, tanyaku tersipu dan pipiku merona merah ketika dia mengecupku sekali lagi sebelum memberikan jawabannya.

Dipandangi mataku dalam-dalam. Katanya, “Karena kamu adalah pacarku, dan aku ingin semua orang yang lewat lihat dan tahu bahwa kamu adalah milikku”. “Tetapi sekarang aku ini istrimu sayang, dan kamu telah melakukannya sejak pernikahan kita”, kataku gemes tidak mampu menahan mesraku. Sejujurnya aku sangat senang dia melakukannya, dan kalian tahulah bahwa kami wanita memang suka berpura-pura.

“Bagiku sekarang kamu adalah pacarku, dan ketika ada orang yang bertanya aku baru akan menjawab bahwa kamu istriku”, jawabnya dengan senyuman termanis dan teramah yang tidak pernah bosan kulihat selama puluhan tahun. Lalu kulihat ada sepasang anak muda yang berjalan kearah kami dari jauh. Kulirik “pacarku”, dia melihat kearahku sambil mengedipkan mata. Aku sudah tahu apa maksudnya. Dan,

“Cup…”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s