Siopa dan Oma


"Belladox beautihoscolus", mantraku

Dengan jaket tuanya warna merah muda, ditemaninya kekasihnya yang sudah senja, opa dan oma yang sangat kukagumi ini masih bergandengan tangan mesra. Kuikuti mereka dari belakang menelusuri jalanan taman.

Sesekali mereka berhenti jika melihat kumpulan bunga-bunga yang bertumbuh indah. Lalu siopa akan memetik setangakai bunga dan diselipkan pada rambut sioma. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Saat mereka berhenti dikumpulan bunga mawar,  siopa seperti biasa mengulurkan tangannya untuk memetik setangkai mawar. Tetapi sebelum siopa sempat memetiknya, sioma meneghentikan tangan siopa.

“Sayang, mawar ini memang indah, tapi aku tidak tega kalau tangan tuamu harus terluka hanya sekedar untuk memetiknya”, kata sioma terlihat cemas.

Siopa hanya tersenyum. Dikecupnya dengan mesra pipi sioma, katanya, “Sayangku, aku sudah tahu aku akan terluka dengan duri-durinya, tetapi aku juga tahu kalau kamu sangat menyukai mawar merah. Goresan dan irisan duri itu tidak sebanding dengan senyuman yang akan kamu berikan, dan bonusnya  kamu mencemaskanku seperti saat ini. Bukankah itu yang selalu pria inginkan dicemasi pasangannya karena sayang?”, jawab siopa mantap. Sioma hanya tersipu kehilangan jawaban. Mawar merahpun menghias rambut sioma, dan ajaibnya tangan diopa sama sekali tidak terluka.

Mereka melanjutkan perjalanan lagi. Sambil berjalan mereka saling mengenang kenangan semasa muda. Aku dengan jelas mendengar percakapan mereka.

“Sayang, apakah kamu masih ingat pohon ini?”, tanya sioma tersenyum penuh arti. “Tentu saja, disinilah aku menyatakan cintaku padamu. Coba lihat ukiran namamu dan namaku disana. Walaupun sudah sudah tidak jelas tulisannya tetapi masih sangat jelas dalam ingatanku. Aku bahkan dikejar penjaga taman waktu itu karena telah merusak pohon yang dilindungi ini”, kenang siopa disertai tawa kecil sioma. Aku yang mendengarnya juga ikut tertawa kecil.

Ya, pohon ini saksi pertama dua anak manusia ini saling mengikat janji sumpah setia. Perkenalan siopa muda dan sioma muda dahulu secara tidak sengaja ketika mereka berjoging dipagi hari ditaman ini. Ketika itu sioma muda sedang menikmati jogingnya sambil mendengarkan lagu. Dan, “Bruk…”, sioma muda menabrak seorang pemuda yang sedang mengikat tali sepatu.

“Ma…, maafkan saya…”, hanya sepatah kata itu terucap dari bibir manis sioma muda. Selebihnya mereka saling berpandangan, saling berkenalan, saling mengajak makan malam dan saling memendam perasaan hingga siopa muda memberanikan diri menyatakan perasaannya.

Kini mereka berhenti dan duduk disebuah bangku dekat pohon tua nan rindang. Sioma mengenggam tangan siopa dengan erat. “Sayang, maafkan semua kesalahanku dulu ya…”, kata dioma pelan. Siopa cuma tersenyum. “Kesalahan apa?”, tanya siopa santai saja sambil memainkan bola matanya.

20 tahun yang lalu sebelum mereka menikah, bangku inilah saksi mereka saling melontarkan kata-kata yang menyayat hati dan membuat luka. Karena kesalahpahaman. Karena saling membandingkan, karena menomorduakan kejujuran, dua anak manusia ini memulai pertengkaran.

Benang merah yang telah mereka urai dan jaga bersama hampir putus diiris belati iri dan dengki. Sioma iri mengapa siopa tidak bisa seperti temannya yang mempunyai segalanya, siopa iri mengapa sioma tidak bisa secantik dan semenarik sahabatnya.

Sioma yang menurut siopa terlalu menuntut dan siopa yang menurut dioma yang terlalu menerima seadanya dan terkesan pasrah. Perbedaan pendapat dan pengaruh mata dan telinga hampir membuat mereka sama-sama buta.

Tetapi, apa tang telah Tuhan sandingkan, sekalipun dipaksa pisah pasti kelak akan bersatu juga. Saat pertengkaran itu, sioma meninggalkan siopa dengan hati yang sangat terluka. Siopa yang juga telah terluka hatinya hanya diam dan membiarkan sioma berlari pergi tanpa mengejarnya.

Tiba-tiba, “Brakkk…”, terdengar suara tabrakan.  Siopa begitu terkejut dan belari kearah datangnya suara itu. Betapa terkejutnya siopa mendapati seorang wanita tergeletak tak sadarkan diri tidak jauh didepannya.

Kaki siopa langsung lemas dan terjatuh duduk ketanah, air matanya berjatuhan membasahi wajahnya. Tiba-tiba terdengar suara wanita yang ngos-ngosan dari arah belakang. Siopa langsung melihatnya dan itu kekasihnya.

“A…, a…, aku kira suara itu…, kamu…”, kata siopa perasaannya bercampur aduk. Dicobanya berdiri dan, sebuah pelukan hangat erat dari sioma. “Aku takut sekali ketika mendengar suara tabrakan itu, aku kira itu ka…”, kata-kata sioma terhenti. Mereka saling menanggis dan berpelukan.

Ternyata, suara keras itu adalah hasil perbuatan pengemudi mabuk yang menabrak batas pengaman antara jalan raya dan taman. Pengemudinya sendiri baik-baik saja dan wanita yang terkapar itu hanya lecet dikaki kirinya. Setelah menolong wanita itu dan pengemudi yang mabuk diamankan, siopapun mengantar pulang sioma.

Dalam perjalanannya, siopa berkata. “Sayang, aku tidak tahu bagaimana dan sejak kapan aku mulai membandingkanmu dengan wanita lainnya. Padahal, sejak pertama kali aku jatuh cinta padamu, fisikmu justru tidak pernah kupedulikan”.

“Aku begitu terkesan dengan sifatmu yang ceria, spontan dan tidak terduga, tetapi hanya karena pengaruh teman-temanku aku sampai membuatmu kecewa dan terluka”.

“Aku tahu aku belum bisa mewujudkan apapun yang kamu tuntut padaku. Tetapi percayalah aku juga berusaha. Mungkin karena aku terlalu ingin memenuhi mu, aku kehilangan diriku yang sebenarnya dan justru kamu yang kena batunya. Aku sangat menyesal dan aku berjan…”, belum selesai bicara sioma telah mendiamkan kekasihnya ini dengan sebuah ciuman mesra.

“Sayang, jangan katakan apa-apa lagi. Jika ditanya siapa yang paling bersalah, akulah orangnya…”, jawab sioma sambil menutup bibir siopa dengan jarinya agar diam mendengarkan penjelasannya.

“Aku sebenarnya sangat mencintaimu dan aku menyadarinya hari ini. Aku menuntutmu ini-itu sebenarnya karena pengaruh teman-temanku yang mengatakan dan “membuktikan” bahwa dengan cinta saja aku tidak akan bahagia dan pasti menderita”.

“Aku…, aku sebenarnya menyadari bahwa temanku bisa saja salah. Tetapi aku malah lebih memilih mendengarkannya daripada mendengarkan kata hatiku”.

“Semua mobil yang mewah, semua rumah yang indah, semua harta yang berlimpah bisa kita dapatkan asal kita berusaha. Tetapi kamu, kamu hanya ada satu dan satu-satunya didunia ini”.

“Aku lebih memilih kehilangan segalanya daripada harus kehilanganmu. Ketika kehilangan segalanya aku bisa mencarinya kembali, tetapi kalau kehilanganmu, mungkin aku diberi kesempatan ribuan tahunpun aku tidak akan menemukanmu dan malam ini aku telah diberi peringatan itu supaya tidak kehilanganmu…”, lanjut sioma sambil memeluk erat dan mesra kekasihnya.

Itulah kisah kecil yang bisa diceritakan dari bangku tua ini. Setelah merasa cukup dengan mengenang masa-masa penuh air mata dan luka dalam ingatan mereka, siopa dan oma melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini mereka sampai pada sebuah patung yang berbentuk malaikat kecil dalam pekukan seorang wanita.

Kulihat wajah dioma, matanya sendu dan berkaca-kaca. Siopa yang  telah memahami perasaan kekasihnya itu langsung merangkulnya. Dikecupnya dengan mesra kening sioma.

“Maafkan aku sayang, setiap kali aku melihat patung malaikat ini, ia selalu mengingatkan aku pada malaikat kecil kita…”, kata sioma terbata-bata.

Ya, malaikat ini sesungguhnya adalah patung yang dibangun khusus untuk mengenang putri mereka yang telah meninggal sejak dilahirkan kedunia.

Sioma sewaktu muda mempunyai fisik yang cukup lemah. Bahkan untuk hamil saja sudah cukup beresiko. Tetapi demi mendapatkan anugerah terindah dari Tuhan, sioma dan siopa berani menerima semua resiko yang ada bahkan sekalipun bertukar nyawa.

Sayang, keinginan mereka ternyata belum dikabulkan sang pencipta. Selama kehamilan dioma sehat-sehat saja dan ini sudah cukup membuat para dokter takjub. Tetapi ketika saat persalinan, sioma tidak mampu bertahan. Pilihannya cuma satu, dan harus piliha satu. Nyawa sang buah hati ataukah sang ibu. Dan dengan perasaan yang sangat berat siopa muda menjawab,” Istriku…”.

“Sayang, mengapa dulu kamu tidak memilih nyawa bayi kita? Ketahuilah apapun pilihannu aku tidak akan menyalahkanmu, aku malah akan berbahagia untukmu…”, tanya sioma untuk keselian kalinya. Siopa mengecup kening kekasihnya itu. Katanya.

“Aku memilihmu karena kamulah separuh jiwaku. Aku sangat mencintai bayi kita, dan aku juga sangat mencintaimu. Ketika bayi kita telah beranjak dewasa, mereka akan meninggalkan kita membina keluarga bahagianya. Tetapi kalau kamu, sampai kapanpun akan selalu disisiku. Itulah mengapa aku memilihmu sekalipun aku sangat ingin memilih bayi kita juga. Aku lebih takut kehilanganmu”.

Keduanya saling berpelukan. Kulihat air mata membasahi pipi sioma. Tetapi bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Suka mereka lalui bersama. Duka mereka hadapi berdua. Tanpa mengeluh dan selalu setia.

Perjalananpun dilanjutkan kembali. Kali ini mereka berjalan cukup jauh sampai mereka berhenti disebuah pancuran air yang sangat memukau mata. Tiba-tiba siopa melepaskan genggaman tangannya dan berlutut. Inilah saat yang paling kutunggu dan inilah sebenarnya rahasia mereka mengapa bisa tetap mesra dan saling mencintai hingga seusia mereka.

“Maukah kamu menikah denganku sekali lagi?”, lamar siopa untuk kesekian kalinya sambil mengeluarkan sebuah cincin yang dirangkai dari bunga. Sioma tersipu merona merah. Bahkan diusianya yang sudah tidak muda, senyum manisnya tidak akan kalah dengan para model kelas atas dunia. Sioma mengangguk pelan. “I do…”, jawab  sioma.

Dipancuran inilah, disaksikan para bulan dan dibintang diangkasa, diorkestra para belalang dan serangga, siopa muda dulu melamar belahan jiwanya.

Tidak ada pernikahan mewah, hanya dihadiri keluarga dan sahabat pena, sioma muda menganti namaya dari nona Beatrice menjadi nyonya Jones mengikuti nama suaminya.

kisah mereka adalah kisah yang mungkin telah biasa, munkin terlalu sederhana dan mungkin tidak istimewa bagi dunia. Tetapi bagiku dan para penghuni duniaku kisah ini telah melegenda dan diceritakan jutaan kali pada telinga yang mendengarnya.

Malampun mulai larut, akupun harus pamit kembali keduniaku.

“Yang mulia baginda ratu, keretanya sudah menunggu…”, terdengar suara pengemudiku memberitahu. “Baiklah, tunggu sebentar ya, aku ingin memberi hadiah kecil pada kedua anak manusia disana”, jawabku sambil mengeluarkan tongkat sihir dari tasku.

“Belladox beautihoscolus…”, mantraku pada bunga-bunga dan pohon disekitarnya. Kupindahkan para awan yang menutupi bulan. Kuterangkan cahaya bintang. Kubangunkan para bunga dan pepohonan. Kuminta nyanyian para belalang dan kuminta para kunang-kunang mengitari mereka sambil membentuk tanda hati diseluruh taman.

“Wah…, indah sekali malam ini. Ini malam paling indah yang pernah kutemui”, kata sioma begitu terkesima dengan apa yang dilihatnya. Siopa hanya mencium pipi kekasihnya. “Mungkin ada ibu peri yang jatuh cinta padaku jadi dia memberi hadiah ini”, jawab diopa bercanda. Mereka berdua saling berangkulan sambil menikmati hadiah kecil pemberianku.

Sambil menaiki kereta kupu-kupuku, aku tertawa kecil mendengar jawaban diopa. Seandainya saja dia tahu bahwa aku memang jatuh cinta padanya, bukan hanya kepadanya, tetapi mereka berdua.

50 kali banyaknya aku menyaksikan kisah kenangan cinta mereka dan tidak sekalipun aku bosan. Dan 50 kali pula siopa melamar kekasihnya seperti malam ini setiap tahun. “Apakah baginda ratu akan datang lagi tahun depan?”, tanya pengemudiku. Aku tersenyum manis padanya. Iapun mengerti maksudku. Kamipun berlalu.

Seandainya kalian menyaksikan sebuah keajaiban kecil seperti yang dialami siopa dan oma, bisa saja itu hadiah kecil dariku. Aku dan peri kecilku adalah para peri dari dunia cinta yang hidup dari kisah cinta seperti siopa dan oma.

Jadi, sudahkah kamu mendapatkan hadiah kecilnya? Jika belum tunggulah dan jagalah cintamu pada pasanganmu dengan tulus dan setia hingga aku dan para peri kecilku kembali memberimu hadiah kecil seperti siopa dan oma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s