3 kali luka


Sebelum berdetak lebih pelan, kudengar suaraku sendiri berkata...

Dengan mata berkaca-kaca aku membaca kembali surat yang diatas meja kerjaku. Beberapa kali tetesan air mataku membasahi tulisan didalam surat itu. Sebuah surat dari kekasihku dan sebuah surat yang kutulis sebagai balasannya.

“Sayang, saat kamu membaca surat ini, aku ingin mengatakan betapa aku mencintaimu sekaligus meminta pengampunan darimu. Tiga kali aku telah membuatmu sangat terluka”.

“Luka pertama adalah aku menghilangkan KEPERCAYAANMU. Waktu itu, ketika kamu bertanya aku mau kemana dan bersama siapa, aku menjawab akan keluar dengan semua teman wanitaku jalan-jalan keluar kota. Mendengar jawabanku, kamu memelukku dengan hangat dan berkata, “Bersenang-senanglah, segarkan pikiranmu ya…”, tanpa bertanya lebih karena kamu percaya padaku. Aku begitu senang mendapatkan dirimu yang begitu perhatian. Sayang, aku telah menyalahgunakan kepercayaanmu”.

“Ketika aku pulang, kamu telah menungguku didepan rumahku sekedar melepas kangenmu. Kamu hanya tersenyum lembut padaku. Akupun berlari kecil memelukmu dengan erat. Aku merasa bersalah. Aku tidak berani mengatakan bahwa, aku keluar bersama teman pria juga wanita dan semua berpasangan, dan aku diminta berpasangan sementara dengan yang lainnya”.

“Luka kedua yang kuberikan padamu adalah MEMBOHONGIMU. Saat itu aku sedang bersemangat mendapat tawaran kerja dari seorang teman yaitu menjadi bagian salah satu staf dari perusahaan yang cukup terkemuka yang sedang mempromosikan produknya dimall. Aku mengiyakan tanpa bercerita kepadamu”.

“Memang kuakui aku tidak perlu bercerita padamu karena kamu pasti mengiyakan juga dan memang terbukti saat kamu mengetahuinya. Kamu bahkan lebih bersemangat dibanding aku yang menerima pekerjaan itu. Kamu juga menyakinkanku bahwa kerjanya pasti akan menyenangkan dan berkenalan dengan banyak teman baru”.

“berhari-hari telah berlalu dan aku sangat menikmati pekerjaan baruku. Aku berkenalan dengan banyak teman yang menarik, baik dari fisik dan juga materi. Dan untuk pertama kalinya aku menolak teleponmu selama tiga kali”.

“Tadi HPku aneh, tidak bunyi dan menolak panggilan sendiri…”.

“Itulah alasanku untuk menjelaskan padamu mengapa aku tidak menerima panggilanmu. Kamu hanya tersenyum, tetapi matamu terlihat sayu. Saat kutanya kenapa, kamu hanya bilang agak capek pulang dari kerja. Lalu kamu memberiku minuman penyegar dan sekotak kecil makanan kesukaanku”.

“Dan luka yang ketiga, aku telah BERMAIN HATI”.

“Karena keseringan bermain bersama dan keluar dengan mereka, aku mulai kehilangan jati diriku. Aku tahu aku mungkin terdengar seperti mencari alasan saja. Ketika kamu mengajakku keluar, aku beralasan aku tidak bisa karena sibuk dan sudah lelah. Ketika kamu bilang mau mengunjungiku aku kadang enggan mengiyakan. Dan ini terjadi hingga berbulan-bulan sampai kamu tidak mengajakku keluar lagi”.

“Aku begitu marah dan kecewa karena kamu tidak peduli lagi padaku. Lalu kutumpahkan semua kekecewaanku padamu. Tetapi, kamu hanya tersenyum, dan untuk pertama kalinya aku melihatmu menanggis. Ternyata, kamu telah mengetahui semuanya”.

“Luka pertama yang kuberikan padamu, ternyata saat kami menginap disalah satu penginapan, ada teman baikmu yang mengenalku. Dan dari dialah kamu mengetahui semuanya”.

“Luka kedua yang kutambahkan padamu, ternyata kamu ada disana. Kamu melihatku dengan jelas sengaja menolak panggilan HPmu dan aku sibuk berfoto ria dan bercanda dengan teman-temanku. Ternyata kamu sengaja datang mengunjungi hendak membuat kejutan dan saat itu kamu melihatku dari jauh”.

“Luka ketiga mungkin yang membuatmu paling terluka, dan aku sangat menyesalinya. Kamu ternyata tahu aku bermain hati dengan lainnya dan selama berbulan-bulan lamanya. Dan, kamu tetap diam tidak bertanya karena masih MEMPERCAYAIKU”.

“Sayang, aku benar-benar meminta maaf padamu. Aku telah menghilangkan kepercayaanmu. Aku telah berbohong padamu. Bahkan aku telah bermain hati dibelakangmu.”

“Sayang, sejujurnya aku menyadari betapa bodohnya aku menyia-nyiakan kamu yang telah lima tahun setia menemaniku. Hanya karena fisik yang lebih menarik, hanya karena materi yang lebik baik aku sampai hati membuatmu menanggis lirih. Air matamu membuatku sangat menyesalinya”.

“Kini, semua sudah terlambat. Aku telah menuangkan sebotol tinta hitam pekat kekertas putih cintamu. Aku benar-benar menyesalinya dan aku ingin memperbaikinya. Tetapi, kamu telah menghilang sejak saat itu”.

“Sayang, jika kamu telah menerima surat ini, aku tidak memintamu memaafkan semua kebodohanku. Karena kalau aku diposisimu aku juga tidak akan bisa memaafkanmu hanya mendengar kata-kata maaf dan janji semata. Tetapi, berilah aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku ingin membuktikannya sekalipun kamu tidak akan percaya. Untuk itu, kembali padaku. Aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu…, kembalilah padaku…”.

Aku akhirnya selesai membaca surat ini. Aku menutup mulutku agar tanggisku tidak terdengar oleh anak-anak yang tertidur lelap disofa kerjaku. Ya, aku memang telah mengetahui semuanya dari dulu dan aku berusaha tidak mempercayainya. Kepercayaan yang kuberikan. Kebohongan yang dibenarkan dan permainan hati yang dimainkan, aku mengetahuinya.

Aku tahu dia merindukanku dan aku juga berjuta-juta kali merindukannya. Tetapi aku tidak bisa bersamanya lagi dan ini bukan karena aku telah tidak percaya padanya, juga bukan karena aku telah menjadi sukarelawan pengasuh anak-anak yatim piatu jauh nan disana, tetapi karena kondisi tubuhku yang semakin melemah.

Setelah membaca surat kekasihku itu, akupun melanjutkan menulis surat balasanku yang tadi kudiamkan saja.

“Matahariku, maaf aku baru sekarang membalas suratmu. Aku menghilang dari hadapanmu bukan karena aku benci padamu. Ketahuilah, seberapapun luka yang kamu torehkan padaku, aku tidak sedikitpun memnbencimu. Mengapa? Karena cintaku berkali-kali lipat melebihi kebencian itu sendiri dan memakannya”.

“Aku memang mengakui betapa kecewanya aku saat mengetahui semuai itu. Tapi setelah mendengar cerita temanku bahwa kamu terlihat sangat berbahagia dengan mereka waktu keluar kota dan dipenginapan dulu, malamnya aku berpikir keras berdebat dengan pikiran dan hatiku. Dan akhirnya aku mendapatkan jawaban setelah aku melihatmu menjadi staf salah satu perusahaan terkemuka serta merangkap SPG waktu itu, kamu begitu bahagia berfoto dengan seorang pria sampai teleponku kamu tolak”.

“Ketika kamu melihatku menanggis saat kamu marah dan kecewa padaku mengapa tidak mengajakmu keluar lagi, percayalah, aku memang sangat terluka dan sekaligus berbahagia. Mengapa? Karena aku berhasil membuatmu memutuskanku”.

“Matahariku, untuk kesemilyar kalinya aku katakan padamu, aku tidak membencimu dan aku justru sangat dan sangat mencintaimu. Tetapi maafkan aku, aku tidak bisa bertemu denganmu. Bukan aku tidak mau, tapi aku sudah tidak bisa sekalipun dipaksa”.

“Matahariku sayang, jika surat ini telah tiba ditanganmu, penuhilah permintaan terakhirku. Jangan sia-siakan pria yang selama ini telah membuatmu bahagia yang tidak sepertiku yang selalu membuatmu kecewa. Surat ini aku sengaja kirimkan padamu melalui pos udara yang cukup lama sampainya. Dan ketika surat ini sampai, aku mungkin telah tiada. Terimakasih atas segala cintamu dan jagalah baik-baik dirimu disana dan kumohon jangan menyalahkan dirimu jika kamu mendapatkan kebenaran jahitan kecil ditubuhmu. Kamu adalah matahariku…”. Kuakhiri suratku.

Dengan tangan bergemetaran kumasukan suratku pada amplop dimeja kerjaku. Diatas amplop itu kutulis, “Untuk Virginia tersayang”, dan dibelakangnya kutulis,”Dari Mike yang terus mencintaimu”.

Aku berjalan pelan sambil memegangi dinding agar tidak terjatuh. Kondisi tubuhku telah mencapai puncaknya dan ini dimulai setelah kudonorkan salah satu ginjalku pada kekasihku. Sebelumnya dokter telah menjelaskan semuanya sebelum aku mengambil keputusan ini bahwa kondisiku kemungkinan akan memburuk. Tapi, demi wanita yang sangat kucintai aku rela melakukannya.

Sekedar informasi saja, Virginia mengalami gangguan ginjal yang cukup langka yang pada titik tertentu bisa merengut nyawanya, dan secara ajaibnya ginjalku justru yang paling cocok dengan kondisinya. Aku telah berkali-kali konsultasi kepada dokter yang menanganinya dan telah diberi nasehat agar mempertimbangkan keputusanku. Tetapi demi belahan hatiku, aku rela sekalipun bertukar nyawa. Itulah mengapa ada jahitan kecil berbentuk seperti hati ditubuhnya. Dokter bedahlah yang sengaja melakukannya karena terkesan dengan ketulusanku. Kekasihku terselamatkan dan pendonornya dirahasiakan.

Sekarang, dimalam dingin angin yang menusuk tulang, kumasukan suratku itu pada kotak pos didepan panti asuhan. Kupandangi bintang yang cemerlang, kupandangi bulan yang terang benderang. Kupandangi para kunang-kunang yang menemani malam. Lalu, penglihatanku terasa kabur. Aku mencoba duduk sebentar didekat kotak pos disitu. kugosok-gosokan kedua telapak tanganku agar terasa lebih hangat. “Dingin… sekali…”, suaraku terdengar sangat pelan.

Kemudian, aku merasa mulai mengantuk. Aku mencoba tetap terbangun, tapi rasa kantuknya sangat memberatkan kelopak mataku. Saat hendak tertidur, aku ajaibnya mendengar dengan sangat jelas suara detak jantungku.

Dug. Dug.

Dug… Dug…

Dug…, D…u…g…

Sebelum berdetak lebih pelan, kudengar suaraku sendiri berkata, “Aku sa…y…a…n…g…, k…a, ka…m….”.

Jantung berhenti berdetak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s