Malaikat dan pelangi


Kamu cantik sebagaimana dirimu dan kamu sempurna sebagaimana kamu bersama.

Suatu hari, disurga para malaikat berkumpul dan terlihat sibuk mendiskusikan sesuatu. Lalu seorang malaikat yang berpakaian biru berkata, “Seharusnya birulah yang paling indah, buktinya lautan dan  angkasa dihias biru semua”.

Mendengar hal itu malaikat yang berpakaian hijau menyahut, “Justru hijaulah yang lebih indah dan menyegarkan mata. Coba perhatikan semua pepohonan yang berwarna hijau, begitu meneduhkan bukan?”.

Dan, malaikat berpakaian warna lainpun tidak mau kalah dan saling berbangga dengan segala alasan dan kebenarannya.

Saat semua sedang berdebat, tiba-tiba datanglah seberkas cahaya yang sangat terang, lembut dan putih. Cahaya ini terasa hangat dan sama sekali tidak menyilaukan. Lalu terdengarlah suara yang sangat berwibawa sekaligus menentramkan.

“Wahai anakku, apa yang sedang kalian perdebatkan?”, tanya cahaya terang ini. Awalnya semua malaikat tidak berani bersuara. Mereka telah tahu bahwa cahaya ini telah mengetahui semuanya karena Dia Maha Tahu.

“Katakanlah pada-Ku apa yang menjadi debatmu, dan jangan takut”, lanjut sang Cahaya pelan-pelan menjelma menjadi sosok seperti para malaikat menyesuaikan keadaan yang ada.

Seorang malaikat berpakaian Biru maju kedepan dan berlutut, katanya, “Ampuni hamba tuanku, tapi kami semua sedang berdebat tentang siapakah yang mempunyai warna paling indah dan pantas mendapatkan julukan sempurna”.

Sang Cahaya hanya tersenyum mendengar perkataan malaikat berpakaian biru. “Jadi, apa yang hendak kalian Aku perbuat?”, tanya sang cahaya tersenyum lembut ramah. Lalu para malaikat tersebut pun menyampaikan keinginannya.

“Baiklah, sebelum Aku mengabulkan semua keinginanmu itu, alangkah baiknya kalian bisa memenuhi permintaan kecilku. Mulai sekarang kalian yang berpakaian warna yang sama mempunyai harinya tersendiri. Dan kamu semua yang berpakaian biru mendapatkan gilitan pertama”, jawab sang Cahaya dan berlalu.

Pada hari yang ditentukan dan seperti biasanya setelah hujan, para malaikat yang berpakaian warna birupun keluar dan berbaris membentuk pelangi. Tetapi kali ini hanya SATU WARNA dan berwarna BIRU saja.

Ketika itu ada seorang petani tua dan cucunya berteduh dipondok sederhana mereka, sang cucu yang melihat pelangi itu bingung dan bertanya pada kakeknya, “Kakek, pelangi apakah itu?”.

Sikakek melihat pelangi yang ditunjuk cucunya itu. Ia terdiam sebentar, katanya, “Maafkan kakek cucuku, tetapi sampai hari ini kakek juga baru pertama kali melihat pelangi seperti itu. Menurutmu bagus tidak?”, tanya sikakek. “Jelek, aku lebih suka warna Hijau”, jawab sicucu pendek.

Ketika para malaikat berpakaian warna biru ini pulang, terlihat kekecewaan diwajah mereka. Gelak tawa malaikat lain menyambut kepulangan mereka. Sang Cahaya yang melihat mereka hanya tersenyum. Lalu malaikat berpakaian hijau berseru, “Sekarang saatnya giliran kami”.

Tetapi sebelum para malaikat berpakaian hijau ini memamerkan dirinya, sang Cahaya berseru pada mereka, “Anakku, tempatmu bukanlah ditempat sibiru, kamu mempunyai tempatmu sendiri yang sudah kutentukan”. Para malaikat Hijau hanya tersenyum dan mengiyakan, mereka sangat percaya diri akan diterima dimana saja.

Dan seperti biasanya, ketika hujan mulai reda, kularlah para malaikat berpakaian hijau ini berbaris membentuk pelangi diangkasa. Kali ini juga satu warna dan ia berwarna HIJAU saja.

Ketika itu, ada seorang pemuda yang sedang berteduh disebuah rumah kosong. Saat pemuda ini melihat pelangi berwarna hijau ini, pemuda ini langsung marah-marah, katanya, “Seumur hidupku aku paling benci warna hijau. Karena warna itu mengingatkanku pada mantanku yang mencampakkanku. Dasar pelangi hijau bodoh”.

Sekali lagi, para malaikat ini pulang dengan wajah lesu. Kali ini tidak ada gelak tawa menyambut kepulangan mereka seperti para malaikat berpakaian biru sebelumnya. Para malaikat birupun tidak berani menertawakannya karena mereka sangat mengerti apa yang mereka rasakan didada.

“Jadi, giliran siapakah kini?”, tanya sang Cahaya tersenyum lembut. Kali ini semua menundukkan kepalanya. Mereka telah belajar dari dua pendahulunya dan mereka tidaklah bodoh mengulang sejarah yang sama.

“Baiklah, sekarang aku ingin kalian semua tujuh warna keluar bersama”, lanjut sang Cahaya. Semua malaikat hanya mengangguk setuju dan mengiyakan. Dan ketika hujan mulai reda, keluarlah mereka bersama-sama.

Ketika mereka berbaris sempurna, kebetulan sekali petani tua dan cucunya baru pulang dari ladangnya. Sicucu yang melihat pelangi itu berteriak gembira.

“Kakek, kakek, ada pelangi…, sini kek, cantik sekali lho…”, panggil sicucu sambil menarik tangan kakeknya. “Hohoho…, tapi bukankah disana ada warna biru dan kamukan bilang biru itu jelek”, tanya sikakek penuh arti.

“Iya kek, aku memang tidak suka biru, tapi ketika semua warna bersama seperti itu terlihat sangat indah sekali, malah kalau tidak ada warna biru justru jadi jelek”, jawab sicucu polos. Sang kakek hanya tertawa kecil mendengarnya.

Semua malaiakat yang mendengar perkataan sicucu terdiam. Mereka heran kenapa bisa begitu? tentu saja malaikat berpakaian birulah yang paling penasaran. Bukankah sicucu tidak menyukai biru? Dan sekarang sicucu mengatakan justru tidak ada biru akan menjadi jelek?

Belum habis kebingungan mereka, terlihat seorang pemuda pulang membawa motornya dibawah sana. Pemuda ini menghentikan motornya sebentar dan melihat pelangi diangkasa.

“Wah, indah sekali pelangi ini terutama warna hijau ditemani warna-warni lainnya. Harus kuabadikan nih”, kata pemuda ini sambil mengambil kameranya dari dalam tas.

Tahukah siapa pemuda ini? Tentu saja kalian tahu jika melihat para  wajah malaikat berpakaian hijau sedang menanggis bahagia. Ya, pemuda inilah yang tadi memarahi para malaikat berpakaian hijau sebelumnya, tetapi kali ini justru memujinya.

Ketika waktunya pulang, para malaikat ini pulang dengan kegembiraan. Semua saling memuji dan menceritakan apa yang mereka dengar dari para pengagum mereka didunia.

Lalu saat sedang berbaur bergembira, datanglah sang Cahaya dan duduk disinggasananya. Semua malaikat berlutut dengan wajah yang sangat puas dan bahagia. Mereka malah semua berbaris berdekatan membentuk warna-warni pelangi tidak seperti awalnya terpisah dan berkelompok.

“Indah sekali…”, decak kagum sang Cahaya melihat para malaikatnya.

“Jadi, apakah permintaan kalian yan sebelumnya perlu kukabulkan ataukah harus kubatalkan?”, tanya sang Cahaya tersenyum bangga. Semua malaikat saling berpandangan. Mereka saling membalas senyuman. Serentak mereka berkata, “Dibatalkan”.

Sang Cahaya tersenyum ramah. Ia bangga denga para malaikatnya yang telah MENGERTI apa yang dimaksudkan-Nya.

“Ingatlah anak-anakku, Aku tidak pernah menciptakan kamu lebih cantik daripada yang lainnya, tetapi aku menciptakan kalian semua SAMA CANTIKNYA“.

“Kecantikan yang TIDAK SAMA janganlah dijadikan PEMBEDA. Secantik-cantiknya dirimu bukan kamu yang MENILAINYA“.

“Cantik yang SESUNGGUHNYA adalah ketika kamu bisa BERBAUR dengan cantik yang berbeda. Cantik yang PALING INDAH adalah ketika kamu MENCANTIKKAN lainnya. Dan KECANTIKKAN YANG BERBEDA itulah yang membuat kalian SEMPURNA“.

“Ingatlah anakku, ketika kamu menyakini HANYA DIRIMU yang cantik, maka saat itu juga Aku menyakinkan diri-Ku kamu sudah TIDAK CANTIK. Kamu cantik SEBAGAIMANA DIRIMU dan kamu SEMPURNA sebagaimana kamu BERSAMA“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s