Batu dan bintang laut


Suatu malam Mike yang baru saja kehilangan pekerjaannya berjalan menenangkan dirinya ditepi pantai.

Wajahnya terlihat sangat bersedih. Sekali-kali ia menyeka air yang menetes dari matanya. Dalam kesedihannya itu, Mike melihat seorang wanita setengah baya sedang memunggut sesuatu dan membuangnya kelaut.

Karena penasaran Mike pun pergi menghampirinya. Saat melihat wanita ini, Mike merasa heran dengan apa yang dilakukannya. Wanita ini mengambil batu-batu kecil yang ada disana dan membuangnya kelaut, dan bukan hanya batu saja, bintang laut yang terbawa ombakpun dia ambil dan dikembalikan kelaut.

“Maafkan saya nyonya, namaku Mike”, sapa Mike ramah memperkenalkan dirinya. “Kalau saya boleh tahu, apa yang sedang nyonya lakukan dimalam buta dan udara dingin menusuk tulang begini?, lanjut Mike penasaran.

“Menurutmu apa yang sedang kulakukan?”, tanya wanita setengah baya ini kembali sambil tersenyum manis sekali.

“Maafkan aku nyonya, yang aku tahu anda sedang mengambil batu dan bintang laut mati dan membuangnya kembali kelaut…”, jawabku dengan suara agak pelan menebak dan takut menyinggungnya.

“Hohoho…, itukah yang terlihat oleh matamu dan dijawab logikamu?”, tanya wanita ini lagi sambil terus melakukan hal yang sama. Belum hilang rasa penasaranku, wanita ini melihat padaku.

“Anak muda, dari wajahmu aku bisa menebak bahwa kamu mempunyai masalah. Apakah aku benar?”, tebak wanita ini betul sekali.

“I…, iya…”, jawabku malu-malu. “Jadi…, apa masalahmu? Jika kamu mau aku bersedia meminjamkan telinga tuaku ini sebentar”, lanjut wanita ini memandangiku dalam-dalam dengan senyuman manis ramahnya. Aku menghela napas panjang.

“Beberapa minggu yang lalu aku baru saja kehilangan pekerjaanku karena tempat dimana aku bekerja bangkrut. Dan tadi siang, aku baru diputuskan oleh pacarku yang telah 3 tahun bersama…”, cerita Mike dengan wajah sendu tidak menyelesaikan kalimatnya.

Suasana senyap sejenak. Mike terbawa perasaannya. Wanita setengah baya inipun tidak berkata apa-apa memberiku waktu untuk menenangkan perasaanku.

“Anak muda, sekarang pilihlah dan ambillah batu-batu disini dan buanglah kelaut”, kata wanita ini memintaku. Aku hanya mengiyakan dan menurutinya sekalipun aku tidak mengerti maksudnya.

“Anak muda, anggaplah batu-batu ini adalah sebagai masalahmu. Apabila masalah yang kamu hadapi menurutmu besar, pilihlah batu yang besar. Begitu juga sebaliknya, apabila kecil, ambillah yang kecil, dan buanglah kelaut dengan segenap kekuatanmu”, jelas wanita setengah baya ini.

Akhirnya aku memahami maksud dari wanita setengah baya ini dan mengerti apa yang sedang dilakukannya. Akupun memilih batu yang cukup besar 2 buah dan beberapa batu kecil. Lalu aku buang sekuat tenaga kelaut.

Aneh rasanya tapi harus kuakui dengan membuang batu tersebut membuat hatiku sedikit lega. Lalu kulihat wanita ini dengan batu-batu yang dipunggutnya. Kecil-kecil dan berbentuk halus. Aku dalam hati menebak pasti masalahnya kecil, dan ia menatapku tajam seperti bisa membaca pikiranku.

“Anak muda, HIDUP adalah seperti pantai ini, dan MASALAH adalah batu-batu ini. Jika aku memintamu membuang semua batu yang ada dipantai ini apakah kamu bisa?”, tanya wanita ini dengan senyum penuh arti. Aku menggelengkan kepala menangkap maksudnya.

“Coba lihat batu-batu ini juga, ukurannya beraneka ragam. Ada yang kecil, ada yang besar. Dan sebanyak apapun batu-batu ini kamu kumpulkan dan dibuang kelaut, ia tidak akan pernah habis dan akan kembali dibawa ombak lagi”.

“Tadi kulihat kamu mengambil dua batu yang cukup besar, dan memang pada usiamu BATU hidupmu memang TERASA besar. Dan aku juga bisa menebak kamu pasti bertanya mengapa batuku kecil bukan? Ketahuilah, sebenarnya BATUku besar tapi aku tidak suka MEMANJAKANNYA jadi besar”.

“Sebulan yang lalu aku kehilangan suamiku dalam kecelakaan. Dan seminggu yang lalu aku divonis oleh dokter yang merawatku bahwa aku terkena kanker dan hidupku tinggal setahun lagi.  Apakah menurutmu aku harus memunggut batu yang besar? Jawabannya tergantung BAGAIMANA KAMU MELIHAT MASALAHMU“.

“Aku tidak mengatakan bahwa kamu tidak boleh membesarkan masalah, karena itu pilihanmu sendiri. Tetapi bagiku, tidak ada masalah yang besar ataupun kecil, masalah adalah TANTANGAN yang tertunda, dan yang menyedihkan adalah kebanyakkan orang MEREMEHKAN BATU KECIL dan MEMANJAKANNYA”.

“Lalu batu-batu kecil itu DITUMPUK dan biarkan disana. Lama-lama batu itu semakin banyak dan menggunung hingga suatu hari kamu membuka PINTU dimana batu itu ditumpuk dan telah MEMBESAR“.

“Ingatlah, TUMPUKAN BATU KECIL yang menggunung lebih menyakitkan daripada Sebongkah batu besar, karena setiap batu kecil mempunyai BENTUK yang berbeda, WARNA yang berbeda dan perlu penangganan yang berbeda pula”.

“Anak muda, sebelum kita berpisah, kamu pasti melihat aku mengambil bintang laut dan menggembalikan kelaut bukan?”, tanya wanita ini dengan senyuman yang manis sekali dan ramah. Ya, aku baru menyadarinya, aku tadi terlalu FOKUS pada batu-batu yang ada.

“Hohoho, sudah kuduga kamu kurang memperhatikannya”, katanya tertawa kecil. “Tidak apa-apa anak muda, aku juga melakukan hal yang sama ketika seuisiamu”, lanjutnya.

“Setiap bintang laut yang kutemukan dipantai ini akan kuambil dan kukembalikan kelaut. Beberapanya memang TERLIHAT sudah mati, tetapi beberapanya bahkan banyak yang justru hidup kembali. Dan bintang laut ini kuberi nama SOLUSI”.

“Sesungguhnya PANTAI tanpa BATU-BATU KECIL ataupun beberapa BATU BESAR juga terasa kurang indah, tetapi kebanyakkan juga merusak keindahannya. Dan yang terpenting, BATU-BATU itu ALAMI dan AKAN SELALU ADA, mereka adalah BAGIAN dari PANTAI dan kamu HARUS MENERIMANYA”.

“Aku yang telah kehilangan orang yang paling kucintai selama hidupku, aku yang divonis tinggal setahun lagi hidupku tidak pernah mengganggap itu BATU BESAR. Aku sudah tahu BATUKU adalah besar, tapi aku tidak ingin MEMBESARKANNYA lagi apalagi sampai MEMANJAKANNYA. Aku MENERIMANYA dan kuanggap sebagai batu kecil saja”.

“Anak muda, kamu selalu diberi BINTANG LAUT diantara batu-batu yang kamu temui. Pertanyaannya adalah apakah kamu yakin bintang laut itu sudah MATI ataukah justru akan HIDUP KEMBALI. Ironisnya, kebanyakkan “PERCAYA” bahwa bintang laut itu sudah mati dan tidak perlu diambil lagi dan ini dilakukannya setiap kali menemukan bintang laut yang ada. Lagipula bagaimana kamu tahu jika kamu belum MENCOBANYA bukan?!”.

Setelah mendengar jawaban wanita setengah baya ini, aku jadi malu pada diriku sendiri dan terharu. Aku mengira bahwa batuku sangat besar sehingga aku pantas memilih batu besar, ternyata batu wanita ini berkali-kali lebih besar dan dia tetap memilih batu yang kecil.

Sebelum berpisah, aku memeluk wanita ini dengan erat. Aku sangat berterimakasih padanya atas pelajaran yang sangat berharga pada malam ini. Kata-katanya sederhana tetapi melegakan perasaanku yang tidak kentara.

Ketika wanita ini dijemput putrinya yang datang dengan mobilnya, kamipun saling berpelukan sekali lagi dan berpisah. Sebelum wanita penuh pesona ini berlalu, ia melihat kearahku, “Batu apa yang akan kamu pilih kali ini?”, tanyanya tersenyum manis penuh arti. Aku membalas senyumannya.

“Tentu saja batu-batu kecil terutama BINTANG LAUT”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s