Teddy Bear


“Aku mau Teddy Bear itu”, pinta pacarku saat kuajak membeli hadiah ulang tahunnya disebuah mall dikota kecil kami. “Kamu suka boneka Teddy Bear ya?”, tanyaku tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkahnya yang gemesin.

“Bukan suka lagi, tapi sangat suka sekali”, jawabnya tersenyum manis sekali. “Belikan ya sebagai hadiah ulang tahunku. Please…”, lanjutnya sambil mengandeng tanganku dengan mata disayukan memelas seperti kucing dalam film animasi Shrek. Aku hanya mengecup keningnya sambil tersenyum manis.

Maya adalah wanita yang periang. Dengan postur tubuh kecil dan potongan rambut pendek sebahu. Bola matanya kehijauan seperti batu Emerald yang indah. Benar-benar wanita yang cantik deh.

Perkenalanku dengan Maya sebenarnya cukup konyol (setidaknya menurutku begitu). Saat itu aku dan teman baikku sedang mengadakan taruhan siapa yang lebih cepat bisa membuat wanita marah disebuah cafe biasa kami nongkrong, dan syaratnya adalah tidak boleh menggunakan kata-kata.

Kebetulan sekali saat itu Maya juga bersama teman-temannya kumpul disana. Dari semua temanku, semuanya sudah melakukan taruhan, kecuali aku. Dan Kevinlah pemegang trofi sementara bisa membuat wanita marah dalam 47 detik.

Dengan langkah mantap aku menghampiri Maya dan teman-temannya. Saat itu aku tidak tahu mana yang namanya Maya dan korbanku adalah wanita cantik berambut pirang yang duduk bersila memamerkan keindahan kakinya..

Tanpa basa-basi aku mengambil cangkir yang diatas meja mereka. Lalu kutuangkan air itu kekepala wanita cantik ini.

“Heiii…”, teriaknya mengundang telinga yang mendengar. “APA-APAAN INI?!!”, teriak wanita cantik ini merasa dipermalukan. Sejujurnya saat itu nyaliku sudah ciut jangan-jangan aku akan dihakimi massa.

“PLAK!”. Dan, “PLAK, PLAK!”. Tiga tamparan mendarat dipipiku. Dua dikanan satu dikiri, penamparnya tiga wanita cantik. Sambil menahan sakit aku kembali ketempat teman-temanku dengan mendapat acungan semua jempol yang ada. “Berapa detik?”, tanyaku sambil menggiris kesakitan. “30 detik tepat”, sahut teman-temanku bersamaan dengan mata berbinar-binar kagum.

Lalu bagaimana perkenalanku dengan Maya, dialah wanita keempat yang tidak menamparku tetapi justru tertawa. Dan konyolnya, Maya adalah adik Kevin sang juara sementara.

Konyolkan perkenalanku dengan Maya – jika tidak mau dibilang mengerikan, dia ternyata sudah tahu kami akan melakukan taruhan itu dari kakaknya dan karena tidak mau kalah dengan kakaknya, Maya bersama teman-temannya juga taruhan siapa yang menampar paling keras pipiku. Dan semuanya keras.

Setelah kejadian itu, aku dan Maya menjadi cukup akrab. Teman-temannya juga menemuiku dan meminta maaf. Aku hanya bisa berkata tidak apa-apa dengan pasrah. Kemenangan yang tidak bisa dibanggakan.

Lalu bagaimana kami bisa jadian? Sederhana saja, karena dekat dan merasa cocok. Yup, itu saja. Tidak ada yang istimewa. Aku mengutarakan perasaanku saat pulang mengantarnya dan dia membalasku dengan sebuah kecupan dipipi dengan mesra.

“Mike, minggu ini aku akan berangkat keluar kota bersama teman-temanku liburan. Mungkin kami agak lama disana. Kira-kira sebulanlah. Apa kamu akan baik-baik saja tanpaku?”, tanya Maya sambil mengodaku.

“Jangankan sebulan, setahun akupun akan baik-baik saja tanpamu”, godaku kembali. “Iihhh, jadi kamu tidak kangen aku nanti?”, jawabnnya dengan suara gemesin dan sedikit ngambek. Aku tersenyum melihatnya. Kupeluk erat dirinya. “Jika aku jujur padamu, nanti kamu malah tidak bisa pergi”, jawabku sambil mencium keningnnya.

“Kalau begitu apa jawaban jujurmu?”, tanya Maya dengan mata memelas memakai trik terhebatnya. Aku hanya tertawa kecil. “Tidak bertemu denganmu sehari saja sudah membuatku linglung apalagi sebulan lamannya. Sekarang saja mendengar kamu ingin keluar kota sudah mulai membuat mataku basah”, jawabku dengan mata sedikit berkaca-kaca. “Aa~ahh… sayang…”, peluknya.

Tidak terasa seminggu telah berlalu Maya bersama temannya keluar kota. Aku juga menikmati waktuku bersama teman-temanku. Dan ketika malam tiba aku akan dengan hati berbunga-bunga menunggu dering HPku. Setelah itu kami saling sambil melepas rindu.

Suatu hari diminggu pagi, Felicia menghubungiku. Felicia adalah wanita cantik yang “kupermalukan” dicafe ketika kami taruhan dulu. “Mike, bisa temanin aku belanja sebentar?”, tanyanya ramah. Karena tidak ada kerjaan, aku iyakan saja.

Felicia ternyata orangnya supel sekali. Siapa saja bisa diajaknya berteman, dan semua yang kenal padanya pasti akan mengatakan bahwa Felicia tidak hanya cantik fisiknya, tetapi juga hatinya. Aku benar-benar enjoy keluar bersamanya. Bahkan aku beberapa kali tertawa kecil melihat para pria lain melirik aku dengan mata iri.

Ternyata pertemananku dengan Felicia membuat waktu berjalan cepat. Tidak terasa hitungan bulan sudah tiba. Karena aku sudah kangen pada malaikatku yang akan segera pulang dari luar kota besoknya, aku meminta Felicia menemaniku mencari boneka.

Setiap toko kumasuki mencari boneka yang kuinginkan, dan akhirnya aku menemukannya disebuah toko yang justru tidak terlihat menjanjikan. Kubeli boneka itu lalu kubawa pada toko elektronik temanku untuk “dioperasi” menjadi seperti keinginanku.

Hanya dalam hitungan satu jam boneka itu selesai “Dioperasi”. Setelah selesai, aku pamit dan berterimakasih pada Felicia yang telah sabar menemaniku. Lalu  kuserahkan boneka yang tadi “dioperasi” padanya sambil berbisik kecil ditelinganya. Felicia hanya tertawa kecil dan sebelum berpisah dia mengecup pipiku. “Kamu adalah pria paling romantis yang pernah kutemui”, katanya tersenyum manis sambil berlalu meninggalkanku.

Ketika Felicia hilang dari pandanganku, akupun membalikan tubuhku hendak pulang, dan mataku hampir tidak percaya melihat seorang wanita yang sedang berdiri dihadapanku. Ya, wanita ini adalah Maya yang seharusnya pulang besoknya.

“Ma…, Maya…?”, kataku pelan masih kurang percaya. Wanita yang sangat kurindukan ini berdiri dihadapanku. Lalu aku langsung berjalan dan memeluknya.

“Plak!”, sebuah tamparan cukup keras mendarat dipipiku. Aku sangat bingung yang dengan yang barusan terjadi. Belum sempat aku bertanya, Maya berkata padaku dengan mata berkaca-kaca. “Teganya kamu Mike…”.

Aku hanya mematung bingung dengan kejadian yang barusan terjadi. Apa maksud Maya berkata seperti itu? Belum sempat aku mencari jawaban dikepalaku, kulihat Maya berlari menanggis meninggalkanku. Aku tahu dia sangat terluka. Kuperintahkan kakiku untuk mengejarnya.

Karena terbawa emosi, Maya berlari dan menyebrang tanpa melihat arah kanan dan kiri. Saat itu lampu sedang merah bagi pejalan kaki. “Tiiittttt…, titttt…”, bunyi klakson menyadarkan Maya. Aku yang sudah sangat dekat dengannya langsung melompat untuk menarik tangannya. Dan, “Brakkk….”.

Terdengar suara sirene ambulan menyadarkanku. Aku berusaha bangun dan, “Aduuhhh…”, teriakku kecil kesakitan. Kupegang kepalaku dan berdarah. Ditengah jalan kulihat orang-orang ramai mulai berkerumunan membantu seseorang yang sepertinya tertabrak.

Sepertinya? “Ya Tuhan…”, teriakku. Aku baru sadar bahwa tadi Maya menyebrang dan aku melompat berusaha menarik tangannya. Ketika aku coba berdiri, kakiku terasa sakit sekali. Tapi aku sudah tidak peduli, aku sangat kuatir dengan Maya.

“Maya…, Maya…”, aku berteriak sekencang-kencangnya memanggilnya. Tetapi tidak ada jawaban, bahkan kerumunan orang-orang yang ramai disanapun tidak menggubrisku. Mereka terlalu sibuk menolong.

Ketika aku mencoba mendekati mobil ambulan itu dan ingin memastikan bahwa yang sedang digotong mereka bukanlah Maya, aku langsung terjatuh terduduk melihat Maya didepanku bersama beberapa petugas medik. Maya tidak apa-apa. “Terimakasih Tuhan…”, kataku kecil sambil menanggis.

Saat hendak kupanggil Maya, ternyata Maya ikut masuk kemobil ambulan itu dan langsung pergi meninggalkan lokasi kejadian. Aku bingung, kenapa dia tidak mencariku? Tanyaku dalam hati. Lalu terdengar suara dari belakangku. “Tuan Mike, mari saya antar anda kerumah sakit”, kata seorang pria setengah baya dengan senyuman yang ramah.

“Anda siapa?”, tanyaku bingung ketika dia mengantarku dengan mobil yang dibawanya. Pria yang menawarkan diri mengantarku kerumah sakit ini berumur sekitar 50an. Bertubuh sedikit gemuk dan dihiasi topi model dalam film koboi warna coklat. Pria ini melihat kearahku dan tersenyum. “Anda nanti akan tahu tuan Mike”, jawabnya singkat.

Dalam perjalanan kerumah sakit, aku mempunyai segudang pertanyaan dikepalaku yang ingin kutanyakan pada pria baik dan ramah ini. Baik? Ramah? Kok aku bisa tahu, padahal aku baru mengenalnya hari ini, bahkan belum sampai satu jam. Tetapi entah kenapa aku tidak merasa curiga sama sekali padanya.

Dan yang paling mengejutkanku adalah, dia tahu namaku. Tetapi mengapa aku sendiri tidak  penasaran dengannya? Aku tidak tahu. Bahkan aku tidak mau tahu. Yang aku ingin tahu adalah aku harus mengejar Maya dulu.

Sesampainya dirumah sakit, aku langsung turun dan berlari kedalam mengejar Maya. Tetapi kakiku terasa sakit sekali. Ketika aku kehilangan keseimbangan dan hendak jatuh, pria setengah baya ini menangkapku dan membantuku berdiri.

“Terimakasih tuan…”, kataku menahan sakit. Pria ini hanya tersenyum. “Mari kita masuk”, jawabnya singkat.

Suasana rumah sakit terlihat ramai sekali. Dan ini untuk pertama kalinya aku datang kerumah sakit sejak dari kecil. Mataku sibuk mencari Maya. Aku berjalan terpincang-pincang ketengah ruangan. Tiba-tiba sebuah tepukkan ringan mendarat dibahuku. Kulihat siapa yang menepukku dan ternyata pria yang membawaku. Dia menunjuk kesebuah kursi memintaku untuk melihatnya.

“Ma…y…”, belum sempat aku memanggilnya, pria ini memintaku agar diam. Ajaibnya, aku langsung diam. Dan, seseorang melewatiku sambil berlari kecil dari belakangku. Lebih tepatnya, menembus tubuhku.

Kuraba tubuhku, tidak tembus. Lalu kulihat wanita tadi yang berlari menembusi aku. Rambut panjang pirang dan membawa boneka, boneka yang tidak mungkin kulupa karena boneka inilah yang tadi kutitipkan padanya. Itu Felicia.

Aku semakin bingung. Aku melihat pria yang masih berdiri dibelakangku. Aku ingin bertanya, banyak sekali pertanyaan, tetapi aku tidak tahu bagaimana memulainya. Dia hanya menganggukkan kepala melihatku dan memintaku agar tetap focus pada Maya dan Felicia seakan mengatakan sesuatu.

Kulihat Maya terus menanggis dikursi tunggu para tamu. Feliciapun menanggis sambil memeluknya. Berkali-kali kulihat Maya berontak seperti hendak menjadi gila. Maya berteriak-teriak seperti terjadi sesuatu yang sangat mengerikan, tetapi teriakkannya tidak terdengar.

Kulihat juga bibirnya berdarah-darah. Rambutnya acak-acakan. Aku tidak tahan lagi dengan pemandangan seperti itu dan akupun berjalan menghampirinya.

Belum sempat aku sampai kesana, dari ruang darurat keluar seorang dokter bersama para perawat. Maya yang melihatnya langsung melompat padanya. “A…, A…, Apakah dia baik-baik dokter? Apakah dia selamat? An…, anda harus menolongnya dok, kumohon…, aku mohon…”, teriak Maya semakin mirip orang kehilangan warasnya. Dokter hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.

“Ti…,Tidakk…, Ti…, tidak mung…kin…”, lanjut Maya pelan. “Anda sedang bercanda kan dok…?, I…, ini pasti mimpi…, ini mimpikan Felicia, tampar aku Felicia…, bangunkan aku dari mimpi buruk ini…, cepat tampar aku!!!”, teriak Maya sambil mengambil tangan Felicia agar memukulnya.

“TIDAKKK….!!!”, Maya langsung histeris. Felicia memeluknya sambil memaksanya duduk, dan terjatuh. “Tidakkk…, ini bohong…, ini bohongkan…”, tanggis Maya sambil menanggis berontak. Kulihat para perawat juga berusaha menenangkannya.

Aku berjalan pelan sekali mendekati Maya. Mengapa Maya menanggis seperti itu? Mengapa Felicia juga menanggis? Siapakah yang mereka tanggisi. Aku berjalan dan berjalan pelan. Dan aku baru tersadar, kakiku tidak sakit lagi. Tapi aku tidak peduli, aku ingin ketempat Maya dan memeluknya.

Ketika aku sampai didepannya, Maya berdiri dibantu Felicia dan para perawat. Lalu mereka berjalan meninggalkankanku menuju kesebuah ruangan. “Ma…, Maya…?”, panggilku pelan. Maya menoleh mendengar panggilanku. Matanya bengkak penuh air mata. Bibirnya masih berdarah. Lalu dia membelakangiku.

Aku terdiam membisu. Aku tidak percaya, benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat dengan mataku. Didepanku terbaring seorang pria yang sangat kukenal sekali. Usianya sekitar 30an. Tingginya pas 177cm. Seorang karyawan pada sebuah perusahaan kecil dikotaku.

Pria ini tadi siang baru membeli sebuah boneka bersama teman wanitanya. Pria ini juga sedang menantikan kepulangan kekasihnya. Mengapa aku begitu mengenal pria ini? Karena pria ini adalah aku. Dan ya, aku yang berdiri sekarang bukanlah tubuhku. Tubuhku adalah pria yang sedang terbaring disitu dan sudah tidak bernyawa.

“Sepertinya anda sudah menyadarinya…”, kata suara yang sudah tidak asing ditelingaku. Aku membalikkan tubuh lalu kutarik bajunya. “Mengapa? Mengapa harus aku…?”, tanyaku dengan linangan air mata diwajahku. Lalu aku terjatuh berlutut tidak mampu menerima kenyataan yang ada.

“Sesungguhnya, ketika anda melompat pada waktu itu, anda telah…”, jawab pria ini tidak menyelesaikan kalimatnya. Ya, aku sudah tahu juga. Tetapi kenapa aku harus berpisah dengan cara begini dan juga melihat penderitaan Maya. Dan seperti bisa membaca pikiranku, pria ini melanjutkan perkataannya.

“Apa yang terjadi padamu diluar kehendakku. Tugasku adalah menjemputmu tuan Mike. Kadang, apa yang dilihat manusia sebagai bencana tidaklah sama dengan yang dilihat DIA. Dan kadang, apa yang manusia sebut sebagai perpisahan, bagi-Nya adalah rencana permulaan yang baru”.

“Tetapi bukankah ini sangat berat? Coba kamu lihat bagaimana Maya menanggis, bukankah itu cobaan yang terlalu berat baginya? Apalagi aku, aku harus…, didepan matanya…, aku…, aku…”, aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku.

“Tuan Mike, jika anda mengatakan ini terlalu berat baginya, anda akan memilih hari ini sambil bersujud memohon menanggis kepada-Nya jika anda mengetahui apa yang akan anda hadapi seandainya jika hari ini aku tidak menjemputmu”.

Aku bingung dengan jawaban pria setengah baya ini. Aku begitu marah padanya, tetapi aku juga tidak bisa melawannya. Dia adalah malaikat yang datang menjemputku. Dia adalah malaikat maut yang diutus dari surga. Dan bagaimana mungkin aku melawannya?

“Sa…, sayang…”, kata Felicia membuka pembicaraan setelah Maya agak tenang. “Hari ini…, aku menemani Mike berbelanja, boneka ini…”, dan, “Plak!”, sebuah tamparan yang keras mendarat dipipi Felicia.

“Te…, teganya kamu merebut Mikeku…, bahkan boneka kesukaanku kamu minta…”, teriak Maya kembali histeris. Felicia hanya terdiam. Lalu dia berjalan pelan mengambil boneka yang terjatuh dari tangannya. “Aku tahu bahwa kamu suka dengan Mike, tapi teganya kamu mengambilnya selagi aku tidak ada…”, lanjut Maya kembali menanggis.

“Tahukah kamu mengapa aku pulang lebih awal? Aku mendapatkan kabar jika aku tidak segera pulang, Mike akan berpaling padamu. Dan, ternyata benar, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bahkan kamu mengecupnya…”, kata Maya sambil mengigit bibirnya yang telah terluka.

Aku sebenarnya ingin melerai mereka, tapi, tapi aku telah…

“Sayang…, aku memang menyukai Mike sepertimu. Tetapi, sejak awal dia memilihmu, aku telah kehilangan kesempatan itu. Aku tahu kamu pasti menyalahkanku atas semua yang terjadi, tetapi, janganlah menyalahkan Mike, karena dia sangat mencintaimu…”.

“Aku tidak akan menjelaskan apapun padamu, karena kamu pasti tidak akan mendengarnya. Boneka ini Mike persiapkan untukmu. Peluklah sebentar, setelah itu kamu boleh memukulku sepuasmu…”, kata Felicia sambil memberikan boneka itu.

Aku menutup mulutku. Ya, aku masih sangat jelas mengingatnya, boneka itu aku sengaja persiapkan untuk Maya ketika besok dia pulang dari luar kota. Tetapi, ternyata takdir berkata lain. Pelan-pelan kulihat Maya mengambil boneka itu walaupun bingung. Felicia hanya tersenyum mengangguk memberi tanda. Lalu Maya memeluk boneka Teddy Bear besar itu. Dan,

“Ma~ya…, I Love You…, I Love You…”.

Ya, itu rekaman suaraku yang kuisi pada sebuah perekam dan dimasukan pada boneka Teddy Bear kesukaan Maya. Maya lalu memeluk lagi boneka Teddy Bear itu.

“Ma~ya…, I Love You…, I Love You…”.

Dipeluknya lagi,

“Ma~ya…, I Love You…, I Love You…”.

Dan dipeluknya sekali lagi dengan air mata yang hampir kering.

“Ma~ya…, I Love You…, I Love You…”.

“FOREVER…”.

“Oma Maya…”, terdengar suara-suara ceria memanggilku disertai suara langkah kaki kecil berlari kearahku. “Halooo…, apa kabarnya kalian?”, Tanyaku sambil mencubit kecil gemas pipi malaikat-malaikat kecil ini. “Oma Maya…, cerita lagi dong tentang opa Teddy Bear…, aku bawa teman-temanku nih, mereka pengen mendengarnya juga”, pinta Gladine cucuku yang paling besar. Mereka semua adalah anak dari putri angkatku.

Ya, semenjak Mike meninggalkannku dalam kecelakaan itu, aku membulatkan tekadku tidak akan menikah selain dengan Mike belahan hatiku.

Aku tidak peduli apakah aku akan dicap bodoh ataupun kata-kata lainnya, tapi inilah keputusanku dan aku bahagia menjalaninya. Awalnya memang tidaklah semudah yang dikatakan, tetapi “Mike”selalu disisiku menemani kesepianku. Dan “Mike” sangat tahu apa yang akan dikatakannya jika aku menanggis dan memeluknya. Dia akan menjawab, “Ma~ya…, I Love You…, I Love You…”.

Telah 50 tahun “Mike” siTeddy Bear menemaniku. Dan aku menghabiskan sisa hidupku dengan membantu dipanti asuhan dan panti jompo. Dari sanalah aku mengadopsi anak-anak yatim piatu dan kuperlakukan sebagaimana seperti anak kandungku.

Usiaku telah mendekati 77, anak-anakku dan cucuku tiap akhir bulan pasti datang mengunjungiku. Dan setiap kunjungan mereka, cucu-cucu manisku selalu memintaku cerita tentang opa mereka sewaktu masih muda. Aku benar-benar bahagia memiliki mereka semua, dan bahagia itu kurasakan berpuluh-puluh tahun lamanya.

Setelah menghabiskan malam yang luar biasa indah, akupun ditinggal sebentar oleh cucuku yang dibawa ayah-ibu mereka menidurkannya. Ketika aku hendak meletakkan kacamataku diatas meja kecil yang disampingku, aku melihat seorang pria yang sangat tampan sekali berdiri didepanku.

Bola mata biru. Tinggi 177. Pria yang selalu kurindu. Dan dia yang memberiku kata I Love You.

Aku tidak mampu menahan air mata dari mata tuaku yang mulai kabur. Tetapi sekabur apapun mataku, pria ini terlihat jelas sekali dihadapanku. Lalu dia mendekatiku. Memelukku. Mencium keningku. Kemudian dia membisikkan kata yang selama 50 tahun aku tidak pernah bosan mendengarnya.

“Ma~ya…, I Love You…, I Love You…”.

Lalu dia mengenggam tanganku. “Maafkan aku sayang, baru sekarang aku bisa menjemputmu…”, katanya pelan dan tersenyum manis sekali. Air mataku semakin menjadi, kulompat dan kupeluk pria ini. Aku menanggis sekeras-kerasnya. Aku menanggis sangat bahagia.

Ketika aku sedang berbahagia dalam pelukan pria yang sangat kucintai ini, kulihat anak-anakku masuk. Aku ingin memanggil mereka dan memperkenalkan opa mereka ini yang selalu kuceritakan dalam cerita pada cucu-cucuku. Tetapi mereka berlari dan menembus tubuhku.

“Ma…, mama…?”, kata Angelica putri pertamaku mencoba membangunkanku. “Mama…”, lanjut putri keduaku Jasmine memanggilku. Tetapi aku tidak menjawab. Aku berdiri tepat dibelakang mereka sambil melihat diriku sendiri duduk dikursi malas biasa aku membaca.

Aku yang duduk disitu terlihat “tertidur” dengan senyuman yang puas dan manis sekali. Aku tahu apa yang sedang kulihat dan aku tahu apa artinya. Lalu pria yang kucintai ini menggenggam tanganku erat dan merangkulku.

“Ma…”, tiba-tiba putri pertamaku memelukku dan merapikan syal serta baju tidur yang kupakai.  “Ma…, selamat jalan ya ma…, pasti mama sekarang telah bertemu papa disana…”, kata Angelica dengan suara parau dan terputus-putus. “Kami sangat bahagia punya mama sepertimu, kami bangga memilikimu. Kami yang tidak punya mama sedari kecil sangat beruntung diberi kesempatan bisa mempunyai mama sepertimu…, terimakasih mama…, terimakas…ih…”.

Aku menutup mulutku tidak mampu menahan tanggis haruku. Aku berlutut dan kupeluk mereka. Tapi tanganku menembus tubuh mereka. “Harusnya mama yang berterimakasih pada kalian. Kalian telah menjadi malaikat dalam kehidupan mama selama ini…, mama sangat sayang kalian…”, jawabku menanggis sangat bahagia.

Akhirnya, perpisahan pun harus dilakukan. Pria yang sangat kucintai ini memelukku. “Sudah saatnya kita pergi sayang…”, katanya sambil mengecup pipiku. Aku berdiri dan menggenggam tangannya dengan erat. Kulihat kedua putriku memelukku sambil menanggis. Sebelum aku pergi bersama terang yang menjemput kami, tiba-tiba kedua putriku membalikan tubuhnya dan melihat kearah kami.

“Mama…, selamat jalan…, Papa…, jaga mama ya disana…, kami selalu mencintaimu…”, kata Angelica sambil melambaikan tangannya bersama Jasmine.

Apakah mereka melihat kami? Aku tidak tahu. Yang aku tahu aku begitu bahagia, bahkan sangat bahagia bisa memiliki mereka. Awalnya kukira aku akan berpisah dengan mereka dengan sangat menyedihkan seperti aku kehilangan pria disampingku sekarang ini, ternyata justru yang kualami begitu membahagiakan sekali.

Terang yang menyelimuti kami pun pelan-pelan membawa kami keatas. Pria disampingku ini memelukku dan berkata, “Kamu memiliki putri-putri yang sangat manis. Cantik dan baik sepertimu”. Aku tertawa kecil mendengar perkatannya. Kucium pipinya, “Mereka bukan anak-anakku, tetapi anak-anak kita”, jawabku mesra dan kupeluk erat tubuhnya.

“Lho, kok tidak ada suara?”, tanyaku pada pria ini sambil kupeluk lagi. Pria ini tertawa kecil. “Kamu peluk kurang erat dan mesra sih…, coba peluk lagi”, goda pria ini dengan senyumannya yang khas. Akupun memeluk lagi dan dengan sangat mesra. Lalu terdengar suara yang sangat kurindukan.

“Ma~ya…, I Love You…, I Love You…”.

“Forever…”.

One thought on “Teddy Bear

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s