Malaikat kecil yang kumal


"Terimakasih Tuhan Engkau menasehatiku dengan cara yang begitu indah".

Hari ini, apakah karena rekan kerja yang tidak menyenangkan, apakah pekerjaan yang selalu melelahkan, apakah penghasilan yang tidak membanggakan, apakah pasangan yang tidak berperasaan, apakah anak-anak yang nakalnya keterlaluan, apakah karena sahabat yang menyedihkan, dan apakah-apakah lainnya yang menyebalkan.

Dengan wajah yang dibuat sedemikian rupa supaya menarik simpati yang melihatnya, aku meminta ijin pada dunia untuk mengeluh mengasihani diriku mengapa dunia begitu tidak adil padaku.

Tetapi, belum sempat aku berkata sepatah-katapun, aku dikejutkan oleh suara seorang gadis kecil yang tiba-tiba hadir dihadapanku dan bertanya dengan suaranya yang ramah, “Tuan tidak apa-apa? Tuan kelihatannya kurang sehat”.

Awalnya aku tersentil emosiku. Aku merasa mendapatkan korban untuk pelampiasan ketidakadilan dunia padaku, apalagi ini seorang anak gadis kecil, pasti mudah untuk melakukannya.

“Tuan, ini ada bakpao sisa sedikit yang aku simpan tadi pagi. Tuan boleh mengambilnya, sepertinya tuan sakit dan lebih memerlukannya…”, lanjut gadis kecil ini sambil memberikanku sebuah bakpao sisa yang dibungkus rapi pada sebuah plastik.

Aku terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Pikiranku menjadi hampa. Aku yang secara sengaja ingin mencari korban melampiaskan amarahku atas ketidakadilan dunia ini dan ketidakpedulian sesama justru mendapatkan seseorang yang datang peduli padaku?

“Hup…, aku duduk sebentar ya tuan…”, kata gadis kecil ini melompat keatas bangku dimana aku sedang duduk. “Hi~hi…”, ia tertawa kecil memandangiku dan terlihat manis sekali. Entah kenapa melihatnya yang tertawa seperti itu amarahku hilang seketika.

“Nih tuan…, kita bagi dua aja bakpao ini. Tuan pasti merasa tidak enak kalau tuan sendiri yang makan bukan? Makanya tuan tidak mengambil bakpaoku…”, kata gadis kecil ini sambil memberikanku setengah sisa bakpaonya. Aku antara sadar dan tidak mengambil bakpao itu.

“Hmm~mm…, enak sekali…”, gumam gadis kecil ini begitu menikmati bakpao dalam mulutnya. “Ayo cicipi dong tuan, enak lho…”, lanjutnya sambil tersenyum manis sekali. Akupun mencoba bakpao itu. Dan rasanya, aku tidak berani memuntahkannya.

“Enakan tuan, walaupun sedikit keras…”, tanya gadis kecil ini tetap menikmati bakpaonya. Tiba-tiba aku merasakan ada cairan hangat membasahi pipiku. Aku melihat keangkasa, langit sedang cerah. Lalu kenapa pipiku wajah? Ternyata mataku mengeluarkan air mata.

“Mengapa tuan menanggis? Bakpaoku kurang enak ya? Atau bakpaoku yang kurang?”, tanya gadis kecil ini sambil berdiri mengelap air mataku dengan sehelai kain bekas putih bersih yang dikeluarkan dari sakunya. “Maaf ya tuan, bakpaoku memang agak keras…”, lanjutnya dengan mata sayu seperti menyesal telah membuatku menanggis.

“Ti…, tidak sayang, bakpao ini sangat enak, malah sangat enak…, paman menanggis karena baru kali paman memakan bakpao yang enak sekali…”, kataku pelan sambil menyibak rambutnya yang kusut. Kali ini aku tidak mengada-ada mengatakan bakpaonya enak, karena bakpao yang kumakan walaupun sama tetapi rasanya telah berbeda.

Aku sendiri tidak tahu mengapa bakpaonya menjadi lebih enak, apakah karena bumbu yang ditambahkan dengan senyuman manisnya, ataupun bumbu karena ketulusan hatinya. Aku terus mengunyah dengan perasaan sangat lega.

“Apa yang kamu lakukan disiang hari begini…?”, tanyaku sambil tersenyum. Jika bisa berkaca aku yakin ini adalah senyumku yang paling indah selama hidupku. “Apakah kamu tidak sekolah?”, lanjutku sambil meminta duduk dipangkuanku.

“Tidak tuan, aku tidak sekolah. Mamaku sebenarnya ingin menyekolahkanku dan adikku. Tetapi uangnya tidak cukup, jadi aku meminta pada mamaku agar menyekolahkan adikku saja. Dan setelah pulang sekolah aku yang meminta adikku mengajar aku. Sekarang aku baru selesai membantu menjual bakpao buatan mama, hehehe…”, jawabnya polos sambil terus menikmati bakpaonya.

“Lho, kenapa bukan kamu yang sekolah dan mengajarkan adikmu?”, tanyaku bingung. “Hehe…, aku tidak pandai membaca tuan, lagipula aku lebih suka adikku yang sekolah sehingga dia bisa punya banyak teman. Aku sudah sangat senang melihatnya pulang sambil tertawa bersama teman-temannya”, jawabnya dengan mata berbinar-binar.

Kali ini, aku sudah tidak mampu menahan air mataku lagi. Kali ini aku sadar aku sedang menanggis dan kali ini hatiku terasa sangat perih sekaligus bangga sekali.

Aku merasa perih karena aku begitu tidak bisa mensyukuri apa yang selama ini telah kumiliki, dan aku bangga sekali karena malaikat kecil ini begitu tulus hati.

“Oya tuan, tadi kulihat tuan menanggis, apakah ada yang membuat tuan sedih?”, tanyanya sambil melompat membalikkan tubuh kecilnya. Lalu dia memegang wajahku dengan kedua tangannya sambil memandangiku dalam-dalam. Damai sekali rasanya.

Kupeluk gadis kecil ini dengan penuh sayang.

“Tidak sayang, paman tidak menanggis karena sedih, paman menanggis karena bahagia. Dan paman sangat bahagia bisa bertemu kamu malaikat kecil yang begitu baik dan cantik disini…”, jawabku pelan.

“Oya, namamu siapa?”, tanyaku sambil mengendongnya dan kuangkat tinggi-tinggi. “Hahaha…”, gadis ini tertawa kecil. “Namaku Angel tuan, hahaha…, tinggi…, tinggi…, aku superman…”, teriaknya begitu menikmati.

“Panggil papa Mike saja…”, kataku sambil mengecup keningnya. “Sekarang kita kesekolahmu ya…”, kataku sambil mengendongnya. Dia melihatku dengan bola mata birunya yang sebiru indah angkasa. “Ada apa kita kesana tuan?”, tanyanya penasaran. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang gemesin.

“Kan udah paman bilang panggil paman dengan nama papa Mike…”, kataku sambil mencubit kecil hidungnya. “Kamu maukan besok pergi kesekolah bersama adikmu….”, tanyaku tersenyum lebar. “Mau banget tuan…, maksudku papa Mike…, jadi aku bisa sekolah ya? Tapi bagaimana dengan uang sekolahnya? Mama tidak punya uang…”, tanyanya bingung sendiri. Aku tertawa kecil melihatnya.

“Kalau itu biar papa Mike yang urus, Angel hanya perlu sekolah yang rajin dan jaga adik Angel ya”. Jawabku sambil memeluknya dan mengelitiknya kecil. “Hahaha…”, Angel tertawa. Lalu dia memelukku dengan erat. “Terimakasih papa Mike, terimakasih banyak…”, jawabnya dengan mata berkaca-kaca. Kamipun berlalu dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan lagi dengan kata-kata.

Aku yang mengeluh jeleknya tempat berteduh, dia berbahagia dengan segala yang kumuh.
Aku yang menanggis tidak ada yang mengerti, dia tertawa sekalipun tidak ada yang peduli.
Aku yang marah karena ketidakadilan dunia, dia menikmati apa yang diberikan dunia.
Aku yang malu kalah dalam hal mewah, dia bangga dengan segala yang dimilikinya.

Sekarang, jika aku masih meminta ijin dunia untuk mengasihani diri sendiri dan mengeluh, sungguh terlalu aku…

Sesungguhnya dunia ini tidak pernah tidak adil, dunia tidak pernah berubah, dunia ini sudah ada sejak manusia belum ada. Kitalah yang berubah. Kita jugalah yang menghancurkan dunia sehingga akibatnya kita rasa dan kita menyalahkan kembali dunia.

Kini, aku tidak ingin menyalahkan hidup apalagi dunia, karena aku telah mempunyai duniaku sendiri yang kusebut keluarga. Seorang pria lajang dengan usia 32 dengan seorang malaikat kecil yang baik dan cantik hatinya. Aku tidak tahu seberapa aku bisa membahagiakannya, yang aku tahu aku sangat bahagia memilikinya.

Terimakasih Tuhan Engkau menasehatiku dengan cara yang begitu indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s