Cangkir dan air


Disebuah dunia yang bernama Dapuria, hiduplah dua sahabat yang menjadi tokoh utamanya. Yang satu bernama Cangkirgelas, yang satunya bernama Sendokemas.

Cangkirgelas adalah teman main kecil Sendokemas yang sangat disayanginya. Cangkirgelas berperawakan tipis, bening dan terlihat rapuh. Sedangkan Sendokemas terlihat berkilauan, kuat dan sangat indah.

“Sahabatku Cangkirgelas, aku mendengar bahwa kamu telah mendapatkan seorang pacar ya?”, Tanya Sendokemas pada sahabatnya ketika mereka berdua sedang bersantai ditaman Nampan. Karena Cangkirgelas yang sifatnya agak pemalu, ia hanya mengangguk dengan wajah merona merah.

“Wah…, siapa wanita beruntung itu?”, Tanya  Sendokemas penasaran sambil menyikut cangkirgelas agar memberitahunya. Cangkirgelas hanya tertawa kecil.

“Dia hanyalah wanita biasa saja, namanya Airmurni. Sebenarnya aku sudah cukup lama mengenalnya, tetapi baru akhir-akhir ini aku menyapanya dan menjadi cukup dekat”, jawab Cangkirgelas memandangi angkasa. Dari matanya semua yang melihatnya pasti bisa menebak bahwa Cangkirgelas sedang memikirkannya.

“Wah…, kapan-kapan kamu harus mengenalkanku padanya ya?”, lanjut Sendokemas . Cangkirgelas hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

Hari-hari telah berlalu, tidak terasa bulan pun datang menyapa. Cangkirgelas dan kekasihnya Airmurni pun makin mesra. Mereka saling menjaga seperti ketika Cangkirgelas tubuhnya terkena debu dan kotor, kekasihnya akan membasuhnya. Dan ketika kekasihnya lelah, ia akan menampungnya dan memeluknya.

Tetapi, apa yang indah diawal bukan berarti indah diakhir hingga suatu hari Airmurni kekasihnya datang mengunjunginya sambil menanggis.

“Ada apa sayang? Mengapa kamu menanggis?”, Tanya Cangkirgelas cemas. “Apakah kamu lelah? Jika iya maka biarkan aku memelukmu…”, lanjut Cangkirgelas, dan, “Jangan sentuh aku…”, teriak kecil Airmurni. Kali ini, Cangkirgelas terkejut.

“Ada apa? Apakah aku telah melakukan kesalahan?”, Tanya Cangkirgelas kebingungan. Kekasihnya hanya tersenyum, tapi senyuman yang sangat berat. “Aku…, Aku…, aku telah bernoda…”, jawab Airmurni sambil membalikkan tubuhnya dan kembali menanggis.

Terlihat dengan jelas dipunggung kekasihnya ada bekas cairan hitam yang tersebar. “Tadi aku bermain bersama teman-temanku disungai, lalu tiba-tiba muncul mahkluk yang besar dan hitam ini menyerang kami. Kami semua berhasil melarikan diri, tetapi ternyata tanpa kusadari tangan mahkluk itu menyentuhku dan inilah hasilnya…”, jawab Airmurni semakin jadi tanggisannya.

Kesunyian melanda mereka berdua, tiba-tiba Airmurni merasa ada sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhnya, lalu ia tersadar, “Apa yang kamu lakukan?”, Tanya Airmurni terkejut. Ternyata kekasihnya Cangkirgelas memeluknya.

“Dasar bodoh, kamu mengira aku akan mencari air lain hanya karena kamu bernoda hitam seperti itu? Aku tahu kamu pasti sedih tubuhmu yang bersih dan bening itu tercampur noda, tetapi aku yakin noda itu akan segera hilang juga”, hibur Cangkirgelas pada kekasihnya dan mengecup penuh sayang.

“Benarkah bisa hilang?”, Tanya kekasihnya sedikit terhibur. “Kamu tidak berbohongkan?”, lanjutnya memastikan. “Iya sayang, mungkin besok juga sudah hilang. Sekarang kamu pasti lelah, ayo istirahat dulu…”, jawab Cangkirgelas yakin.

Keesokan harinya, ternyata bekas hitam ditubuh Airmurni hilang. Betapa gembira hatinya mendapati dirinya kembali bersih.

“Sayang…, lihat aku, aku sudah bersih…”, teriak Airmurni memeluk kekasihnya. Cangkirgelas hanya tersenyum saja. “Aku kan sudah bilang pasti bersih kembali, sekarang, kamu kembalilah bermain bersama teman-temanmu. Kamu pasti sudah tidak sabar bertemu dan berkumpul lagi dengan temanmu bukan?”, jawab Cangkirgelas sambil membelai wajah kekasihnya. Dan dengan wajah ceria juga terlihat bahagia kekasihnya pergi meninggalkannya.

“Ya Tuhan…, apa yang terjadi denganmu?”, Tanya  Sendokemas ketika datang berkunjung malam harinya. “Dimana tanganmu yang satunya? Kenapa bisa sampai retak dan putus seperti itu?”, lanjut Sendokemas tidak percaya melihat temannya . “Aku tadi tidak hati-hati dan terjatuh, lagipula ini kan luka kecil saja”, jawab Cangkirgelas tersenyum terlihat menahan sakit yang teramat sangat.  Sendokemas yang telah mengenal sahabatnya dari kecil ini hanya memeluknya. Sepandai apapun ia menyimpan rahasia,  Sendokemas pasti mengetahuinya.

Keesokan paginya, Airmurni datang mengunjungi kekasihnya bersama teman-temanya. Ia ingin memperkenalkan kekasihnya pada teman-temannya yang hebat bisa menghilangkan noda dalam semalam. Ketika sampai didepan rumah Cangkirgelas, terlihat  Sendokemas sedang berdiri menunggu. Melihat  Sendokemas disana, Airmurni merasa ada sesuatu. Tetapi belum sempat bertanya, teman-temannya semua langsung mengerumuni  Sendokemas dan mengaguminya.

Ya,  Sendokemas berperawakan sangat gagah, kuat dan indah kilaunya. Para wanita yang melihatnya selalu ingin menjadi Airnya.

“Kamu pasti yang bernama Airmurni…”, tebak Sendokemas  sambil menatap tajam. Airmurni hanya bisa mengangguk mengiyakan dan sedikit bingung. “Kamu pasti bertanya bagaimana aku tahu namamu, dan aku tahu karena teman baikku Cangkirgelas selalu bercerita tentangmu”.

“Dan sebelum kamu mengunjunginya, aku ingin bertanya satu hal padamu. Apakah kamu mencintainya?”, Tanya  Sendokemas dengan tatapan tajam. “Iya, aku sangat mencintainya…”, jawab Airmurni pelan.

“Bagus, seberapa kamu mencintainya?”, Tanya Sendokemas  lagi kali ini dengan tatapan lebih tajam lagi. “Aku mencintainya dengan seluruh hidu…”, belum selesai menjawab tiba-tiba temannya Airmurni berteriak, “Kyaaa…, awas Airmurni, ada monster dibelakangmu…”, dan, “Planggg…”, bunyi gelas pecah.

“Si…, siapa kamu…?”, Tanya Airmurni terlihat ketakutan jatuh terduduk dibawah. “Monster” yang disebut teman-temannya itu adalah sesosok cangkir yang mulai pecah dan retak disalah satu sisinya. Cangkir retak ini tersenyum ramah dan berusaha ingin membantunya berdiri, tetapi, “Jangan sentuh aku jelek…”, teriak Airmurni sambil berlari menjauh dan ketakutan.

“Apa kamu bil…”, belum sempat Sendokemas  marah, cangkir retak yang disebut “monster” ini memotong katanya. “Hahaha…, maafkan aku nona, tadi aku mengira bahwa aku mengenalmu, dan maafkan dengan penampilanku yang berantakkan ini, hahaha…”, jawab cangkir retak ini tersenyum. Matanya berkaca-kaca. “Sekali lagi maaf ya telah menakutimu…”, lanjutnya sambil membungkuk memberi salam dan berlalu.

Airmurni yang masih ketakutan berlari menuju rumah kekasihnya. “Sayang…, buka pintunya…, ada cangkir yang ingin melukaiku…”, teriak Airmurni sambil menerobos masuk rumah kekasihnya. Dan, kosong. Yang ada hanyalah pecahan gelas-gelas dibawah.

“Sayang…?, dimana kamu…?”, panggil kecil Airmurni mencoba mencari kekasihnya dengan perasaan yang sangat cemas. “Pecahan apakah dibawah sana?”, Tanyanya sendiri. Lalu Sendokemas  bersama teman-teman Airmurni masuk. “Dia tidak ada disini lagi, dan dia tidak akan pulang lagi…”, kata  Sendokemas terlihat menahan amarah.

“A…, Apa maksudmu…?”, Tanya Airmurni bingung. Matanya terus memandangi pecahan gelas dibawah sana. Sendokemas dengan tangan dikepalkan dan suara gemetaran menahan amarah melanjutkan maksud perkataannya. “Kamu baru saja mengusirnya, dan kamu malah memberinya julukan baru padanya…”.

Akhirnya Airmurni mengerti pecahan gelas apa dibawah sana, lebih tepatnya pecahan siapa. Dengan suara masih gemetaran,  Sendokemas melanjutkan kata-katanya.

“Monster yang kamu panggil tadi, monster yang kamu sakiti tadi adalah monster yang mengorbankan tubuhnya untuk menghentikan tanggismu. Dan aku pastikan kamu pasti tahu apa warna hitam dipecahan gelas itu”.

“Sesungguhnya, noda hitam ditubuhmu itu bisa hilang sekalipun kamu tidak membersihkannya karena kamu adalah Air. Tetapi melihatmu yang menanggis dan tidak tega melihatmu berurai air mata, dia merelakan tubuhnya menyerap noda itu. Dan tahukah apa akibatnya, noda itu menempel padanya“.

“Supaya noda itu tidak menyebar dan membekas, dia membenturkan dirinya supaya pecah sehingga bekas noda itu bisa lepas. Dan sisa pecahan gelas yang kamu lihat itulah bagian dari tubuhnya”.

“Awalnya aku juga tidak mempercayainya mengapa dia begitu berani dan mungkin sangat bodoh melakukan hal itu, tapi tahukah apa yang dikatakannya padaku?”,  Sendokemas menghentikan kata-katanya, lalu dia melanjutkan.

“Dia mengatakan bahwa kamu akan menerima dirinya apa adanya seperti dia menerima dirimu apa adanya….”.

Tanpa berkata apa-apa, tanpa diperintah, Airmurni langsung melesat keluar mengejar kekasihnya. Rasa menyesal, rasa bersalah, semua berkumpul jadi satu. Dikepalanya hanyalah menemukan cangkir retak yang dipanggilnya monster itu.

Ketika menemukan kekasihnya, Airmurni ini pun tidak mampu membendung air matanya. Cangkir retak itu kini telah pecah. Dan pecahan itu berserakkan dimana-mana. Sekuat apapun Airmurni berteriak, yang telah pecah hanya tinggal kenangan saja.

Tanggis memilukan itu ternyata mengugah angkasa. Dari atasnya terdengar suara.

“Wahai air kecil, mengapa kamu menanggis?”, Tanya suara dari angkasa. Airmurni menengadah keatas. Katanya, “Aku baru saja melukai kekasihmu. Dan bukan hanya itu, aku meretakkannnya dan aku bahkan memecahkannya…”.

“Bukankah kamu bisa mencari cangkir yang baru? Cangkir yang lebih kuat, cangkir yang lebih indah, dan cangkir yang lebih besar…”, Tanya suara dari angkasa sekali lagi. Kali ini Airmurni hanya terdiam. Tanggisannya semakin jadi. Lalu dengan suara yang serak dan parau ia menjawab.

“Ya, sesungguhnya aku juga pernah berpikir begitu. Aku bahkan sering bertanya mengapa aku tidak mencari cangkir yang lebih indah yang bisa memperlihatkan keindahanku, mengapa aku tidak mencari cangkir yang lebih kuat yang bisa tahan lama menampungku, dan mengapa aku tidak mencari cangkir yang lebih besar sehingga bisa ditampung seluruh tubuhku”.

“Tetapi, hari ini aku menemukan bahwa aku salah. Aku bisa menemukan semua cangkir yang kuinginkan, tetapi aku belum tentu bisa menemukan cangkir yang rela meretakkan dirinya. Jika aku bisa berpikir mencari cangkir yang baru ketika cangkir itu rusak, maka iapun bisa berpikir mencari air baru ketika air itu bernoda”.

“Tetapi tidak pada cangkirku ini, ia menerimaku apa adanya. Ia memelukku dan menampungku ketika aku bernoda. Ia bahkan masih tersenyum didepanku ketika aku berteriak monster padanya. Dan kini, aku malah memecahkannya…”.

Tetes demi tetes air mata membasahi pecahan gelas dalam pelukan Airmurni. Apa yang telah terjadi memang tidak bisa diulang lagi.

“Apakah kamu menyesal telah memecahkan cangkirmu?”, Tanya suara yang dari angkasa. Airmurni tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. “Baiklah, sekarang kamu kumpulkan semua pecahan cangkirmu, lalu kumpulkan jadi satu”, pinta suara dari angkasa.

Setelah berjam-jam melakukannya, dibantu  Sendokemas dan teman-temannya, akhrinya semua pecahan itu terkumpul. “Baiklah, sekarang kuminta kalian mundur…”, kata suara dari angkasa itu. Dan, betapa terkejutnya semua melihat apa yang mereka lihat.

Sepasang tangan raksasa turun dari angkasa dan mengambil pecahan gelas itu. Kemudian pecahan itu dibawa kembali keangkasa. Semua yang menyaksikan takjub dan tidak bisa berkata apa-apa.

Setelah menunggu beberapa lama, tangan raksasa itu kembali datang membawa sebuah cangkir dan diletakkan didepan mereka. Setelah itu tangan raksasa ini menghilang kembali keangkasa.

Antara percaya dan tidak, Airmurni yang melihat cangkir itu langsung berlari kesana dan memeluknya.

Ya, itu Cangkirgelas yang telah utuh kembali.

“Wahai air kecil, cangkirmu telah aku utuhkan. Apakah kamu masih mau menerimanya?”, Tanya suara dari angkasa. Airmurni masih memeluk mesra Cangkirgelas ini. Lalu ia menjawab, “Terimakasih, terimakasih…, aku tidak tahu siapakah Engkau, tapi terimakasih telah mengembalikan utuh cangkirku”.

Dilihatnya penuh sayang kekasihnya itu, tubuhnya utuh kembali tetapi dengan bekas-bekas penuh sambungan. Dibelakang salah satu tangannya ada noda hitam yang cukup jelas dan tersebar. “Sayang…, masihkah kamu menginginkan aku yang seperti mons…”, Tanya kekasihnya Cangkirgelas pelan yang dihentikan sebuah pelukan.

“Jangan berkata apa-apa lagi, untuk menyadarkanku bahwa kamu sangat berharga, aku bahkan harus kehilanganmu dulu. Sekarang kamu telah kembali padaku, dan aku tidak akan membuang kesempatan yang begitu indah ini yang masih diberikan padaku. Maafkan aku sayang, aku telah memecahkanmu…”, jawab Airmurni penuh penyesalan bercampur kebahagiaan. Kesungguhannya Airmurni kali ini tidak perlu dinilai lagi dengan kata-kata, air matanya telah menjelskan semua.

Sendokemas dan teman-teman lainnya juga ikut berbahagia. Mereka belajar sesuatu yang luar biasa dari mereka. Lalu terdengar lagi suara dari angkasa.

“Kadang, Aku tidak memberimu cangkir yang baru bukan karena Aku tidak adil padamu, tetapi Aku ingin kamu belajar sesuatu. Jika setiap kali cangkirmu retak dan aku memberikanmu cangkir yang baru, kamu tidak akan pernah tahu mengapa cangkir itu bisa retak dan pecah”.

“Kadang, Aku sengaja memberimu air yang terlihat kotor dan tidak putih, dan daripadanya Aku juga ingin kamu belajar sesuatu. Jika setiap kali airmu kotor dan aku memberikanmu air yang baru, kamu tidak akan pernah tahu betapa berharganya air yang kamu tampung itu”.

“Adalah lebih berharga air yang terlihat tidak putih tetapi bersih daripada air yang terlihat putih tetapi tidak bersih. Adalah lebih berharga cangkir biasa yang selalu dipergunakan daripada cangkir emas yang hanya untuk dipamerkan”.

“Ingatlah, tidaklah penting bagaimana rupa cangkirmu, seberapa besar cangkirmu, seindah apa cangkirmu, asalkan ia bisa menampung air yang bersih dan digunakan, ia adalah baik. Selebihnya biarkan Aku yang menentukan, apakah ia menjadi cangkir kesukaan-Ku dan Kusimpan dilemari-Ku, ataukah ia Kupisahkan, Kubuang dan Kulupakan”.

“Aku tidak memerlukan cangkir cantik yang meminta-Ku membasuhnya ketika bernoda, Aku memerlukan CANGKIR yang MAU menampung AIR-Ku ketika Aku dahaga”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s