Cantik sesungguhnya


 

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu seorang ibu “muda” yang sangat menarik. Dengan rambut sudah hampir memutih semua,  tutur kata yang ramah, senyuman yang selalu menghias wajah membuatku lupa bahwa dia sudah mempunyai cucu selusin yang bisa membuat gaduh seisi lapangan bola.

Iya, aku tahu aku terlalu berlebihan berkata seperti itu, tetapi jangan justru difokuskan kearah itu. Dari ibu “muda” ini saya ingin berbagi PELAJARAN yang tentunya kutulis dalam bentuk cerita pendek sederhana. Cerita yang kutulis mungkin ngawur, tata bahasa hancur dan kalang kabut seperti cerpen-cerpen kita lainnya, tapi INTI ceritanya adalah sama. Semoga dari NASEHAT ibu “muda” ini kita sama-sama bisa belajar dan menjadi lebih baik.

So, met membaca ya. Semoga ceritanya mengena.

Aku adalah wanita yang sangat mementingkan penampilan, dan diusiaku yang baru menginjak 20, sudah wajar aku memberikan perhatian ekstra pada fisikku. Dengan tinggi sekitar 168cm, badan padat berisi plus bibir tipis yang sensual, tidaklah susah bagiku untuk menemukan pacar ataupun pasangan hidup yang sesuai keinginanku.

Eits, sebelum kamu menilaiku dengan penilaian yang kurang baik, ketahuilah aku bukanlah wanita yang seperti wanita lainnya yang dilabeli istilah-istilah kurang baik.

Aku berasal dari keluarga baik-baik dan cukup terhormat. Ayahku adalah seorang wakil direktur disebuah perusahaan cukup terkenal dikota kecil kami, dan ibuku adalah seorang wiraswasta yang bergerak dibidang tata rias pengantin.

Sejak dari kecil aku dan adik laki-lakiku telah dididik dengan baik dan tegas. Kata-kata ayahku yang paling meresap sampai sekarang adalah, “Tidak peduli seberapa baiknya kamu, tidak peduli seberapa buruknya kamu, selalu ada hal yang akan membalikkannya. Maka, janganlah terlalu berbangga karena kelebihanmu dan janganlah berprasangka buruk pada yang serba kurang”. Sebuah kata yang sederhana bukan? Tapi sangat berarti bagiku.

Itulah mengapa aku tumbuh menjadi gadis tegas – kalau tidak mau dikatakan galak. Aku paling tidak suka jika melihat seseorang yang mencap dirinya kaya dan merasa “pantas” untuk merendahkan yang dianggapnya rendah.

Singkat cerita, akupun menemukan seorang pria sederhana tapi tampan hatinya. Dia berperawakan agak gemuk. Dengan tingginya yang pas 170cm, kumis tipis aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama ketika dia membantu seorang anak perempuan mengambil balonnya yang terbang tersangkut pohon.

Aku begitu mudah jatuh cinta tanyamu? Justru sebaliknya. Lalu mengapa aku bisa langsung jatuh cinta pada pria yang bernama Mike ini? Well, ceritanya kusingkat saja ya, karena aku sering mendengar cerita dari teman-temanku bahwa pria sederhana ini baik dan menyenangkan.

Mungkin karena penasaran sering mendengar ceritanya dan selalu membayangkan seperti apa sih pria ini, begitu aku bertemu dengannya Cupid langsung memanahkan panah cintanya padaku. Dan ketika aku mengenalnya, akupun otomatis dibuat takluk oleh keramahannya dan berselang beberapa bulan aku resmi menjadi nyonya Mike.

Pesta pernikahanku sangat sederhana. Aku dan Mike menikah digereja kecil tempat kota kami tinggal. Tamu yang hadirpun para undangan dan kerabat dekat saja. Sekalipun pesta pernikahan kami sederhana, kami merasa sangat bahagia begitu juga para undangan yang ada.

Dan sebelum mobil pengantin kami pergi berlalu, ibuku menghampiriku dan berkata, “Sayang, kehidupan berumah tangga seperti merias wajah. Kadang kamu merasa perlu merias secantik mungkin, tetapi kadang kamu merasa justru yang alami lebih baik. Jangan memaksakan dirimu merias hanya karena kamu ingin tampil lebih cantik, karena kecantikkan tidak selalu didapat dari riasan itu”.

“Dan yang paling penting, jangan menyalahkan alat riasmu hanya karena kamu merasa kamu tidak cantik, lalu kamu menganti alat rias itu. Alat rias hanyalah alat. Seberapa bagusnya alat itu tidak membuatmu makin cantik, tetapi BAGAIMANA kamu meriasnya dan BAGAIMANA kamu MENYESUAIKANNYA adalah kecantikkan itu sendiri”.

Setelah itu kamipun berpelukan. Kucium ibuku dengan mesra, dan kamipun berlalu. Sejujurnya, aku tidak memahami maksud ibuku sampai ketika kami diberi malaikat kecil.

Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Aku dan suamiku sangat bahagia karena kehidupan kami telah sempurna. Sebuah rumah indah yang sederhana dan cukup megah, plus seorang bayi perempuan yang cantik dan sehat nan mempesona.

Bertahun-tahun telah berlalu, tidak terasa malaikat kecil cantik kamipun telah tumbuh besar. Rambut dan matanya yang indah adalah kebangganku yang diturunkan dariku. Tapi yang paling membuatku bangga adalah sikapnya yang ramah dan rasa kepedulian yang tinggi diturunkan dari suamiku.

Awalnya, kebahagiaan yang kumiliki sekarang ini kukira akan bertahan sampai tua. Dan harus kuakui aku terlalu naif. Suatu hari secara tidak sengaja aku menemukan foto ketika aku masih berstatus single. Didalam foto itu aku diapit oleh beberapa pria tampan rekan kerjaku sekaligus yang naksir padaku.

Aku didalam foto itu terlihat begitu menarik dan seksi. Dengan balutan gaun merah menyala, rambut dicat pirang keemasan serta lekukan tubuh yang aduhai, aku sendiri iri dengan diriku yang masih muda dulu.

“Hmm…”, aku bergumam sendirian didepan kaca mengagumi tubuhku sendiri. Rambut tetap rapi terawat. Wajah masih cantik dengan sedikit garis-garis tipis tanda “dewasa”. Ketika kuperhatikan lebih tubuhku, aku mengernyitkan dahi. Tubuhku tidak seindah dulu lagi dengan lekuk yang membuat kaum adam melirik.

“Mikey…”, panggilku pada suamiku. Mikey adalah nama mesra panggilanku padanya. “Menurutmu aku masih sexy tidak?”, tanyaku sedikit gugup. Suamiku hanya melihatku. Lalu dia berjalan pelan mengitari aku. Aku hanya diam bermain dengan jawabanku sendiri dikepalaku. Lalu suamiku mencium keningku dengan mesra. “Kamu tidak hanya sexy, tapi kamu sangat canik”, jawabnya dengan senyumannya yang sangat  mempesona.

“Ah, suamiku juga bilang begitu. Mereka mana berani jujur say. Mereka hanya ingin menyenangkan kita saja”, jawab teman dekatku Margareth ketika kutanya hal yang sama dan kuceritakan apa yang dijawab suamiku.

“Say, kita kan udah kenal lama, so, aku akan jujur dengan kamu. Kamu memang masih cantik, tapi kecantikkanmu sudah berkurang banyak dibanding dulu. Tubuhmu saja sudah melar kayak gitu. Memang sih masih bagus, tapi…, kamu tahu dech maksudku”, lanjut Margareth.

Malam itu aku tidak dapat memejamkan mataku karena perkataan Margareth tadi siang. Aku sangat mengenal suamiku, jadi tidak mungkin suamiku hanya sekedar menghiburku. Semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa tidak percaya diri jadinya.

Entah kebetulan belaka ataukah memang aku yang terlalu terbawa rasa cemasku sendiri. Ketika aku berbelanja kepasar seperti biasanya, aku mendengar gosip bahwa salah satu tetanggaku suaminya berselingkuh karena istrinya tidak menarik lagi.

Dan dari gambaran kata-kata yang kudapatkan, tidak menarik itu adalah tubuh sudah tidak sexy lagi. Gemuk. Ataupun tidak seindah ketika masih pengantin muda dulu. Sejujurnya, aku semakin cemas. Dan sejujurnya lagi, aku merasa aku seperti itu.

“Aku tidak boleh terbawa oleh pikiranku…”, kataku pelan mengingatkan diri sendiri. “Kamu mempunyai suami yang baik. Bertanggung jawab dan mencintaimu apa adanya. Kamu justru harus bangga telah mendapatkan suami seperti itu. Tidak mungkin ia akan menjadi suami seperti tetanggaku itu…”, hiburku sambil menyakinkan diriku sendiri.

“Sayang…, kamu boleh saja menyakinkan dirimu sendiri bahwa suamimu tidak akan seperti itu, tapi apa kamu yakin suamimu akan selalu setia padamu? Selama ini dia kerja dan kamu dirumah mengurus anak. Apakah kamu tahu apa yang dilakukannya dikantornya?”, kata Margareth ketika kami bersantai ditaman kota ketika sore harinya.

“Aku tidak mengatakan suamimu akan berbuat hal yang demikian, aku justru doakan jangan sampai terjadi hal seperti itu. Tetapi, kan tidak ada salahnya juga kita mempercantik diri kita kembali supaya suami kita makin sayang bukan? Aku sendiri melakukannya dan suamiku sekarang justru lengket denganku”, lanjut Margareth sambil memperlihatkan kalung berlian barunya pemberian suaminya sebagai hadiah dirinya “kembali” cantik.

Setelah itu, besoknya aku dan Margareth pergi berbelanja kemall. Aku awalnya hanya menemaninya berbelanja kosmetik saja. Sejujurnya sejak berkeluarga aku jarang sekali membeli kosmetik untuk mempercantik diri. Aku lebih suka merias yang sederhana. Tetapi hari ini, melihat Margareth memoles bibirnya dengan lipstick terbaru merk ternama, jiwa mudaku ingin bersaing muncul kembali. Pulangnya aku membeli sekotak alat make up baru yang sama dengan Margareth. Berharga mahal dan merk kelas atas.

“Wah…, ada gerangan apa ini? Kok tampil cantik sekali?”, goda Mike suamiku sekaligus mengagumi kecantikkanku. Walaupun aku sudah sering menerima pujian dari suamiku, baru kali aku merasa dibuatnya merona merah.

“Ah, yang benar sayang? Jangan mengodaku ah, bukannya setiap hari aku berpenampilam begini?”, jawabku pura-pura meminta dipuji lagi. “Memang benar aku mengagumimu setiap hari, tapi hari ini kamu membuatku lebih dan lebih mengagumimu. Kamu cantik sekai sayang…”, lanjut suamiku sambil mencium keningku dengan mesra sekali. Dan aku, melayang seperti para ABG yang baru jatuh cinta.

“Nah…, apa kubilang bukan. Dengan membuat diri kita makin cantik suami kita juga makin sayang. Dan coba perhatikan mata-mata kumbang disana, mereka sedang melirik bunga cantik didepannya”, puji Margareth sambil mengedipkan mata padaku memberi tanda kumbang mana yang dimaksudnya. Sejujurnya, aku merasa sangat bangga dan merasa kembali menjadi muda.

Semenjak mengenal rias kemarin, aku pun semakin akrab dengan Margareth. Kemana-mana aku selalu bersamanya dan ketika pulang tangan kami masing-masing mengenggam sekantong alat kosmetik baru, merk ternama lagi.

Suamiku yang melihatku tidak melarang apa-apa. Ia hanya berpesan agar aku berhati-hati kalau keluar dan jaga diri. Suamiku juga kagum dengan cantikku yang “baru”, bahkan dia lebih sering memujiku dibanding sebelumnya walaupun dia juga sering melanjutkan kata favoritnya, “Aku tetap mencintaimu sekalipun cantikmu telah dibawa usia, karena bagiku kamu selalu cantik abadi dihati”.

Aku sangat menikmati dengan diriku yang baru. Aku bahkan sering mengajak Margareth keluar walaupun hanya sekedar duduk santai saja dicafe favorit kami. Jujur aja dech, aku suka dilirik para pria yang mengagumi cantikku sehingga aku lebih sering menghabiskan waktu santaiku disana. Aku menikmatinya hampir setiap hari dan tidak terasa bulanan telah menyapa.

“Mommy, nanti malam antar aku kerumah Johan ya. Kami mau belajar kelompok”, pinta Catherine putriku yang berumur 7 tahun. “Maafkan mommy sayang, mommy ada janji sama tante Margareth. Nanti biar daddy yang antar kamu ya…”, jawabku singkat sambil mengecup keningnya dan berlari kecil keluar dimana Margareth sedang menungguku memainkan klakson mobilnya.

“Bye bye sayang, met belajar kelompok ya…”, kataku pada putriku sebelum mobil kami berlalu. Putriku hanya melambaikan tangannya dengan wajah yang sendu. Lalu kulihat suamiku keluar dan memeluknya. Dari kaca spion mobil aku masih sempat melihat mereka. Putriku memeluk erat suamiku, dan, sepertinya dia menanggis.

“Sayang, ini boneka Teddy kesukaanmu…”, kataku sambil memberikan boneka itu pada putriku besok paginya. Aku merasa sangat bersalah dengan apa yang kulakukan padanya tadi malam. Sejujurnya, malam itu aku sama sekali tidak dapat menikmati malam sebagaimana malam aku menikmatinya.

Putriku hanya mengambilnya dan tersenyum. “Makasih mommy…”, jawabnya singkat sambil memelukku. Saat kami sedang berpelukan telepon genggamku berdering. Aku mengangkatnya, ternyata Margareth mengajakku keluar dan katanya penting.

Setelah membereskan semuanya, aku segera mandi dan berdandan cantik lalu keluar. Aku langsung membawa mobil suamiku keluar dan menuju tempat Margareth. Dalam perjalanan aku bertanya-tanya sendiri. Hal penting apa sih yang ingin dikatakan Margareth padaku? Belum pernah aku melihatnya seserius ini.

“Sayang…, sebelah sini…”, panggil Margareth ketika aku memasuki sebuah restoran cukup mewah dimana Margareth memintaku menemuinya. Disebelahnya kudapati seorang pria yang sangat tampan dan masih muda. Umurnya sekitar 30an. Rambut pirang dengan bola mata biru angkasa. Tubuh atletis dengan kumis tipis.

“Kenalkan, ini Andy. Dan Andy, ini Margareth yang sangat kesohor kecantikannya itu…”, kata Margareth sambil mengedipkan matanya dan memperkenalkan kami berdua. Aku tahu maksud kedipan mata itu. Dan aku juga sadari mengapa Margareth menelponku dan mengatakan ada hal penting.

Malam itu kami menghabiskan waktu kami dengan sangat menyenangkan. Aku mengetahui bahwa Andy adalah seorang pengusaha muda yang sukses yang bergerak dibidang telekomunikasi. Dan tahukah kalian apa bagian terbaiknya? Andy mengagumiku.

Bagaimana aku tahu? Well, mudah saja, yang pertama insting wanita. Dan kedua, dia yang meminta Margareth agar mempertemukanku dengannya. Seorang pria tampan dan masih muda. Sukses dan berkepribadian menyenangkan. Humoris lagi. Benar-benar seorang tipikal pria incaran para wanita.

Perkenalanku malam itu dengan Mike membuatku semakin akrab dengannya. Tapi jangan menilaiku semau kata, aku masih tetap sangat mencintai suamiku dan aku tidak sedikitpun berpikir untuk mengkhianatinya. Aku tahu aku mungkin sedikit keluar dari batas yang diberikan suamiku dalam berteman. Tetapi aku juga telah memberitahukan hal yang sama pada Andy bahwa aku telah bersuami dan telah mempunyai seorang putri.

Aku juga pernah mengenalkan Andy pada suamiku, dan suamiku sendiri juga menerima dengan baik teman baruku itu. Kami bahkan beberapa kali keluar makan malam bersama direstoran pilihan Andy atas undangannya. Aku dekat dengan Andy karena ia memiliki sifat pemurah dan baik seperti suamiku. Dan, dari Andylah aku belajar cantik sesungguhnya. Dan, dari Andylah aku baru menyadarinya selama ini aku telah “tidak setia”. Bukan tidak setia pada suamiku, tetapi aku tidak setia menjadi DIRIKU.

Semenjak diingatkan kembali cantik oleh Margareth dulu, aku lebih sering menghabiskan waktuku didepan kaca daripada dengan putriku. Biasanya aku bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam hanya untuk mempercantik diriku. Padahal dulu aku hanya perlu maksimal sepuluh menit dan selesai. Sisa waktunya aku pergunakan bermain dengan putriku.

Pernah juga aku sampai menolak suamiku menemaninya keluar makan malam. Padahal dia telah mengatur makan malam yang romantis buatku disebuah restoran kecil  favorit kami. Aku waktu itu beralasan telah janji mau menemani Margareth berbelanja. Suamiku hanya mengecupku dan berkata tidak mengapa, tapi melihat matanya yang berkaca-kaca, aku sungguh sangat menyesal setelahnya.

Masih segar dalam ingatanku, suatu hari ketika aku merias secantik-cantiknya hendak jalan-jalan ketaman bersama suami dan putriku, suamiku menghampiriku dan mengatakan hal yang cukup menyinggungku. Katanya, “Sayang, kamu tidak perlu kosmetik itu untuk membuktikan kamu cantik, kecantikan ala…”, belum selesai ia menyelesaikan kalimatnya aku membentak kecil padanya, “Aku merias cantik begini untuk kamu, dan kamu malah memintaku tidak perlu melakukannya? Tahukah kamu berapa harganya kosmetik itu? Semuanya demi kamu.”, lalu aku berlalu keluar meninggalkan suamiku terdiam tanpa suara.

Karena kecewa dengan perkataan suamiku, aku sering melampiaskan dengan merias dan lebih mempercantik diriku. Aku bahkan membeli lebih banyak lagi kosmetik baru dan mahal harganya. Aku ingin membuktikan pada suamiku bahwa aku bisa menjadi cantik dan lebih cantik dengan kosmetik baruku. Tetapi, semakin aku mempercantik diriku, semakin aku dipuji para pria yang mengagumiku, semakin aku merasa makin jauh dari suamiku.

Aku pernah beberapa kali berpikir dan meragukan suamiku apakah ia telah mempunyai idaman lain seperti tetanggaku dulu. Semakin aku memikirkannya, semakin aku ingin mempercantik diriku supaya suamiku tidak berpaling padaku. Sayangnya aku terlalu naif. Justru kecantikkan yang aku banggakan membuat cinta suamiku makin menghilang.

Suatu malam, aku berdandan secantik mungkin. Aku memasak masakan kesukaan suamiku. Meja dan kamar kutata seindah mungkin. Aku ingin merasakan kembali kasih sayang suamiku seperti hari-hari lalu. Dan aku melakukan semua ini tanpa sepengetahuannya, padahal biasanya aku akan memberitahunya dahulu. Untuk malam ini aku ingin membuatnya suprise.

“Planggg…”, suara piring kubanting setelah menerima telepon dari suamiku yg memberitahu bahwa dia tidak bisa pulang karena keluar bersama teman baiknya yang jauh-jauh datang. Dalam hati aku begitu marah. Aku sudah susah payah membuatkan masakan kesukaannya dan membatalkan janji dengan semua temanku, suamiku malah lebih memilih temannya.

Dalam emosi yang masih menyala, aku kembali kekamarku sambil menanggis. Setelah hampir sejam aku puas menanggis, aku menbasuh mukaku bersih dan membersihkan diri. Lalu aku merias wajahku secantik mungkin dan memakai gaun yang cukup terbuka. Aku ingin melampiaskan marahku dengan membuat suamiku cemburu. Lalu kutelpon Andy supaya menenmaiku dan menjemputku.

Dengan tanpa rasa bersalah aku mengandeng tangan Andy memasuki sebuah restoran mewah. Kubiarkan rambutku terurai sedikit berantakan menambah kesan sensual dan sedikit nakal. Mataku tidak bisa diam mencari tempat duduk yang paling pas untuk melampiaskan amarahku. Ya, aku mendatangi restoran dimana suamiku dan temannya bersama.

Ketika seorang pelayan restoran menanyakan dimana hendak kami duduk, aku dengan spontan langsung menunjuk kearah seorang pria dengan perawakkan yang sangat kukenal. “Aku ingin duduk disana”, kataku singkat. Andy juga hanya mengiyakan, dan Andy dari sejak awal tidak mengetahui apa maksud tujuanku.

Aku berjalan pelan mendekati meja disamping pria yang sangat kukenal itu. Hatiku deg-degan. Amarahku semakin membara, tetapi anehnya hatiku seperti meronta. Andy yang melihat perubahanku sepertinya menangkap sesuatu yang aneh. “Ada apa Angel? Kamu kurang enak badan ya?”, tanyanya ringan sambil menempelkan tangannya pada dahiku.

“A…, Aku tidak apa-apa…, thanks”,  jawabku singkat. Dan saat itulah mata pria yang sangat kukenal ini memandangiku. Tepat didepanku. Aku terdiam seribu bahasa. Jantungku berdetak dengan kencang. Tangan dan kakiku terasa kaku. Keringatku bercucuran. Dan Andy bersuara, “Mike…?”.

Sedetik rasanya semenit. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu harus berkata apa. Bisa kulihat wajah Andy sangat bingung dengan apa yang barusan dilihatnya. Dan suamiku, dia hanya tersenyum menyapaku seolah tidak terjadi apa-apa, “Hai sayang, lagi keluar sama temanmu ya? Margareth dimana?”. Kamu pasti berpikir suamiku terlalu baik atau bodoh hanya berkata seperti itu? Ketahuilah, itulah bentuk lukanya yang paling sakit yang pernah kuberikan padanya.

Suamiku adalah tipe pria yang pemurah dan pemaaf. Apapun kesalahanku ia akan memaafkanku dan mengajakku bicara untuk meluruskan semuanya dan sedikit teguran ramah. Tetapi, ketika ia telah kehilangan kata-kata ­– seperti malam ini – ia telah sangat terluka. Ia sengaja memendamnya dan tidak ingin membuatku malu. Ia hanya menahan air matanya. Dan aku yakin, kali ini air matanya pasti berwarna “merah”, semerah darah.

Setelah berpamitan, suamiku pulang mengantar temannya. Suamiku juga meminta Andy agar mengantarku pulang. Jika dilihat dari kacamata orang lain, suamiku mungkin pria paling bodoh yang pernah ada. Masa istrinya dibiarkan pulang diantar oleh pria lain? Tapi itulah sisi suamiku yang sangat kubanggakan. Ia tidak mengikatku. Ia mempercayaiku seutuhnya, sayangnya, aku yang malah meretakkannya.

Dalam perjalanan pulang, Andy hanya diam. Suamiku ketika masih direstoran tadi menerima kami dan Andy semeja. Kamipun berbincang-bincang seperti tidak terjadi apa-apa. Amarahku yang meluap-luap awalnya hilang ditelan penyesalan yang ada. Dan, ternyata Andy sudah curiga dari awal dan bisa menbaknya.

“Angel…, rasanya kamu utang padaku sebuah penjelasan malam ini…”, katanya membuka pembicaraan. Aku hanya terdiam. Mataku berkaca-kaca. Aku tidak tahu harus berkata apa. “Aku tidak tahu apa yang menyebabkanmu menjadi seperti itu, tetapi kamu melibatkan aku dalam sebuah keluarga yang telah lama tercipta baik adanya”, lanjut Andy sambil menghela napas panjang.

“Aku tidak akan memintamu menjelaskan apa-apa padaku karena itu adalah privasimu. Tetapi injinkan aku yang lebih sedikit lebih muda darimu dan sok tahu ini mengingatkanmu”.

“Aku, aku memang mengagumimu kecantikkanmu. Tetapi bukan sekedar kecantikkan wajah dan fisikmu. Aku juga tidak munafik bahwa kamu sangat menarik, dan aku juga berpikir seandainya aku bisa memilikimu”.

“Tetapi aku urungkan itu semua. Mengapa? Karena kamu mempunyai keluarga yang sangat berbahagia. Kamu pasti masih ingat ketika kamu pertama kali memperkenalkanku pada suamimu dan putrimu. Aku begitu diterima padahal suamimu dan putrimu baru mengenalku bahkan tidak lebih dari sehari”.

“Dari mereka aku merasakan kembali kehangatan sebuah keluarga. Penuh tawa, penuh canda dan penuh cinta. Dan kamu pasti bertanya mengapa aku mengatakan diingatkan kembali bukan?! Sejujurnya, aku telah berkeluarga. Aku menikahi istriku yang telah kupacari selama 7 tahun lamanya. Dan aku dikarunia seorang putri yang manis seperti putrimu”.

Lalu Andy menghentikan ceritanya. Aku yang tadi diam mencoba ingin bertanya, dan seperti bisa membaca pikiranku, Andy melanjutkan ceritanya. “Istriku dan putriku meninggal tahun lalu karena kecelakaan ketika mengantar putriku pulang dari rumah neneknya…, padahal, hari itu adalah hari ulang ta…”, Andy tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Matanya basah.

“Jika kamu punya masalah, katakanlah dan selesaikanlah. Aku begitu mengagumimu dan mungkin sedikit jatuh cinta padamu justru bukan pada kecantikkanmu Angel, tetapi ketika bagaimana kamu memperlakukan suamimu dan putrimu penuh cinta dan menemani hari-hari mereka penuh bahagia”.

“Tidak ada yang salah seorang wanita ingin menjadi cantik seperti dia masih muda dan dipuja-puja, tetapi adalah hal yang percuma dan sia-sia jika justru kecantikkan itu kamu dapatkan dengan mengorbankan cantik yang paling diinginkan semua mahkluk yang diberkahi cinta”.

“Sejujurnya Angel, semakin hari aku mengenalmu, semakin kamu jauh dari kagumku. Kamu sepertinya menjadi jauh dari sosok wanita yang selama ini kupuja. Aku tahu aku salah jatuh cinta pada wanita yang telah bersuami,  tetapi aku juga mempunyai harga diri untuk tidak menganggu keluarga bahagia yang telah dibina sekian lamanya”.

“Dan tahukah kenapa malam ini aku mengiyakan mengantarmu? Karena aku curiga telah terjadi sesuatu dan aku mengetahuinya dari nada suaramu ditelpon. Aku menerima tawarnmu karena ingin membantumu dan betapa terkejutnya aku mendapati dirimu yang selalu tampil cantik apa adanya dengan setelan sederhana justru malam ini tampil dengan sangat tidak pantas bagi wanita baik-baik sepertimu…”, kata Andy sambil melihatku dengan pandangan tajam. Perjalanan malam itu terasa panjang sekali. Kesunyian yang yang kami lakukan terasa begitu sunyi dan lambat.

Setelah menurunkanku didepan rumah, Andy menggenggam tanganku ringan dan menatapku ramah. “Angel…, namamu diberikan seperti itu bukan tanpa alasan. Aku berterimakasih padamu karena kamu telah memberikan kehangatan sebuah keluarga yang telah hilang dan hampir kulupakan”.

“Aku mengagumimu, dan aku memujamu. Kamu cantik, tapi bukan cantik wanita yang sekarang merias wajahnya cantik tapi lupa merias hatinya. Wanita yang dulu, yang riasannya sederhana walaupun masih sedikit berlebihan lebih cantik dibanding wanita yang sekarang berdiri didepanku”.

“Wanita dulu yang juga temanku yang selalu menomor-satukan kecantikkan keluarganya dengan noda-noda kotor menempel digaunnya bermain bersama putrinya berkali-kali lebih cantik dari wanita yang sekarang mengenakan gaun sexy dan mengairahkan”.

“Ingatlah Angel, kecantikkan seorang wanita tidak dinilai dari alat riasnya dan hasil rias wajahnya saja, tetapi BAGAIMANA dia merias dirinya justru kecantikkan itu sendiri. Dan bagiku, alat riasmu yang paling sempurna adalah suamimu dan putrimu”.

Kupeluk Andy atas kata-katanya yang menyadarkanku. Dan untuk kedua kalinya aku mendengar nasihat yang sama. Ketika pertama kali menikah dikatakan ibuku, dan untuk kedua kalinya, dikatakan oleh teman baikku. Dan untuk kali ini, aku mengerti apa maksudnya.

Tanpa menunggu perintah, aku pamit pada Andy dan berlari masuk kerumahku. Aku tidak tahu apakah suamiku sudah pulang atau belum, tapi melihat lampu dapur yang masih menyala, bisa kupastikan suamiku sudah pulang. Dan, pasti sedang kecewa bahkan mungkin marah.

Aku berlari kecil mendatangi dapur, dan, kulihat pria yang telah cukup lama aku nomor-duakan hanya karena mengejar kecantikkan dan pujian. Ia tersenyum padaku. “Sayang, aku buatkan telur dadar kesukaan…”, belum selesai ia berkata, aku langsung melompat kepelukannya dan menanggis sejadi-jadinya.

“Maafkan aku Mike, maafkan aku…”, isakku dalam pelukannya. Aku tidak peduli lagi apakah make-upku akan luntur menjelekkan wajahku. Aku tidak peduli apakah gaun mahal kebanggaanku akan kotor dan bernoda. Yang aku peduli adalah pria yang kupeluk ini tidak membenciku atapun meninggalkanku karena luka yang sangat menyakitkan yang kutorehkan.

“Mikey…, jangan tinggalkan aku ya, maafkan aku…. Jangan membenci aku ya, aku telah salah dan telah menyakiti perasaanmu terutama kepercayaanmu…”, pintaku berkali-kali. Suamiku hanya membelai rambutku. Lalu dia mengecup keningku.

“Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu yang telah begitu banyak memberiku  kebahagiaan dan seorang putri yang cantik sepertimu. Lagipula aku juga salah kurang memperhatikanmu sehingga kamu sedikit kehilangan arah. Dan aku juga meminta maaf selama ini tidak bisa menemanimu. Kamu pasti kesepian…”, jawab suamiku menjaga perasaanku. Sudah tahukan alasan mengapa aku menikahi pria ini dan memilihnya jadi suamiku.

“Sudah ya nanggisnya, malu sama piring dan cangkir yang melihat tuh. Nanti cantik rias wajahmu hilang loh…”, hibur suamiku. Aku mengelengkan kepalaku sambil tersenyum, dan kali ini aku tersenyum dengan lepas dan lega. “Aku tidak peduli riasan itu lagi, aku hanya perlu kamu sayang…, kamulah rias wajahku…”, jawabku mengulang kata Andy yang menyentuh kesadaranku. Malam itu aku terlelap dalam pelukan suamiku.

“Sayang…, udah selesai rias belum? Nanti mommy tinggal nih…”, panggilku pada putriku yang mulai beranjak remaja. “Bentar mom, gak lama lagi kok…”, jawab putriku sedikit ngambek karena kutanya kesekian kalinyaa. Ketika aku sampai dipintu kamarnya, aku tertawa kecil melihatnya memoleskan lipstick warna pink muda pada bibirnya yang mungil. Melihatku yang tertawa kecil putriku semakin ngambek, “Ihhh…, kok tertawa sih? Bantuin dong mom…”, manja putriku.

“Kamu ingin cantik?”, tanyaku pada putriku. “Iya dong, aku kan pengen cantik seperti mom…”, jawab putriku sambil memainkan rambut panjangku yang terawat rapi sederhana. “Kamu yakin?”, tanyaku sambil menghapus rias wajahnya. “Iya mom, yakin banget…, tapi kok riasanku malah dihapus?”, tanya putriku bingung. Aku hanya tertawa kecil.

“Kalau kamu benar-benar mau cantik, sisihkan dahulu alat rias itu. Dan, lihatlah dirimu yang sekarang tanpa riasan yang berlebihan itu…”, kataku sambil mengedipkan mata memberi tanda agar memandangi dirinya dicermin kamarnya.

“Wahhh, ini aku mom? Kok beda banget dengan yang tadi, apa sih rahasianya mom?” , tanya putriku sambil berjingkrat senang sekali dan memelukku mengagumi kecantikkan alaminya. Aku hanya tertawa kecil, lalu aku mengulang apa yang pernah aku dengar semasa mudaku dulu yang tentunya kusampaikan dengan bahasaku sendiri.

“Sayang, untuk menjadi cantik, kamu tidak harus merias dirimu menjadi cantik. Semua itu hanyalah alat rias saja. BAGAIMANA kamu MERIAS dirimu sendiri itulah cantik sesungguhnya”.

Putriku mengernyitkan dahinya, ia bingung sebingung aku dulu. “Maksudnya mom?”, tanyanya penasaran. Aku tertawa kecil lagi dan memeluknya. Lalu kudengar suara ketukan, “Tok, tok, tok…”, ternyata suamiku mencari kami.

“Wah, hari indah apa ini? Kenapa aku melihat dua malaikat cantik ada disini? Dan untuk  kamu malaikat kecilku, kamu terlihat beda dari sebelumnya…, kamu cantik sekali hari ini”, kata suamiku pada putriku. “Ah~ah daddy…”, peluk putriku padaku dengan pipi merona merah digoda suamiku. Kami tertawa kecil.

“Mommy, tadi yang mommy katakan apa maksudnya?”, aku penasaran nih”, manja putriku padaku. Aku hanya tersenyum dan mengecup mesra keningnya. “Nanti biar daddy yang jelaskan ya…”, jawabku sambil mengedipkan mata pada suamiku. Suamiku bingung apa maksudnya. Lalu kutarik tangan mereka agar segera turun dan segera berangkat mengunjungi rumah teman baikku. Teman baik yang menyadarkanku akan kecantikkan sesungguhnya.

Kamu bertanya siapa? Kamu sudah tahu…

:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s