Bros kupu-kupu


Malam ini, aku mengemas koperku dan kumasukan semua baju-bajuku dan berlari turun. Ya, aku hendak keluar, tetapi bukan berpergian jalan-jalan melainkan aku hendak meninggalkan suamiku. “Jangan pernah kamu mencariku lagi, aku akan pulang kerumah ibuku”, teriakku pada suamiku dan kubanting pintu dengan keras. Akupun membawa mobil kami dan pergi.

“Apakah kamu yakin apa yang telah kamu lakukan?”, tanya ibuku setelah kuceritakan semua padanya. Awalnya aku bersikeras bahwa suamiku yang salah dan disertai dengan sejuta alasan yang ada. Melihatku yang masih terbawa emosi dan tidak berpikir jernih, ibuku hanya mengenggam tanganku dan mengecup keningku. “Sekarang kamu mandi dulu ya, ibu siapkan makanan dulu”, jawab ibuku sambil tersenyum penuh arti.

Ketika aku membersihkan diri, terpaan air dingin yang membasahi tubuhku sekaligus mendinginkan hatiku yang sedang memanas. Aku teringat kembali bagaimana dan apa penyebab aku meninggalkan suamiku.

Semua bermula ketika saat itu aku sedang dipusingkan dengan keuangan kami yang serba pas-pasan. Dan aku tahu semua itu bukan karena suamiku, tetapi karena keadaan dalam diriku yang aku ciptakan yang meledak keluar.

Masih ingat dalam pikiranku bagaimana ketika suamiku pulang dengan keadaan lelah, ia menyapaku seperti biasanya dan memelukku sebagai tanda sayangnya. Saat itu aku langsung menepis tangannya dan bertanya dengan penuh kecurigaan.

“Apa yang kamu lakukan selama ini pulang malam-malam?”, tanyaku padanya. Suamiku terlihat bingung dan menjawab terbata-bata, “Aku kerja sayang, dan malam ini aku akui agak pulang malam karena aku meminta lembur supaya bisa mendapatkan tambahan untuk meringakan keuangan kita”, sambil menyerahkan uang lembur yang tidak seberapa.

Aku mengambilnya, dan kuhitung sebentar. “Memangnya kamu pikir ini cukup?”, kataku mulai terbawa perasaan dan pikiran. “Aku tidak mengira akan sesulit ini hidup denganmu, jangan-jangan uang lemburnya kamu habiskan dengan minum dengan teman-temanmu atau untuk wanita lain. Teganya kamu…”, kataku sambil menutup mulutku dengan telapak tanganku menahan tanggis.

Setelah itu aku langsung berlari keatas dan mengemas koperku. Dan sekarang disinilah aku, sedang menyesali apa yang telah kulakukan terutama yang kukatakan.

Ketika ibuku memanggilku turun untuk makan malam, aku turun dengan mata berkaca-kaca. Ibuku yang melihatku tidak berkata apa-apa, ia hanya menarik tanganku dan memintaku duduk disampingnya. Aku yang memang sudah tidak mampu menahan air mataku, langsung merebahkan kepalaku dalam pelukannya.

Setelah beberapa menit puas menanggis, ibuku membuka percakapan, “Sayang, ibu tahu ibu tidak pantas mencampuri masalah keluarga kecilmu, tetapi ijinkanlah ibu berkata ini, ketika kamu membangun RUMAH BARU, janganlah membawa BATU BATA LAMA dari rumah lamamu. Kamu mungkin mengira BATU itu masih bisa dipakai, tetapi ingatlah, sebagus apapun batu bata lama itu pada rumah barumu, kamu hanya membangun rumah baru dengan batu yang lama”.

Ya, benar sekali apa yang dikatakan ibuku. Sebelumnya aku pernah membina hubungan dengan seorang pria. Waktu itu seperti malam ini ia mengkhianatiku dengan alasan lembur kerja. Aku begitu marah saat mengetahui aku telah begitu percaya padanya tetapi ia malah mengkhianatiku diluar sana.

Kejadian itu begitu membekas dihatiku dan menjadi trauma yang sangat ingin kuhilangkan. Dan untunglah bekas lukaku pelan-pelan terobati setelah mengenal suamiku yang sekarang. Tetapi, bekas luka yang telah lama membekas dan dalam itu tetap tidak bisa kuingkari.

Akhirnya, ketika suamiku pulang agak malam ditambah kondisi emosiku yang sedang labil, memori otakku mulai mengali kembali ingatan yang telah lama kukubur. Aku begitu takut untuk dilukai – lagi. Dan sebelum itu terjadi, aku telah terbawa emosi dan duniaku sendiri, suamiku yang pulang dengan kerinduan yang mendalam, kulukai dengan cara yang kejam.

Semakin kuingat kembali hal itu, semakin aku menyesalinya. Mengapa aku bisa sebodoh dan setega itu melukai seorang pria yang telah menemaniku hampir sepuluh tahun lamanya, yang membuatku tertawa ketika aku terluka, yang mempercayaiku seutuhnya dikala kami jauh terpisah.

“Sayang…, kenangan apa yang paling kamu sukai tentang suamimu?”, tanya ibuku pelan sambil menuntunku duduk menghadapnya. Aku masih terisak-isak, lalu aku sedikit tersenyum mengingat bagaimana suamiku dan aku bertemu.

Waktu itu aku dan teman-temanku sedang berkumpul disebuah cafe sederhana. Dan sejujurnya, kami waktu muda dikenal sebagai 4 bidadari. Bukannya sombong, tapi itulah kami. Dengan postur tubuh rata 168-175cm, rambut panjang pirang dan rajin aerobik, kami dengan bangga bisa mengatakan bahwa inilah postur yang diimpikan para pria.

Ketika sedang asyik bercanda, seorang pria datang padaku dengan langkah kaki yang sangat cangung dan terlihat sedikit berkeringat diwajahnya. Alice, temanku yang paling supel langsung membentaknya, “Kalau mau kenalan nanti saja, apa tidak bisa melihat kami sedang sibuk makan. Kok tidak tahu sopan santun sih”. Pria ini langsung meminta maaf dan kembali ketempat duduknya.

Sejujurnya, aku cukup terkejut dengan tindakan Alice. Tapi memang aku juga tidak bisa menyalahkannya. Alice itu yang paling cantik seperti model kelas dunia gambaran mudahnya. Kami, dimanapun berada selalu menjadi sorotan mata para pria dan diajak kenalan. Dan pada siang ini, pria ini ternyata lagi apes dibentak Alice yang memang sedang tidak mood.

Setelah sejam lebih kami bercanda ria, pria tadi yang dibentak Alice masih duduk didepan kami. Ia terlihat gelisah. Ketika pandangan kami berpandangan, ia hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Aku membalas senyumannya mencoba ramah, padahal dalam pikiranku aku juga mulai merasa risih. Kok ada juga ya pria yang ngotot pengen kenalan gitu.

Seperti bisa membaca pikiranku, Alice mengajak kami pergi karena merasa risih juga dengan pria itu. Ketika kami memanggil pelayan untuk membayar tagihan pesanan kami dan hendak pergi, pria didepan kami itu terlihat mengambil sikap berdiri. Dan tebakanku dia pasti ingin mendekati kami dan meminta kenalan.

Dan ternyata memang benar, ketika kami baru saja hendak melangkah pergi, pria ini memanggil Alice sambil berlari kecil. Dan, “Plak”, sebuah tamparan kecil mendarat dipipi pria ini. “Kenapa sih kamu, belum pernah aku melihat pria sengotot kamu hendak kenalan. Kami risih tahu”.

Suara Alice dan tamparan kecil tadi mengudang mata yang memandang. Sejujurnya, aku kasihan juga dengan pria ini mendapatkan tamparan Alice, tapi mau gimana lagi, aku juga risih dilihatin dan ditungguin seperti itu. Dengan senyum ramah, dan entah mengapa dan bagaimana hatiku berdebar melihatnya, pria ini meminta maaf dan berkata.

“Maafkan saya nona-nona, saya tidak bermaksud buruk. Dan saya terima tamparan ini sebagai hukuman telah membuat kenyamanan nona terganggu”.

“Supaya tidak terjadi salah paham lagi, dan supaya saya tidak ditampar lagi, aku hanya ingin meminta waktu 30 detik untuk meminta sesuatu dari nona…”, lanjut pria ini sambil menunjuk kejaketku. Dan, astaga, ada bros merah muda kupu-kupu yang menempel dijaketku. Setika aku langsung sadar apa yang dari tadi diinginkan pria ini dan entah bagaimana bros ini bisa ada pada jaketku.

Kuambil bros itu dan kulihat kearah Alice dan teman-temanku. Wajah mereka semua merah padam dan salah tingkah. Alice yang telah salah paham justru yang paling merah wajahnya. Waktu itu aku langsung ingin meminta maaf sebesar-besarnya sambil menahan malu. Tetapi belum sempat aku meminta maaf, pria ini melanjutkan perkataannya.

“Maaf ya nona-nona, aku begitu mengagumi kalian sehingga aku menunggu hanya untuk meminta tanda tangan. Tetapi ternyata aku telah menganggu acara kalian. Hahaha…”, katanya sambil tertawa kecil dan mengambil bros itu sambil berlalu.

Kami bingung dengan perubahan sikapnya, dan kami baru sadari setelah pria ini pergi ternyata dia berkata seperti itu karena ingin menjaga martabat kami dengan menjadikan dirinya sebagai korban.

Saat pelayan cafe mendekati kami mengantar kembalian tagihan kami, Alice yang memang merasa bersalah langsung mencari tahu pria tadi dari pelayan cafe ini. “Apakah kamu kenal pria tadi?”, tanyanya buru-buru. Pelayan ini tersenyum dan mengangguk.

Dari informasi yang kami ketahui, pria ini adalah seorang karyawan disebuah toko bunga persis didepan cafe kami ini berkumpul. Dan darinya kami mengetahui pria ini bernama Mike. Pelayan cafe ini dan semua pelayan lainnya sudah sangat mengenal pria ini, dan mereka juga tahu bahwa tadi adalah sandiwara pria ini untuk menjaga martabat kami.

Ketika kami bertanya mengapa dia begitu menginginkan bros kupu-kupu merahnya itu bahkan sampai menunggu, pelayan cafe ini mengambil napas panjang dan bercerita sedikit. “Itu satu-satunya kenangan tentang keluarganya, terutama adik perempuannya yang tahun lalu meninggal karena sakit yang dideritanya”.

“Mike adalah pria yang sangat baik dan entah mengapa mereka yang baik selalu diberi cobaan yang berat sekali. Sejak kecil mereka telah ditinggal orang tuanya kalau tidak mau dibilang dibuang. Ayahnya mabuk-mabukan dan ibunya lari bersama pria lain yang kaya”.

“Karena sering mendapat tekanan fisik dan batin, Mike membawa adiknya yang masih berusia 5 tahun keluar dari rumah. Selama bertahun-tahun mereka hidup berpindah-pindah dan mengemis untuk bertahan hidup seadanya. Kadang dia terpaksa mencuri hanya supaya adiknya tidak kelaparan”.

“Tidak perlu mencari tahu kita sudah tahu betapa beratnya hidup diluar tanpa kenalan apalagi mereka masih kecil. Untuk tidur saja mereka harus mencuri tidur disamping bak sampah yang tidak mengenakan baunya. Baju yang dipakai juga itu-itu saja, kumal, kotor dan bau”.

“Kehidupan itu mereka jalanin bertahun-tahun lamanya. Untunglah ada seorang pria baik yang menemukan dan menerima mereka, bahkan dianggap sebagai anak sendiri”.

“Selama puluhan tahun bersama keluarga yang menerima mereka, Mike tidak mau sedikitpun menerima uang sebagaimana layaknya seorang ayah atau ibu memberi uang jajan pada anaknya. Ia hanya berkata sudah sangat berterimakasih bisa diijinkan tinggal bersama, dan semua uangnya itu ia berikan pada adiknya sebagai biaya sekolah. Dan untuk mendapatkan uang jajan, ia rela menjadi loper koran secara diam-diam. Semuanya penghasilannya ia tabung dan ketika ulang tahun adiknya yang ke-10, ia memberikan bros merah kupu-kupu itu”.

“Sayang, Tuhan berkata lain, adiknya didiagnosa terkena kanker stadium akhir beberapa tahun yang lalu setelah Mike ingin memasukannya keuniversitas kecil impian adiknya….”, pelayan cafe ini terhenti ceritanya. Matanya terlihat berkaca-kaca, dan tanpa kusadari beberapa pengunjung yang dekat dengan kami pun ikut mendekat mendengarkan kisah Mike, beberapanya bahkan mulai meneteskan air mata.

“Seandainya kalian bisa melihat wajah adiknya yang begitu bahagia dan bangga punya seorang kakak yang begitu sayang dan peduli padanya sampai akhir hayatnya, dan seandainya kalian bisa melihat bagaimana darah yang mengalir dari bibir yang digigitnya ketika pemakaman adiknya. Satu-satunya keluarga yang tersisa telah diambil darinya”.

“Dan sejujurnya lagi para tamu terhormat – maksudnya kami, jika pria baik ini dipermalukan lebih dari yang tidak semestinya, kami semualah yang akan kalian hadapi. Kami siap membelanya, dan tahukah kalian manajer cafe dan koki disebelah sana – sambil menunjuk kepintu dapur, disana berdiri seorang pria besar dengan kumis tebal dan seorang koki gemuk memegang pentungan – sudah hendak menyerbu kalau tidak ditahan para pelayan lainnya”, lanjutnya sambil tersenyum dan meminta ijin berpamitan melayani tamu yang lain.

Itulah yang kami ketahui tentang Mike, pria  baik yang kami perlakukan tidak baik. Ketika pulang dengan mobil Alice, kami terdiam seribu bahasa. Biasanya kami akan saling membanggakan siapa yang paling banyak dipuja. Tetapi kali ini, kami malu. Bukan malu karena dipermalukan, kami malu karena mempermalukan. Dan yang lebih memalukan, kamu justru dibela oleh orang yang kami permalukan.

Sejak kejadian itu kami lebih menjaga sikap kami dalam membanggakan sesuatu. Sejak hari itu kami menjadi lebih dewasa dalam artian bangga. Sejak saat kami menjadi akrab dengan Mike. Sejak saat itu ternyata tanpa kusadari aku telah jatuh cinta dengannya. Dan sejak saat dia berlutut dihadapanku melamar dicafe pertemuan awal kami dengannya, aku telah berjanji sehidup semati dengannya, dalam segala suka maupun duka.

Tetapi…, malam ini aku memberinya luka.

Setelah lebih tenang ibuku mengenggam tanganku. Matanya menatapku dalam-dalam dan penuh cinta. Katanya padaku.

“Sayang, sebuah hubungan yang indah bukanlah berarti tanpa cela, tanpa amarah maupun tanpa luka. Selayaknya bunga mawar yang dipenuhi duri yang melindunginya, kamu tidak bisa membuang durinya supaya tidak terluka, yang kamu bisa adalah bagaimana kamu menjaga agar duri itu tidak menusukmu sampai dua kali atau lebih dengan cara yang sama”.

“Dan ingatlah juga, bekas luka yang ada bukan berarti karena dulu kamu salah. Bekas luka adalah sebagai PENGINGAT bagi kita. Jangan melihat bekas itu sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi lihat sebagai sesuatu yang harus diperbaiki”.

“Kamu dulu pernah dilukai dan membekas, sekaranglah saatnya kamu belajar bahwa kamu telah dewasa dan bisa percaya serta tidak menginjinkan kenangan tentang bekas luka lama itu MENGIKATMU dan menghancurkanmu seperti dulu”.

Ya, aku telah melakukan kesalahan yang sama dengan mengijinkan luka lama mengisi kepala. Aku menuduh suamiku yang tidak pantas hanya karena aku teringat luka dulu yang membekas. Padahal dia begitu merindukanku setelah hampir seharian bekerja lelah untuk keluarga kecil kami. Dan aku juga begitu merindukannya setelah hampir seharian bekerja ia tidak bisa menemaniku. Tetapi ketika kesempatan itu tiba, aku justru membuatnya terluka bahkan meninggalkannya.

Tanpa kusadari, air mataku mulai menitik lagi. Ibuku mengecupku penuh arti. Kali ini, aku tidak menanggis karena penyesalan yang dalam. Aku memang menyesal telah mengingkari kepercayanku pada suamiku sendiri, tetapi untunglah kali ini aku tidak terjatuh dan tenggelam pada kenangan luka lama yang justru menghancurkan.

Lalu tiba-tiba ibuku mengeluarkan sebuah bros dan diserahkan padaku. Aku terkejut darimana ibuku mendapatkan bros itu. Seingatku tadi aku meninggalkan dirumahku dan langsung pergi tanpa membawa bros itu, tetapi malam ini ibuku justru mengembalikannya padaku.

Seperti bisa membaca pikiranku, ibuku memberi tanda padaku agar melihat kebelakang. Ternyata bros ini memang tidak datang dengan sendirinya, tetapi ia datang bersama tuannya, seorang pria yang sangat kucintai, bahkan setelah malam ini ia lebih kucintai berkali-kali.

Ya, Mike datang menjemputku, dan bros merah muda kupu-kupu itu adalah kenangan paling berharganya dan milikku yang paling berharga. Aku berdiri dan berlari padanya. Aku memeluknya dengan erat dan meminta maaf atas segala perkataanku padanya. Ibuku hanya tersenyum melihat kami dengan mata berkaca-kaca.

Malam itu merupakan malam lembaran baru bagi kami terutama bagiku. Malam itu bekas luka yang terus membekas akhirnya menghilang tidak berbekas. Luka yang kuberikan pada suamiku justru dikembalikan dengan pelukan penuh rindu. Padanya aku berjanji aku tidak akan menghindari duri lagi, tetapi aku ingin memperbaikinya.

Malam itu kami menginap dirumah ibuku. Kami habiskan waktu kami dengan saling bercerita kembali tentang pertemuan kami dulu. Dan ketika sampai pada topik acara lamar-melamar, ibuku tertawa kecil dan tersenyum penuh arti. Lalu ia bertanya pada kami.

“Coba ingatkan kembali ibu, jika ibu tidak salah ingat, ada sepasang anak muda yang kisahnya begitu terkenal dan dikenang dikota ini. Dan seingat ibu, pria ini melamar kekasihnya disebuah cafe sederhana dengan “cincin” yang sangat tidak biasa. Menurut kalian “cincin” seperti apakah itu bahkan sampai saat ini “cincin” itu masih dipakai para pria untuk melamar kekasihnya?”.

Kami tertawa kecil mendengar pertanyaan ibu yang sudah pasti tahu jawabannya. Lalu aku memandangi suamiku penuh arti. Suamiku mengecupku mesra sambil melihat “cincin” kami yang masih terawat baik. Katanya,

“Cincin itu adalah…”. Ah, kamu sudah tahu juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s