Sebuah bekal


Suatu pagi seperti pagi biasanya, seorang pemuda yang dikenal dengan nama Mike duduk tidak bersemangat sebuah bangku taman. Dikeluarkannya kotak kecil segiempat warna biru dari tasnya. Lalu dibukannya kotak itu dan raut wajahnya terlihat berubah.

“Nasi, sayur dan sedikit daging? Dan sebuah apel?”, keluhnya sendiri melihat bekal yang dibuatkan istrinya hampir sama setiap harinya. Karena perut yang telah lapar, mau tak mau ia harus memakannya sekalipun tidak bergairah.

Ketika baru mencicipi sedikit, terlihat dua ekor anak kucing menghampirinya. Seekor berwarna kecoklatan dan seekor lainya berwarna kuning. Mereka terlihat lucu sekali berlarian kecil melompat-lompat didepannya seakan beratraksi meminta sedikit “suapan” dipagi hari.

Ketika sedang asyik melihat kucing itu bermain, terdengar sapaan ramah seorang pria tua. “Anak muda, bolehkah pria renta ini duduk disini mengistirahatkan kaki barang sebentar?”, tanyanya dengan senyum yang sangat ramah. Bola matanya yang sebiru angkasa menambah pesonanya.

“Ooh, boleh saja tuan dan maafkan aku tuan. Tadi aku melihat dua ekor anak kucing ini bermain begitu riang sehingga saya terhanyut oleh perasaanku sendiri. Silakan duduk tuan…”, jawab Mike disertai jawaban dari sipria tua ini. “Johan. Nama saya Johan”. “Salam kenal tuan Johan, namaku Mike”.

Pagi itu matahari masih tersenyum dengan hangatnya. Jalanan masih tidak begitu ramai. Terlihat para pemilik toko baru mulai membersihkan tokonya sebelum menerima pelanggan. Mike yang masih terlihat kurang berselera menikmati sarapannya, secara tidak sengaja melihat pria tua ini juga membawa bekal.

Dalam hatinya Mike bertanya dan bertaruh dengan dirinya sendiri bahwa bekal pria ini pasti lebih enak dibanding bekalnya yang sederhana sekali. Tetapi ketika pria tua ini membuka kotak bekalnya, ia hampir tidak percaya melihat apa yang dilihatnya. Hanya roti tawar. Tidak ada apa-apa lagi.

Seperti bisa membaca keterkejutan Mike, pria tua ini hanya tersenyum ramah dan berkata, “Maafkan saya anak muda jika bekalku merasa membuatmu merasa tidak nyaman. Tapi inilah yang kumakan selama hampir 40 tahun lamanya”.

“Roti ini adalah buatan istriku. Dan inilah satu-satunya bekal yang paling aku cintai darinya”, lanjut pria tua ini sambil memandangi roti tawar itu dengan mata berkaca-kaca. Mendengar hal itu, Mike merasa aneh. Masa roti tawar itu yang mudah didapatkan merupakan satu-satunya bekal yang bisa dibuat oleh istrinya?

Dan seperti bisa membaca pikirannya lagi, pria tua ini melanjutkan perkataannya.

“Anak muda, aku duduk disini bukan karena ketidak-sengajaan juga. Tadi, ketika aku lewat disini hendak bersantai seperti biasanya, aku menemukan dirimu sudah duduk disana dan terlihat begitu resah. Dan sekedar kamu tahu saja, bangku inilah dimana aku melamar istriku dan bangku inilah yang hampir selama  40 tahun menemaniku menikmati sarapanku”.

“Tapi jangan merasa sungkan anak muda, bangku ini bangku umum, siapapun boleh mendudukinya”, katanya dengan tutur kata yang sopan dan sangat ramah. Aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala.

Ya, ini adalah pertama kalinya aku duduk dibangku taman ini. Setiap pagi aku berangkat bekerja tetapi tidak pernah sepagi hari ini. Aku memaksakan diriku bangun pagi ini karena semalam aku tidur tidak nyenyak.

Pekerjaanku menumpuk dikantor, belum lagi segala tagihan dan biaya yang begitu membuat pusing kepala. Dan pagi ini, aku berharap istriku membuatkanku bekal yang enak supaya aku lebih bersemangat, tetapi hasilnya tetap saja.

Dan sekali lagi, seperti bisa membaca isi kepalaku, pria tua ini melihatku dan berkata.

“Anak muda, coba kulihat bekalmu”.

Awalnya aku bingung dengan pertanyaannya. Tetapi pandangan dan senyuman ramahnya itu membuatku memperlihatkannya.

“Hmm, bekal yang sangat enak sekali dan penuh gizi. Pasti dibuat dengan penuh rasa sayang”, puji pria tua ini dan tanpa kusadari aku menyahut, “Enak darimana, hampir tiap hari makanannya seperti ini…”, dengan muka ketus.

Pria ini tertawa kecil, “Hoho…, benarkah seperti itu? Jika bekal seenak itu saja kamu katakan tidak enak dan bosan, bagaimana dengan aku yang setiap hari membawa bekal yang sama dan selama hampir 40 tahun aku memakannya?”, tanyanya sambil memperlihatkan bekalnya. Sejujurnya aku merasa sangat tidak enak telah mengatakan hal itu.

“Anak muda, jika kamu membawa bekalmu hanya sebagai tujuan untuk BERHEMAT, semakin kamu berhemat semakin perasaanmu terbeban dan semakin cepat kamu menjadi bosan. Memang baik kamu membawa bekal karena bisa menghemat sedikit pengeluaran, tetapi ingatlah jangan jadikan  itu tujuan utamanya apalagi sampai membuatmu TIDAK MENGHARGAINYA”.

“Sekarang cobalah lihat bekalmu lagi”, lanjut pria tua ini dengan sedikit menganggukan kepalanya agar aku melihat bekalku. “Disana ada nasi. Menurutmu kira-kira berapa lama istrimu harus memasaknya dan seberapa pagi dia harus bangun menyiapkannya?”, tanyanya sambil tersenyum. Aku menggelengkan kepala.

“Sekarang lihat sayuran yang terlihat masih segar itu, kira-kira berapa lama dia memilihnya untukmu dan sampai kemana dia mencarinya?”. Aku menggelengkan kepala lagi. Kali ini aku merasakan ada suatu perasaan yang timbul dihatiku.

“Dan lihatlah apel itu…, aku rasa kamu sudah tahu apa yang akan kutanyakan padamu. Tetapi inilah yang paling ingin kutanyakan. Apakah kamu tahu dia, istrimu, juga makan bekal seenak kamu dirumah?”. Aku terdiam seribu bahasa.

Ya, aku baru menyadarinya. Dengan kondisi ekonomi kami yang begitu pas-pasan, istriku tidak sedetikpun mengeluh padaku. Dia selalu bangun subuh-subuh membereskan rumah dan menyiapkan bekal untukku.

Seingatku, setiap belanja dia selalu membeli sebuah apel, sebutir telur, sedikit daging dan seikat sayuran. Dan pagi ini, dan seperti pagi lainnya, semua itu terisi penuh dikotak bekalku. “Ya Tuhan…”, ucapku singkat hampir tidak mampu menahan air mataku. Istriku makan dengan lauk apa dirumah jika semua lauk yang dibelinya diberikan padaku? Hanya nasi putih sama sebotol kecap asin yang terletak disudut dapur ketika aku berangkat bekerja.

“Anak muda, bekal yang disiapkan istrimu itu, bahan dan bumbu semewah apapun yang dibuat oleh para koki kelas dunia tidak akan bisa mengalahkan bekal yang dibuat istrimu. Keistimewaan bekalmu itu hanya istrimu yang bisa membuatnya, dan bumbunya itu bumbu satu-satunya. Kamu tentu tahu apa maksudku bukan?”, Tanya pria tua ini menempuk pundakku. Kurasakan wajahku basah dan tetesan air mataku jatuh pada tangan dan kotak bekalku.

Pria tua ini memang benar. Istriku telah bangun subuh-subuh, menyiapkan bekal untukku, dengan penuh cinta dan sayang sebagai bumbu, aku malah dengan mudahnya mengeluh. Aku benar-benar pria yang tidak tahu berterimakasih dan BERSYUKUR.

Aku yang awalnya memakan bekal buatan istriku dengan perasaan mati rasa, kini berganti penuh gairah. Sayur yang terlihat membosankan, kini terlihat menyegarkan. Rasanya enak sekali. Dan aku, pada pagi itu, melahapnya tanpa tersisa.

Setelah menghabiskan bekalku, aku teringat betapa tidak sopannya aku telah melahap bekalku dan melupakan pria tua yang disampingku ini. Dan sekali lagi, seperti bisa membaca pikiranku, dia tersenyum ramah dan berkata.

“Jangan pedulikan aku anak muda, melihatmu yang bisa melahap sebahagia itu sudah cukup untuk mengeyangkan jiwaku. Dan ijinkanlah aku memberimu satu nasehat sok tahu ini. NIKMATILAH apa yang telah kamu PUNYA sekalipun itu hal yang terlihat SANGAT SEDERHANA bahkan tidak berharga”.

“Berbahagialah karena kamu MASIH menikmatinya, BERSYUKURLAH kamu masih memilikinya, karena ketika kamu kehilangannya, kamu akan MENYESALINYA”.

“Dan kamu pasti bertanya mengapa aku mengatakan hal seperti ini bukan?”, Tanya pria tua ini tersenyum ramah padaku sambil memperlihatkan bekalnya yang hanya roti tawar. Matanya berkaca-kaca.

“Bagi kamu mungkin roti ini adalah sangat sederhana dan kurang nikmat untuk dirasa bukan? Tetapi aku tidak menyalahkanmu karena dulu aku juga begitu sepertimu. Tetapi, sejak 38 tahun lalu, tepatnya bulan Agustus, roti ini menjadi favoritku”.

Aku mengernyitkan dahiku bingung. Pria tua ini tertawa kecil dan melanjutkan perkataannya.

“Roti ini menjadi favoritku bukan karena ia sangatlah enak. Roti tawar ya tetap tawar, tetapi yang menyiapkannya memberi RASA yang nikmat. Dan roti tawar ini dibuat oleh istriku dengan susah payah dan perlu berpuluh-puluh menit mempersiapkannya”.

“Dan aku tahu kamu pasti bingung mengapa roti tawar ini perlu waktu yang begitu lama untuk dipersiapkan bukan?”, Tanya pria tua ini tersenyum ramah. Aku mengangguk pelan. Lalu dia mengambil sebuah foto tua dari jas yang dipakainya dan diperlihatkan padaku. Ketika melihat foto itu, aku spontan menutup mulutku.

“Ini istriku anak muda, dia telah kehilangan tangannya ketika kecelakaan 38 tahun yang lalu. Dan dia juga kehilangan satu kakinya. Roti tawar ini dibuatnya dengan hanya mengandalkan….”, kata-katanya terhenti. Matanya basah. Akupun juga tidak mampu menahan air mataku lagi, dan aku tahu betul apa maksudnya.

“Anak muda, dulu aku sama sepertimu. Kurang menghargai hidup sebagaimana kita mengeluh bekal kita. Tetapi, sejak kecelakaan dulu itu, aku begitu menyesalinya. Dan untuk itulah aku tidak ingin kamu mengulang sejarah yang sama”.

“Ini memang bekal biasa. Kita bisa membelinya dimana saja dan kapan saja, tetapi kamu tidak akan bisa membeli BUMBU dan MEREKA YANG MEMBUATNYA. Makanya, sekalipun roti tawar ini terlihat sangat sederhana dan bahkan tidak enak rasanya, bagiku ini adalah makanan paling nikmat sedunia, apalagi roti ini dibuat oleh istriku tercinta yang dengan senang hati membuatkannya untukku, tanpa mengeluh dan tanpa kedua tangannya”.

“Jika hal kecil saja kita tidak HARGAI dan SYUKURI, maka hal sebesar apapun tidak akan kamu HARGAI apalagi SYUKURI”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s