Pria berkacamata hitam


“Selamat pagi, hari ini hari yang indah bukan?”, sapa ramah seorang pria tua dengan bergaya kacamata hitam yang agak kuno modelnya. “Pagi juga”, jawabku singkat sambil memeluknya hangat, “Ya, hari ini begitu cerah dan menyenangkan”, lanjutku sambil tersenyum kemudian berpamitan bekerja.

Pria tua ini bernama Mike. Setiap pagi setiap kali aku berangkat bekerja tuan Mike selalu menyapaku dibangku tua kesayangannya depan toko bunganya. Dan, bukan aku saja yang disapanya, tetapi semua orang yang berlalu lalang didepannya.

Dengan usianya yang hampir menginjak 75, tidak terlihat sedikitpun pria berusia lanjut ini kehilangan energinya. Malah jika aku diijinkan mengungkapkannya dalam bahasa hiperbola, tuan Mike adalah pria muda yang terperangkap pada fisik yang tua.

Aku sangat menyukai tuan Mike, dan sekali lagi, bukan hanya aku saja, tetapi semua yang mengenalnya. Ketika aku pulang kerja lebih awal, aku selalu mengunjungi tuan Mike dan membantunya ditoko bunga kebanggaannya.

Seringkali dia memberiku nasihat-nasihat baik dari pengalamannya dulu, dan aku juga dengan senang hati mendengarkannya. Bagiku, dia seperti seorang ayah yang begitu menjaga putra-putrinya. Dan tentu saja bagi yang lain yang mengenalnya.

Kamu pasti bertanya bagaimana perkenalanku dengan tuan Mike bukan? Dan walaupun kamu tidak bertanya dan tidak peduli, aku tetap sedikit memaksa untuk menceritakan pertemuanku pertama kalinya dengan tuan Mike yang baik dan bijak.

Masih jelas dalam ingatanku, waktu itu aku berteduh didepan toko bunganya ketika pulang kerja hujan menguyur kota kecil kami. Melihatku yang tidak bisa apa-apa dan kemana-mana, tuan Mike menawariku untuk masuk dan menghangatkan tubuhku dengan secangkir teh hangat yang telah disediakannya.

Awalnya aku menolak dengan alasan aku tidak lama dan ingin segera pulang, lagipula aku tidak mengenal pria ini. Tetapi dia berkata padaku, “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menganggu ataupun memberi ketidaknyamanan padamu. Aku hanya menawarkan secangkir teh hangat sekedar melanjutkan kebaikkan yang pernah kuterima dari orang lain ketika dulu aku berteduh sepertimu. Jika aku telah membuatmu curiga, aku meminta maaf”.

Dan, disitulah aku. Duduk satu meja bercanda hampir satu jam lamanya hingga denting jam klasik tuanya berbunyi 6 kali menyadarkanku hendak segera pulang kerumah.

Besok paginya, aku berangkat bekerja seperti biasanya. Lalu aku mendengar suara ramah yang sangat kuingat. “Selamat pagi, hari ini hari yang indah bukan?”, Tanya seorang pria tua yang ternyata tuan Mike. Aku tersenyum melihatnya. “Selamat pagi juga tuan Mike”, jawabku melambaikan tanganku padanya. “Semoga harimu selalu menyenangkan”, jawabnya sambil mengangkat topi putihnya memberi salam.

Hari berlalu dengan cepat, dan akupun selalu mendapatkan salam yang sama setiap harinya. Selama ini aku tidak pernah berkunjung lagi ketokonya sejak malam hujan yang lalu. Aku sibuk dengan pekerjaanku, apalagi aku baru saja dipromosikan sebagai manager penjualan disalah satu cabang tempatku bekerja.

Hari-hariku sibuk, bahkan sangat sibuk. Aku mengira dengan promosi naiknya jabatan pekerjaanku akan menjadi lebih ringan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Aku memang tidak perlu melakukan pekerjaan fisik seperti dulu mengetik yang menumpuk. Tetapi beban yang kurasakan justru terasa lebih berat dipundak.

Akhirnya, beban yang selama ini membebaniku memuncak. Pacarku yang selama ini selalu mendukungku justru meninggalkanku dengan alasan yang sangat tidak bisa kuterima. Dia hanya berkata bahwa dia bukan yang terbaik untukku dan memintaku untuk melupakannya dan mencari pengganti yang lebih baik.

Ketika kupaksa dia jujur bercerita, dia hanya mengatakan bahwa aku telah berubah dan posisiku yang sekarang justru memberikannya tekanan. Memang benar aku dan pacarku satu perusahaan, tapi kami beda divisi. Seharusnya dia harus ikut bangga denganku dengan segala keberhasilanku, tetapi justru yang terjadi malah sebaliknya. Dan setelah kuselidiki, dia mengkhianatiku dengan teman kerja lainnya.

Hatiku hancur.

Malamnya aku tidak bisa tidur. Aku menanggis sejadi-jadinya mengasihani diriku sendiri. Aku juga “menyalahkan” mengapa Tuhan begitu tidak adil memberiku cobaan dan “hukuman” seberat ini. Aku adalah orang yang cukup beriman, tetapi untuk malam ini aku menjadi ragu akan rencana-Nya. Dalam kelelahan menanggis aku memaksakan diri berdoa, “Ya Tuhan, beritahulah padaku apa yang ingin Engkau ajarkan padaku…”. Lalu aku tertidur.

Kurasakan hangat matahari pagi membelai wajahku. Kicauan burung-burung dijendelaku membangunkanku. Aku enggan sekali ingin beranjak dari tempat tidurku. Kepalaku terasa berat sekali dan kurasakan mataku juga bengkak menanggis.

Setelah berpuluh-puluh menit bermain dengan pikiran dan perasaanku yang masih kacau, aku mengambil telepon dan meminta ijin satu hari libur dari kantorku. Kuletakkan telepon genggamku dan aku memaksakan diri membersihkan diri. Disana aku mulai menanggis lagi.

“Selamat pagi, hari ini hari yang indah bukan?”, sapa ramah tuan Mike ketika aku berjalan tidak bersemangat didepan toko bunganya. Kulihat dia tersenyum kearahku. Dengan kacamata hitam kesukaannya dan topi putih polos dikepalanya, dia terlihat cukup mempesona bahkan diusianya yang sudah senja.

“Selamat pagi, hari ini hari yang indah bukan?”, sapanya lagi seakan menanti jawabanku. Tetapi aku hanya tersenyum sinis dan tidak membalasnya.

“Selamat pagi, hari ini hari yang indah bukan?”, sapanya sekali lagi dan kali ini aku emosi dan membentaknya, “Ya, selamat pagi!! Dan ketahuilah hari ini sama sekali tidak menyenangkan. Ini adalah hari paling buruk yang pernah ada. Apakah kamu buta tidak bisa melihatnya”, dengan suara tinggi dan mataku kembali berkaca-kaca.

Ternyata, tanpa kusadari, bentakkan kecilku didengar mereka yang berlalu lalang disana. Pagi itu memang tidak begitu ramai, tetapi justru ketidakramaian itu membuat bentakkanku terdengar jelas. Tuan Mike yang menyadari ketidakramahanku hanya tersenyum padaku.

“Sepertinya kamu mengalami hari yang buruk ya? Maafkan aku telah menyinggung perasaanmu”, katannya sambil melepaskan topi putihnya dan ditaruh didada sambil setengah membungkuk meminta maaf. Aku yang sudah terlanjur emosi berjalan mendekatinya. Aku berpikir nasi sudah jadi bubur, sekalian cari pelampiasan. Tetapi belum sempat aku sampai kesana, sebuah tamparan kecil mendapat diwajahku. “Plak…”.

Betapa terkejutnya aku mendapatkan tamparan kecil itu, dan aku sangat malu sekali dilihat mereka yang kebetulan ditempat kejadian. Kupandangi seorang wanita yang seusiaku, dialah yang menamparku. Tetapi ketika kulihat wajahnya, matanya berkaca-kaca.

Aku bingung. Dia yang menamparku, kenapa dia pula yang sepertinya hendak menanggis? Justru akulah yang seharusnya menanggis diperlakukan memalukan dihadapan berpasang-pasang mata. Ketika aku ingin melakukan pembelaan diri, tuan Mike yang kubentak tadi datang menghampiriku dan mengelus kepalaku.

“Siapa namamu sayang?”, tanyanya ramah. Akupun seperti terhipnotis dan menjawabnya, “An…, Angel”, jawabku singkat. Lalu ia menggangguk. “Hmm, nama yang bagus sekali yang berarti malaikat. Pasti hatimu seindah malaikat dan hari ini aku menerka bahwa sayapmu terluka sehingga kamu takut dan menyerang siapapun yang mendekatimu”.

Tidak perlu diterkapun semua sudah tahu bahwa aku sedang ter…, belum selesai aku mengeluh dalam hatiku, tuan Mike melepaskan kacamata hitamnya dan menghentikan keluhanku, juga napasku.

“Silakan diminum nona muda. Semoga tehnya bisa sedikit melegakan hatimu”, katanya ramah. Aku meneguk teh itu tanpa berani memandangi wajahnya. Bukan karena wajahnya tanpa kacamata itu menakutkan, tetapi aku begitu menyesal telah mengeluarkan kata-kata yang begitu menyayat hatinya.

“Kamu tentu bertanya mengapa aku mengundangmu ke toko kecil ini bukan? Dan maafkan aku, hanya ini yang terpikirkan olehku. Dan aku meminta maaf lagi mewakili nyonya Yenny yang tadi terbawa perasaannya menamparmu, mereka hanya ingin melindungiku dan memang kuakui kadang mereka terlalu over protektif sedikit”.

Aku mengangguk kepala dengan mata mencuri-curi melihatnya. Lalu tuan Mike memandangiku dengan senyum khas ramahnya.

“Toko bunga kecil ini adalah milik mendiang istriku. Sejak aku menikahinya 50 tahun yang lalu, kami sudah berjanji akan membuka toko bunga. Mendiang istriku begitu menyukai bunga dan bunga apa saja yang dia tahu pasti akan diusahakan didapatkannya”, cerita tuan Mike sambil terkenang kenangan dulu.

“Kami begitu bahagia dan kami begitu menikmati toko bunga yang kami dirikan ini. Orang-orang disini juga baik sekali. Berkat bantuan merekalah yang sering membeli bunga disini, toko bunga ini bisa berkembang menjadi seperti ini”.

Tuan Mike menghentikan ceritanya. Ia mengambil napas panjang.

“Selayaknya bunga yang mekar, ada saatnya dia layu. Begitu juga bunga jiwaku yang layu sebelum waktunya…”, tuan Mike menghentikan ceritanya lagi. “Istriku didiagnosa terkena kanker stadium akhir”, lanjutnya tersenyum. Kali ini senyuman yang terlihat indah tapi menyimpan duka.

“Aku begitu terpukul dengan diagnosa itu. Aku bahkan marah-marah pada dokter yang mengatakan hal itu, tetapi aku justru dimarahi istriku. Dia mengatakan bahwa dokter sudah baik-baik memberitahukan penyakitya aku justru malah marah padanya. Saat itu aku benar-benar bingung dengan sikap istriku. Dia tidak terlihat rapuh selayaknya aku, dia malah menyemangatiku”.

“Tetapi seceria apapun luarnya, aku tahu dia menyimpan sakitnya yang luar biasa. Seringkali dia pura-pura tertidur ketika aku menjenguknya dan menjaganya dirumah sakit. Dan kadang dia memintaku untuk segera pulang beristirahat”.

“Awalnya aku  tidak mengetahuinya hingga suatu malam aku lupa membawa jasku dan kembali hampir tengah malam. Ketika aku hendak memasuki kamarnya, kudengar erangan dan tanggisan…”, tuan Mike menghentikan certanya sekali lagi. Kali ini aku melihat bibirnya bergetar.

“Istriku…, di…, dia…, menanggis kesakitan…, amat kesakitan. Ketika aku ingin segera masuk menemuinya, sebelum masuk kudengar dia berpesan pada suster yang menjaganya, “Suster, jangan pernah beritahu suamiku ya. Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin dia melihatku seperti ini. Aku tidak ingin dia bersedih. Dia sudah menjagaku selama ini, kini saatnya aku menjaganya agar tidak bersedih lagi. Janji ya suster…””.

Tuan Mike terdiam. Aku menutup mulutku supaya dia tidak mendengar tanggisku. Tuan Mike mengigit bibirnya. Aku tahu dia sedang menanggis. Aku tahu dia tidak ingin mengenang lagi kisah yang sangat menyakitinya itu, tetapi dia rela menceritakannya lagi padaku karena ada yang ingin dia sampaikan.

“Nona Angel. Tahukah mengapa setiap hari aku menyapamu dan semua yang lewat dengan sapaan yang sama setiap hari? Itu karena aku ingin kamu dan lainnya MENGHARGAI setiap hari yang kamu lalui. Dan ketahuilah, itulah yang istriku katakan setiap hari setiap pagi ketika aku menjenguknya dalam keadaan sakitnya”.

Kami terdiam. Kali ini aku benar-benar kehilangan kendaliku. Air mataku mengalir membasahi wajahku dengan cepat. Bahkan air mataku kali ini lebih banyak dibandingkan air mata luka dan beban yang barusan kualami. Aku memberanikan diri mengenggam tangannya memberi semangat. Dia tersenyum dan melihat kearahku.

“Nona Angel, kamu pasti merasa takut dengan wajahku yang sekarang bukan?…”, tanyanya ramah. Aku menggelengkan kepala dan ingin menbantah, tapi tuan Mike tidak memberiku kesempatan menjawabnya sambil melanjutkan perkataannya.

“Mataku…, kedua bola mataku…, aku donorkan pada mereka yang memerlukannya. Aku melakukannya karena aku tidak mampu melihat is…., melihat istriku…., is…triku….”, langsung aku melompat dan memeluknya. Kuhentikan ceritanya. Aku yang mendengar saja tidak sanggup mendengarnya lagi, apalagi dia sebagai suaminya yang bersamanya hingga akhir.

Aku menanggis tanpa kutahan lagi air mataku. Tuan Mike juga terisak-isak tanpa air mata. Bukan karena dia tabah tidak ingin menanggis, tetapi dia telah kehilangan matanya untuk membuktikan bahwa dia juga pria biasa yang bisa menanggis. Aku sangat sangat dan sangat menyesal telah menyebutnya buta karena emosi sesaat. Aku benar-benar menyesal.

“Terimakasih nona Angel, tapi aku sudah tidak apa-apa. Terimakasih mau mendengarkan kisah cengengku ya…, aku merasa beruntung bisa mengenalmu sekalipun dengan cara yang sedikit unik”, katanya sambil mengelus kepalaku.

“Seandainya saja aku bisa membantu meringankan bebanmu, aku bersedia membantumu. Tapi sebelumnya maafkan pria tua ini yang telah kehilangan matanya ya, apapun yang kulakukan jadi lambat dan usiaku juga telah melemahkanku”, lanjutnya lagi.

Kugenggam tangannya, kataku padanya.

“Tuan, anda sama sekali tidaklah lemah. Mungkin fisikmu dimakan usia, tetapi hatimu berkali-kali lebih kuat dibandingkan yang kupunya. Tuan juga tidak cengeng, akulah yang cengeng dengan kondisiku. Dan tahukah tuan bahwa doaku semalam dikabulkan Tuhan?”.

“Aku berdoa pada-Nya dalam putus asa apa yang ingin diajarkan-Nya sehingga diberi cobaan yang begitu berat. Ternyata, Dia justru mengirimkan seorang malaikat yang begitu baik dan bijak menasehatiku dan menyadarkanku”.

“Tuan, seandainya aku boleh jujur, aku begitu malu dengan diriku. Aku mengira hidupku telah hancur karena aku ditinggal pacarku yang begitu kucintai. Tetapi setelah mendengar cerita anda, aku merasa arti kehilanganku tidak ada apa-apanya….”, kataku masih terisak. Tuan Mike mengelus kepalaku lagi.

“Hohoho…, tidak ada luka yang tidak sakit. Jika sakit, katakan sakit. Menanggislah jika itu membuat hatimu lebih lega. Sesungguhnya aku juga bukan seorang pria yang kuat seperti bayanganmu, buktinya aku memilih mendonorkan mataku hanya karena tidak mampu melihat istriku menderita….”.

“Masalah tentang kerja, sahabat pena, keluarga maupun dia yang tercinta adalah luka yang tidak terlihat mata dan membekas dijiwa. Sesungguhnya, masalahlah yang membuat kita dewasa ketika kita BERANI menghadapinya, dan untuk belajar itu, aku harus kehilangan tercintaku dahulu”.

“Sekedar mengingatkanmu kembali nona muda, ketika istriku terbaring lemah dengan sakitnya yang luar biasa, dia masih melihat HIDUP SEBAGAI SESUATU YANG INDAH. Ketika orang lain bertanya, “Mengapa kamu masih bisa bersemangat dengan kondisi seperti itu?”, istriku malah balik bertanya, “Mengapa kamu yang sehat yang seharusnya bersemangat justru terlihat sakit seperti aku?””.

“Nona muda, aku telah belajar dari berpuluh-puluh tahun pengalamanku terutama dari istriku. Itulah mengapa aku selalu didepan toko bunga ini menyapa mereka yang berlalu lalang dipagi hari. Aku ingin mengingatkan mereka bahwa HIDUP ITU INDAH, SETIAP HARI ITU INDAH, dan bahkan kamu masih bisa bangun pagi ini dan bekerja itu adalah ANUGERAH YANG TERINDAH”.

“Ingatlah ini nona muda sebelum kita berpisah…”, pinta tuan Mike sambil mengantarku kedepan pintu tokonya. Dia mengelus kepalaku dengan penuh sayang. Lalu dia tersenyum dan melanjutkan nasehatnya yang tidak akan pernah kulupa.

“Dalam seminggu ada 7 hari, tetapi setiap hari selalu ada satu orang didunia ini yang sudah tidak bisa menikmatinya  lagi. Nikmatilah bukan karena kamu percaya bisa menikmatinya lagi, tetapi nikmatilah seakan tidak ada besok lagi”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s