Topi dan payung


Disebuah pohon nan rindang,  terlihat seorang wanita yang berbalut gaun putih menanggis tersedu-sedu. Karena isak tanggisnya yang begitu sendu, sepasang burung kecil yang mendengarnya diatas pohon terbang turun menghampiri wanita ini.

“Wahai nona muda, mengapakah kamu menanggis?”, Tanya burung kecil ini sambil mengeluskan kepalanya pada wajah wanita ini menghapus air matanya. Sedangkan burung kecil yang satunya memetik setangkai mawar merah dan disematkan ketelinganya.

“Terimakasih burung kecil, tapi aku sangat sedih. Aku mempunyai seorang kekasih yang sangat aku cintai dan dia meninggalkanku. Hari ini adalah hari ke-100 dia meninggalkanku…”, jawab wanita ini terisak-isak. Mendengar jawaban itu, kedua burung kecil ini saling berpadangan penuh arti.

“Nona muda, kalau boleh aku bertanya, apakah ini topimu?”, Tanya burung kecil yang tadi memberinya setangkai bunga. “Iya…”, jawab wanita ini pelan. “Apakah kamu sangat menyukai topi ini? Seringkali kami melihatmu dari angkasa kemana-mana kamu selalu memakai topi ini apalagi disiang terik begini”, lanjut burung kecil.

“Iya, aku sangat menyukainya. Topi ini adalah pemberian dari kekasihku…, tapi sekarang dia meninggalkanku…”, jawab wanita ini terisak lagi. Tiba-tiba burung kecil yang memberinya bunga langsung mengambil topi tersebut dan terbang keangkasa. Lalu dibuangnya.

“Apa yang kamu lakukan…?!”, teriak kecil wanita ini sambil mengejar topi itu. Tetapi, tuan angin berhembus membawanya pergi jauh. “Tidakkk….”, teriak wanita ini begitu pilu. “Te…, Teganya kamu membuang kenanganku. Hanya topi itu yang mengingatkanku tentang dia…”, teriak lagi wanita ini pada sepasang burung kecil sambil jatuh terduduk lesu.

Burung kecil yang membasuh air matanya tadi terbang menghampirinya. Lalu ia duduk dipangkuan wanita ini. Katanya.

“Nona muda, mengenang masa lalu memang tidak salah. Tetapi jika kamu MENETAP disana adalah salah. Masa lalu seindah apapun ia telah berlalu. Masa lalu seperti malam hari, kamu terpesona dengan terang ratu bulan dan kedip pangeran bintang. Kamu tidak ingin melupakannya dan untuk itu kamu tidak mau memejamkan mata karena kamu takut semua akan menghilang”.

“Tetapi, semakin kamu tidak memejamkan mata, semakin BERAT matamu dan ketika tanpa kamu sadari akhirnya kamu HARUS kembali kekerajaan mimpi. Dan ketika kamu mendapati raja mentari telah membangunkanmu dengan belaian hangatnya, kamu begitu marah mengapa mereka tega membiarkanmu tertidur”.

“Ingatlah nona muda, jika ada malam akan selalu ada siang. Dan jika ada siang akan selalu ada malam. Kamu tidak bisa hanya karena ada satu malam yang memberimu kenangan indah, kamu menolak siang. Dan jangan pula hanya karena satu siang yang membakar tawamu kamu memohon malam”.

“HIDUP adalah kombinasi tawa dan air mata, dan keduanya satu paket yang tidak bisa dipisah”.

“Jika aku dan pasanganku boleh memilih, kamipun ingin memilih tidak perlu susah payah mencari makan untuk anak-anak kami. Tidak perlu cemas menjaga siang dan malam agar telur kami tidak diincar musuh alami kami. Tidak perlu melawan hujan badai agar kami tidak jatuh dari ketinggin pohon ini”.

“Tetapi kami tidak bisa dan kamipun tidak ingin mempedulikannya sekalipun kami terluka. Mengapa? Karena kami tahu ketika telur kami menetas, ketika anak-anak kami tumbuh besar dan bermain diangkasa bebas, semua luka dan beban itu LEPAS. Karena itulah kami MENIKMATI apa yang kami lakukan setiap hari sekalipun itu adalah rutinitas yang tidak menarik bagi mata yang melihatnya”.

“Selayaknya dirimu nona muda, memang adalah hal yang menyesalkan kamu harus kehilangan yang sangat kamu cintai apalagi dengan cara ditinggalkan. Tetapi, apakah itu membuatmu bahagia dengan mengasihi diri sendiri dan marah? Dan kepada siapa kamu marah? Kepada dia yang meninggalkanmu? Mungkin sekarang dia sedang berbahagia dengan yang lainnya. Kamupun pantas mendapatkan kebahagiaan itu”.

“Tetapi, jika kamu tidak mau MELEPASKAN luka itu, bagaimana kamu MENGUNDANG bahagia? Dan seandainya tuan bahagia yang sengaja datang mengunjungimu, melihatmu yang MENUTUP pintu, bagaimana ia masuk?”.

Wanita ini yang tadinya tersedu-sedu mulai menghentikan tanggisnya. Cuaca yang tadinya terik berubah menjadi gelap. Tuan hujanpun membasahi bumi. Burung kecil yang tadi memberinya bunga terbang kecil membawa untaian bunga yang berbentuk mahkota sederhana dan dipakaikan pada kepala siwanita.

“Nona muda, lihatlah langit ini. Tadi begitu terang sekarang berubah hujan. Apakah kamu juga akan menyalahkan karena tidak bisa pulang?”, Tanya burung kecil yang duduk dipangkuannya. Wanita muda ini terdiam sejenak. “Jika…, jika ada topi tadi aku mungkin bisa memakainya dan berlari pulang…”, jawab wanita ini pelan.

Dua burung kecil ini saling berpandangan. Lalu burung yang memberinya bunga dan mahkota terbang keatas pohon. Tidak lama kemudian ia turun dan mendekati pasangannya sambil berbisik kecil. Keduanya tersenyum penuh arti.

“Nona muda, setiap pertemuan yang kamu lalui selalu ada makna dibaliknya. Ada yang memberimu tawa. Ada yang memberimu luka. Tetapi yang terutama, mereka menarik sisi terbaikmu keluar daripada dirimu”.

“Kamu yang sekarang seperti hujan ini. Kamu berteduh tidak berani keluar karena takut basah. Kamu merasa nyaman dengan berlindung dibawah pohon ini dengan berbagai alasan yang ada. Tetapi pernahkah kamu berpikir bahwa hujan juga akan membawakanmu bahagia?”.

Wanita ini mengangguk pelan ragu. Burung kecil yang melihatnya terbawa kecil. Lalu keduanya menarik tangan siwanita ini memintanya agar bermain hujan dengan mereka. “Ayo, nikmati apa yang bisa kamu nikmati sayang…”, pinta burung kecil. Dengan perasaan enggan tapi penasaran wanita inipun melangkahkan kakinya.

“Dingin…”, teriaknya kecil ketika hujan mengelitik kakinya. Lalu dia pun melompat kecil keluar sambil memeluk dirinya sendiri. “Dingin….”, teriaknya lagi, tapi wajahnya terlihat sangat menikmati. “Aww…”, teriaknya lagi ketika beberapa ekor tupai berlari-lari kecil disekelilingnya bermain air.

“Hihihi…”, tawanya kecil. Ia telah lupa dinginnya. Mereka bermain dengan ceria hingga sebuah suara ramah menyapa mereka. “Bolehkah aku bergabung dengan kebahagiaan ini?”. Wanita ini terkejut kecil ketika disapa. Lalu dia berbalik melihat siapa gerangan pemilik suara ramah ini.

Bola mata biru sebiru angkasa. Rambut panjang keemasan selembut sutra. Tubuh tinggi tegap mempesona. Seorang pria yang sangat tampan bagaikan pangeran. Wanita ini yang melihatnya merasa wajahnya panas. Padahal saat ini dia diguyur hujan. Pipinya merona merah.

“Bo…, boleh saja…”, jawabnya malu-malu sedikit tertunduk. Pria tampan ini tersenyum dan meletakkan payungnya. Lalu dia menarik tangan wanita ini bersama para tupai dan burung lain mengikutinya. Sebelum wanita ini berlari mengikuti pria tampan ini, terdengar bisikan kecil sang burung kecil.

“Kadang, Aku sengaja membuang topimu yang hanya melindungi dirimu saja supaya kamu bisa mendapatkan payung yang bisa melindungi kamu berdua. Kadang, Aku memberikan hujan dikala terik mentari supaya kamu mengerti ada yang hendak Aku beri. Dan untuk MENGETAHUI kamu tidak bisa berharap pada mata dan telingamu, yang harus kamu lakukan adalah MENSYUKURI semua nikmat-Ku, apapun itu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s