Jangan mengejar kebahagiaan. Ciptakanlah.


“Hmm…”, sambil berkaca merapikan rambutnya yang hitam panjang selembut sutra. Sekali-kali terlihat wanita ini bergaya sendiri dikaca mengagumi dirinya sendiri dengan bangga.

“Rambut kamu bagus sekali sayang seperti biasanya…”, terdengar suara pria yang lembut dari belakangnya. Wanita ini tidak menoleh, ia tetap saja asyik mengagumi rambutnya yang indah. Pria yang memujinya tadi lalu mengambil sebuah sisir dan merapikanya. Saat sedang merapikan, pria ini menemukan sehelai uban di rambut indah wanita ini.

“Wah, sayang…, aku menemukan sehelai rambut putih nih…”, katanya lembut kepada wanita ini. “Mana? coba perlihatkan padaku”, pinta wanita ini santai. “Cuma sehelai saja, biarkan saja…”, lanjutnya tersenyum dikaca. “Ya, cuma sehelai saja, dan lagian itu tidak akan merusak keindahan rambutmu dan kecantikkanmu”, puji pria ini dan melanjutkan merapikan rambut wanita ini.

Hari-hari berlalu, wanita ini pun begitu bahagia menikmati harinya dengan rambut indahnya  seperti hari-hari sebelumnya. Hingga suatu hari wanita ini secara tidak sengaja bertemu dengan teman-temannya disebuah salon ternama.

“Hai Michelle, apa kabar…”, sapa seorang wanita muda yang berpenampilan menarik sambil memeluknya. Wanita pemilik rambut indah ini juga membalas memeluknya. “Kabarku baik sayang, apa kabarmu?”, tanyanya kembali. Kabarku juga baik, terimakasih. Yuk, kesana dulu, teman-teman kita yang lain ada datang juga. Kebetulan sekali ya semua bisa bertemu disini”, kata wanita muda ini sambil menarik tangannya.

“Wah Michelle, rambutmu selalu terlihat cantik dari dulu ya. Apa sih rahasianya?”, tanya seorang wanita yang duduk disampingnya sambil mengelus rambutnya. Michelle hanya tersenyum tersipu. “Tidak ada rahasia yang wah, aku hanya merawatnya seperti biasa. Dan dalam sebulan sekali aku datang kesalon ini. Itupun hanya sekedar merapikan seadanya saja”, jawab Michelle ramah. “Ck ck ck…, dari dulu kamu memang paling pandai menjaga rambutmu dan itu selalu terlihat cantik”, lanjut wanita disampingnya tersebut.

“Tunggu dulu…”, tiba-tiba seorang temannya menegurnya. Lalu dia berdiri dan memeriksa rambut Michelle. “Ada apa?”, tanya Michelle bingung dan juga teman lainnya. “Kamu udah ubanan ya? Nih aku lihat ada beberapa disini”, tanya wanita yang tadi tiba-tiba menegurnya. “Oh… itu…, aku memang ada tumbuh beberapa helai uban. Dan rasanya wajar bukan dengan usiaku yang menginjak awal kepala tiga”, jawab Michelle santai.

Teman-temannya melihat dengan mata yang hampir melompat keluar.

“Kenapa?”, tanya Michelle bingung. “Sayang, kamu masih muda. Kepala tiga bukan menjadi alasan bahwa kamu boleh santai-santai saja. Nanti akan semakin banyak lho dan kecantikkan dan keindahan rambutmu akan ternoda”, kata temannya diiyakan semua temannya juga. Malamnya, Michelle tidak bisa tidur karena memikirkannya.

Ketika matahari pagi mencuri masuk menyelimuti ranjang sang tuan rumah, pagi itu matahari mendapati sang tuan rumah sudah tidak ada disana. Biasanya, matahari pagi yang membangunkannya. Tetapi pagi ini, sang tuan rumah telah bangun lebih awal dan duduk sibuk dimeja riasnya.

“Mengapa sekarang tumbuh lagi ubanku sih?”, keluh Michelle diawal paginya sambil sibuk mencari uban dikepalanya dan dicabut. Suaminya yang mendapatinya awal-awal sudah bangun pun merasa sedikit heran.

“Sayang…, pagi-pagi sudah dimeja rias? ada acara apa nanti?”, tanya lembut suaminya sambil memeluknya dari belakang dengan mesra seperti biasanya. “Maaf sayang, aku lagi sibuk nih. Aku tidak ada acara apa-apa, cuma .., ubanku bertambah lagi…”, jawab Michelle dengan nada agak kesal dan terus mencari sisa-sisa uban yang ada. Suaminya yang melihat istrinya kesal hanya karena uban beberapa helai saja tersenyum.

“Sini aku bantuin kamu cari, biar lebih cepat”, suaminya menawarkan diri membantu. Setelah beberapa menit, akhirnya semua uban itu berhasil disingkirkan dari kepala Michelle. Lalu dia berkaca dan tersenyum puas. “Makasih ya sayang, sekarang aku pede tanpa uban…”, jawab Michelle sambil mengecup suaminya. Suaminya hanya tertawa kecil. Jawabnya. “Sebanyak apapun ubanmu, aku akan tetap mencintaimu sayang”, sambil membalas mengecup istrinya.

Bulanan berlalu sejak pagi itu. Dan pada pagi ini, hampir seminggu sang matahari tidak berkesempatan membangunkan sang tuan rumah lagi. Dan seperti pagi yang lalu, Michelle sibuk dimeja riasnya. Kali ini lebih lama, kali ini lebih kesalnya.

Ketika suaminya menghampirinya, tidak ada lagi sebuah pelukan hangat seperti biasanya. Tidak ada lagi kata-kata sayang. Yang ada hanyalah kebisuan. Michelle sibuk mencari ubannya yang menurutnya semakin bertambah, suaminya juga menyibukkan diri merapikan pakaiannya hendak berangkat bekerja. Hangat matahari pagi itu tidak bisa menghangatkan hati yang telah dingin.

Mengapa bisa suaminya yang penuh hangat dan berkata akan selalu mencintainya sebanyak apapun ubannya tiba-tiba menjadi dingin? Tentu saja ada sebabnya.

Michelle yang selalu ceria dan tidak terlalu mempedulikan uban itu, hampir setiap pagi bangun dan mengurus ubannya itu. Bagi seorang wanita terutama wanita seperti Michelle yang begitu merawat rambutnya agar terlihat sempurna, uban adalah sebuah masalah.

Suaminya yang menyadarinya berusaha untuk menghiburnya dan menyakinkan bahwa baginya uban itu tidak masalah.  Karena yang dicintainya adalah wanita yang telah dinikahinya dan segala kekurangannya itu yaitu dirinya sendiri. Tetapi karena telah terlalu terfokus pada uban itu terutama pendapat teman-temannya yang diyakininya “benar”, maka lama-lama menjadi KEBENARAN BARU.

Baginya, rambut itu kebanggannya, pesonanya terutama kebahagiannya. Jadi ketika rambut itu mulai “ternoda”, ia takut kehilangan bangganya, pesonanya dan juga kebahagiaannya. Jadi cara termudah untuk mengembalikan bangganya, pesonanya dan kebahagiaannya adalah, menyingkirkan uban yang menodai kepalanya. Dan tidak peduli bagaimana caranya, asalkan warna putih itu menjadi hitam kembali warnanya.

Salon yang hanya sebulan dikunjungi sekali, kini berganti beberapa kali.
Salon sederhana yang dikunjungi dengan ceria, kini berganti salon ternama dengan perasaan gelisah.
Hari-harinya yang menyenangkan tanpa mempedulikan pandangan orang, sekarang kemana-mana gelisah takut dicibir karena uban dikepala.

Suaminya yang  mencoba menyakinkannya agar jangan terlalu mempedulikan pendapat orang yang belum tentu benar, belum sempat selesai bicara sudah dipotong olehnya. Dia  menyalahkan suaminya yang tidak mengerti perasaannya. Dia juga mengatakan suaminya telah menjelekkan teman-temannya yang berkata “benar”. Akhirnya pertengkaranpun tidak dihindari.

Hasilnya, setiap pagi diisi kebisuan dan setiap malam diisi keheningan.

Terlalu mengada-gada? Mungkin iya. Tapi inti cerita yang ingin disampaikan bukanlah tentang uban itu tetapi tentang Michelle (kita).

“Semakin kamu mengejar kebahagiaan, semakin kamu tidak bahagia karenanya”

Apa yang dialami Michelle adalah hal yang sudah biasa. Tetapi itu akan menjadi masalah jika kamu terlalu MEMBENARKANNYA. Michelle mungkin bisa menghilangkan uban itu dengan menghitamkan rambutnya dengan produk dunia yang ternama dan mahal harganya, dan saya pastikan bahwa Michelle akan kembali bahagia ketika ia berkaca dimana helaian-helaian putih itu telah menghilang dari kepalanya.

Pertanyaannya, sampai kapan?

Ketika saya, kamu maupun semuanya MEMBENARKAN atau MENSYARATKAN sebuah kebahagiaan dengan SESUATU, apakah itu harta, apakah itu tahta, apakah itu pasangan yang wah maupun lainnya, kita telah kehilangan BAHAGIA SESUNGGUHNYA.

Kita sering mengartikan sebuah kebahagiaan dengan MEMBANDINGKANNYA dengan tawa orang lain. Dan yang lebih menyedihkan adalah, kita, seringkali secara tidak sadar MEMPERCAYAI apa yang dikatakan orang lain.

Ketika kita melihat teman kita bahagia dengan memiliki mobil baru, kitapun mempercayainya harus punya mobil pasti bahagia.
Ketika kita melihat saudara kita bahagia dengan memiliki rumah seperti itu, kitapun mempercayainya pasti bahagia dengan rumah seperti itu.
Ketika kita melihat orang lain bahagia dengan pasangan yang ganteng atau cantik, kitapun mempercayainya akan bahagia jika bisa mendapatkan pasangan seperti itu.

Dan ketika kamu mendapatkannya, apakah kamu bahagia?

Sejujurnya saya tidak tahu, tapi dari yang kulihat dari teman-temanku dan beberapa kenalan yang memang dari kalangan menengah keatas, kebahagiaan itu masih jauh.

Apa ada yang salah?

Ya, ada yang salah, mereka mengejar kebahagiaan itu dengan cara menghitamkan uban yang dikepala.

Uban (masalah atau penyebab ketidak-bahagian) Michelle sebenarnya pasti akan muncul dan itu tidak bisa dihilangkan. Tetapi ketika Michelle terlalu “menyayangi” sehelai putihnya daripada ribuan hitamnya, Michelle sama saja MENGFOKUSKAN tidak bahagia daripada bahagia itu sendiri.

Saat pertama kali uban itu muncul dikepalanya disebuah salon sederhana langganannya, ia tidak mempedulikannya. Mengapa? karena ia melihatnya BUKAN SEBAGAI MASALAH, tapi BAGIAN dari rambutnya. Dan Michelle juga tahu, itu tidak akan mengurangi keindahan rambutnya apalagi mempengaruhi harinya.

Tetapi semua berubah, ketika Michelle MEMPERCAYAI perkataan teman-temannya. Dan lebih parahnya, dia menyakininya dengan “kebenaran” yang baru dilihat maupun didengarnya. Dia percaya karena ubannya mulai “berbunga”  suaminya menjadi tidak hangat lagi padanya. Dia percaya bahwa karena ubannya harinya menjadi tidak bahagia. Seandainya Michelle mau MENYADARINYA, bukan uban itu yang membuatnya tidak bahagia. Tetapi dia sendiri yang membuatnya tidak bahagia dan menjauhkan suaminya dengan ALASAN uban yang dikepalanya.

Dan itulah yang sering kita lakukan dengan MENCARI ALASAN MEMBENARKAN ketidak bahagiaan kita.

Kita tidak bahagia karena miskin.
Kita tidak bahagia karena gaji kita kecil.
Kita tidak bahagia karena suami/istri yang tidak pengertian.
Kita tidak bahagia karena mobil atau rumah yang belum sesuai impian.
Kita tidak bahagia karena blah blah blah….

Kebahagiaan itu sebuah PERASAAN yang timbul dari hati. Bukan yang timbul karena dibeli, diminta ataupun dicari.

Seperti uban, ketika kamu mempercayainya itu merusak penampilanmu, maka ia menjadi benar merusak penampilanmu bahkan harimu. Tetapi jika kamu mempercayainya itu tidak akan merusak penampilanmu, sebanyak apapun ia bertumbuh, kamu justru mendapati harimu tetap menyenangkan.

Sekali lagi,

Kebahagiaan bukanlah berarti kamu memiliki sesuatu yang luar biasa, tetapi justru bagaimana kamu MENSYUKURI apa yang telah kamu miliki dengan cara yang LUAR BIASA.

Definisikan arti bahagiamu sendiri tanpa embel-embel SYARAT yang harus dipenuhi. Kamu bisa memulainya dengan berkata, “Kebahagiaanku adalah aku masih diberi tubuh yang sehat, masih bisa berkumpul dengan keluarga tercinta, masih bisa bercanda tawa dengan sahabat-sahabat baikku dan masih bisa bekerja dengan baik”. Dan ketika Tuhan memberikanmu rejeki berlimpah, BERBAHAGIALAH, tapi jangan jadikan itu sebagai penyebab utama yang membuatmu bahagia. Karena kamu yang berbahagialah, rejeki Tuhan padamu berlimpah.

Dan ketika kamu dalam kekurangan, bahkan telah mempunyai “kebenaran” mengapa kamu tidak bisa/tidak pantas bahagia, BERBAHAGIALAH. Kekurangan bukan berarti kamu tidak bisa berkelimpahan apalagi dijadikan alasan tidak bisa mendapatkan kebahagiaan. Kamu masih bisa bangun pagi ini saja sudah merupakan sebuah kebahagiaan yang sempurna. Coba lihat mereka yang mendapati orang yang sangat mereka sayangi sudah tidak bisa bangun lagi…

Tuhan mempunyai rencana-Nya yang terbaik untukmu dan semua umat-Nya. Buktikanlah bahwa kamu SABAR menanti rencana-Nya dengan segala usaha terbaik dan baik yang kamu lakukan.

Ingatlah.

Bahagia itu GRATIS. Bahagia itu MENULAR. Bahagia itu MEMBAHAGIAKAN TUHAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s