Pemuda dan pelukis tua


Suatu hari, seorang pemuda duduk bingung dan melamun disebuah bangku taman kota. Dari lukisan wajahnya bisa dipastikan pemuda ini sedang bersedih. Matanya berkaca-kaca dan sesekali ia memaki kecil sambil membaca surat yang dipegangnya.

Dalam kesedihannya itu, ia melihat seorang pria tua sedikit kewalahan mengeluarkan barang-barang dari mobil didepannya. Awalnya pemuda ini tidak menghiraukannya, lagipula, dia sendiri lebih memerlukan bantuan daripada pria tua itu yang didepannya, itu yang dipikirkannya.

“Ooh, terimakasih anak muda…”, kata pria tua ini ketika pemuda yang sedang bersedih ini membantunya membawa barang-barangnya. “Sekali lagi terimakasih nak…”, lanjut pria tua ini menunggu jawbanan pemuda ini.

“Maafkan aku tuan, panggil saja Mike…”, kata pemuda ini yang ternyata bernama Mike. Pria tua ini tersenyum. “Sekali lagi terimakasih Mike, namaku Wisely”, jawab pria tua ini tersenyum ramah. “Dan maafkan aku Mike, tadi aku melihat kamu terlihat sedikit bersedih dan agak marah, apakah ada yang bisa kubantu sekedar balas budi kecil ini?”.

Mike menghela napas panjang. “Sebenarnya hal yang biasa tuan Wisely, aku hanya marah pada diriku sendiri yang merasa tidak berguna. Mungkin aku tidak pantas menceritakannya, aku takut aku justru membuat hari tuan Wisely yang baik menjadi buruk”, kataku pelan. Dalam hati aku berharap ada seseorang mau mendengarkan ceritaku sekedar meringankan sesak dihati.

“Baiklah, mengapa kamu tidak mencoba?”, Tanya tuan Wisely sambil tersenyum. “Mencoba apa?”, tanyaku sedikit bingung. “Hohoho…, mencoba membuat hariku menjadi buruk dengan ceritamu”, jawabnya sambil menepuk pundakku. “Mari, temani aku dibawah pohon tua itu. Silakan memulai ceritamu anak muda…”.

Aku adalah seorang karyawan biasa disebuah perusahaan kecil dikota ini. Keseharianku sangatlah biasa tanpa ada yang perlu bisa dibangga. Bangun pagi, meminum secangkir kopi, berdesakan dikereta dan keluhan yang pertama ketika tiba ditempat kerja.

Setelah sore, aku pulang. Kadang mampir kecafe sebentar. Minum secangir kopi lagi dan berkumpul dengan teman-teman satu kantor sambil berlomba menceritakan hari siapa yang paling buruk. Kalau tidak pasti saling mengosipkan kebenaran yang belum terbukti kebenarannya.

Aku juga telah mempunyai pasangan dan aku sangat mencintainya. Sayangnya, semua itu harus berakhir hari ini setelah dua tahun lamanya kami membina hubungan cinta dan itu ditegaskan dalam surat yang kubaca barusan.

Apa yang kualami adalah hal yang telah biasa dialami oleh pasangan umumnya. Kami saling menuntut dan melihat kekurangan masing-masing dan ingin merubahnya seperti yang diinginkan kita. Padahal, sejak pertama aku jatuh cinta padanya justru karena kekurangannya yang unik itu, sekarang justru jadi senjataku memojokkannya.

Menyesal dengan segala keegoisanku itu? Sudah pasti. Itulah uniknya manusia jika tidak mau dikatakan buruk, kita baru menghargai sesuatu ketika kita kehilangannya.

Setelah hampir sejam lebih aku bercerita tentang ketidak-beruntunganku pada tuan Wisely, mengeluh dan segala beban dihati, aku merasa lebih enakkan. Kulihat tuan Wisely dengan seksama mendengarkan ceritaku, seakan dia sangat mengerti perasaanku. Padahal, kami baru saja bertemu bahkan tidak sampai sejam.

“Hmmm…”, dia berdegum, “Aku tidak tahu bahwa harimu begitu buruk, tapi menurutku ini justru bagus sekali kamu telah mengalaminya…”, lanjutnya membuatku bingung. Belum sempat aku bertanya, tuan Wisely memberiku sebuah kuas baru dan cat warna-warni. Lalu dia menyuruhku melukis. Apa saja.

Aku duduk bingung diam sambil memandangnya dengan bola mata membesar. Aku benar-benar bingung dibuatnya. Dan yang lebih membuatku bingung lagi, tuan Wisely berkata, “Kamu boleh melukis apa saja, tapi jangan sampai mengotori kanvas putih ini ya”, sambil memberikanku sebuah kanvas putih. Lalu tuan Wisely mulai melukis pemandangan disekitar taman itu.

Sejam telah berlalu, kanvasku masih putih. Kulihat lukisan tuan Wisely, dan sungguh luar biasa. Sangat indah dengan pemandangan sore hari ditaman ini. Begitu berwarna dan begitu mempesona. Tiba-tiba tuan Wisely melihat kearahku.

“Mengapa kamu membiarkan kanvasmu putih? Apakah kamu tidak mempunyai sesuatu yang ingin dilukis?”, tanyanya tersenyum ramah. Aku terdiam sejenak. Lalu kujawab tuan Wisely.

“Maafkan aku tuan Wisely, aku sebenarnya ingin melukis pemandangan juga. Tapi aku takut lukisanku tidak bagus sehingga menyian-nyiakan kanvas ini yang putih ini. Lagipula, tuan Wisely sendiri juga berpesan agar aku jangan mengotori kanvas ini bukan?”.

Tuan Wisely tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku.

“Hohoho…, maafkan aku anak muda karena menertawakanmu. Percayalah, aku bukan menertawakan dirimu sebenarnya, tetapi aku menertawakan diriku sendiri ketika aku seusia denganmu. Jawabanmu hampir persis dengan jawabanku dulu”.

“Anak muda, sesungguhnya kanvas ini adalah DIRIMU. Kamu telah mempunyai kuasnya, kamu telah mempunyai cat warnanya, dan yang perlu kamu lakukan adalah menggerakkan tanganmu bekerja melukis apa yang kamu inginkan pada kanvas itu”.

“Memang benar aku berpesan padamu agar jangan mengotori kanvas putih itu. Tetapi ingatlah ini juga, jika kamu tidak melukisnya, bagaimana aku tahu itu justru mengotori kanvasnya ataupun justru memperindah kanvas itu?”.

“Dan sekalipun kamu melukisnya tidak seindah gambaranmu, so what? Aku juga dulu tidak bisa melukis seperti sekarang ini. Tetapi aku berusaha, sedikit demi sedikit  dan akhirnya inilah lukisan yang kamu lihat dengan mata terpana bukan?”.

“Anak muda, maafkan pria tua ini. Aku bukannya mengguruimu, tetapi sedikit berbagi pengalamanku padamu. Seperti yang telah aku katakan, kanvas ini adalah dirimu. Dan kamulah yang menentukan apakah kanvas ini menjadi lukisan yang indah ataukah corat-coret keluhanmu semata”.

“Jangan terlalu mempedulikan apa pendapat orang tentang lukisanmu, apakah itu karena lukisanmu benar-benar buruk ataukah mereka yang iri karena tidak bisa melukis seindah kamu. Jika buruk, perbaikilah pelan-pelan, apa yang tidak bagus ubahlah menjadi bagus”.

“Dan jikalau kanvas itu telah kosong tidak bisa diisi lukisan lagi, KOYAKLAH lembaran kanvas yang penuh itu. Tuhan selalu memberimu KANVAS YANG BARU dalam hidupmu”.

“Jika kanvas yang dulu membuatmu menderita, lalu mengapa kamu masih menyimpan kanvas itu dan terus menatapnya? Koyak dan buatlah lukisan yang baru. Lukisan yang lebih indah dari lembar sebelumnya. Lukisan yang membuat mata terpesona”.

“Dan jika lukisan itu indah bagimu, kembangkalah dan indahkanlah juga mata lainnya dengan cara berbagi dengan mata lain yang INGIN melihatnya”.

“Mengapa aku mengatakan yang INGIN melihatnya?, karena seindah apapun lukisanmu akan ada mata dan kata-kata yang tidak menyetujuinya. Dan jika kamu terlalu mendengarkan kata-kata itu, semakin lama itu akan menjadi PEMBENARAN BARU pada kepalamu, dan akhirnya, lukisan itu menjadi tidak indah lagi lalu kamu akan mengoyaknya dan membuangnya”.

“Ketika kamu membuang lembaran lukisanmu, kamu masih bisa melukis lagi. Tetapi ketika kamu membuang semua kanvasmu, termasuk kuas dan cat warnamu, kamu telah membuang dirimu sendiri”.

“Anak muda, sebelum kita berpisah, ijinkan pria tua renta sok tahu ini memberi satu nasehat. Hidup itu indah apapun alasannya. Bunga akan mekar dan ia akan layu, lalu akan bertumbuh bunga indah lainnya. Jangan membuat dirimu menderita hanya karena kamu setiap hari MENATAP SATU LEMBAR LUKISAN yang menurutmu buruk”.

“Masih banyak lembaran kanvas putih baru yang bisa kamu lukis. Tetapi, ketika kamu sudah melukis dengan baik dan berusaha semaksimalmu dan itu membahagiakanmu, SATU LEMBAR PUN sudah cukup. Jangan MEMBANDINGKAN indahnya lukisan orang lain, itu lukisan MEREKA, bukan lukisanmu. Sekalipun kamu bisa MEMILIKI lukisan itu, itu tetap bukan lukisanmu”.

“Dan tahukah mengapa aku melukis pemandangan disini dengan matahari terbenam sedangkan matahari masih bersinar terang diatas kepala kita?”, Tanya tuan Wisely dengan senyuman ramahnya penuh arti.

Aku menggangguk dan membalas senyumnya. Aku mengerti sekali apa maksudnya. Lalu dia bertanya padaku, “Menurutmu, apa artinya?”.

Aku hanya memandangi lukisan itu, dan kujawab singkat dengan yakin.

“Anda sedang melukis MASA DEPAN yang indah”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s