Wortel dan kelinci


Disebuah hutan yang sangat indah, berdirilah sebuah kerajaan wortel yang sangat megah. Namanya Worteland. Raja kelinci memerintah dengan bijaksana dan rakyatnya hidup bahagia sejahtera.

Kisah ini diawali dua kelinci yang bersahabat baik. Kemana-mana mereka selalu bersama. Yang satu bertubuh tinggi putih besar dan kuat. Sedangkan yang satunya gemuk pendek dan ada bercak hitam menghias ditubuhnya. Tetapi sekalipun perbedaan fisik yang menyolok itu, mereka saling menghargai dan tidak membedakan satu sama lain.

Suatu hari, saat sedang asyik bermain dengan sahabat dan teman-teman lainnya, kelinci yang bertubuh tinggi menemukan dua tumpukkan kecil bibit wortel diatas batu karang. Lalu dipanggilnya sahabatnya itu. “saudaraku, aku menemukan dua bibit wortel nih, entah punya siapa. Bagaimana kalau kita mengambilnya dan menanamnya dirumah?”, Tanya kelinci bertubuh tinggi.

“Tapi ini mungkin punya orang lain saudaraku, kasihan kalau kita ambil…”, jawab kelinci bertubuh gemuk sambil memandangi sekelilingnya mencari siapa yang empunya bibit wortel ini.

Sikelinci bertubuh tinggi tertawa. Katanya, “Hahaha…, jika ini punya kelinci lain mengapa pula dia meletakknya disini tempat yang terlihat jelas. Jadi aku rasa ini tidak milik siapapun. Mungkin Tuhan yang menaruhnya disini supaya kita mengambilnya dan menanamnya”.

Walau merasa ragu, kelinci bertubuh gemuk mengiyakan juga. Lalu mereka mengambil seorang satu tumpukkan kecil dan ditanam dirumahnya masing-masing.

Hari-hari telah berlalu, wortel yang ditanam kelinci bertubuh tinggi tumbuh begitu sempurna. Ini terlihat dari daun-daunnya yang hijau mempesonakan mata dan besar sekali ukurannya. Padahal ini baru beberapa hari. Setiap kelinci lain  yang lewat pasti berhenti dan berdecak kagum mengaguminya.

Tetapi, wortel yang ditanam kelinci bertubuh gemuk justru tumbuh sebaliknya. Daun-daunnya sama hijaunya tetapi ukurannya kecil-kecil. Bahkan ilalang yang baru tumbuh lebih tinggi daripadanya. Sekalipun hasilnya tidak seindah sahabatnya, kelinci bertubuh gemuk ini tetap merawatnya dengan sukacita walaupun kadang dia sendiri bertanya mengapa bisa sedemikian berbeda dan apa yang salah.

Tidak terasa bulanan telah berlalu, dan pada beberapa bulan ini cuaca juga kurang bersahabat. Banyak wortel yang mati karena kekurangan air. Tetapi anehnya, wortel milik kelinci bertubuh tinggi ini justru tumbuh makin besar. Semua yang melihat langsung dengan mata kepala sendiripun masih tidak percaya. Bagaimana mungkin wortel ini bisa bertumbuh sebesar ini, dan buahnya pasti besar sekali.

Mendengar pujian-pujian yang mengindahkan telinga membuat kelinci bertubuh tinggi ini menjadi bangga. Banyak yang datang memberinya selamat dan salut karena dalam cuaca seperti ini dia bisa merawatnya dengan baik.

Karena selalu mendapatkan pujian, kelinci bertubuh tinggi ini mulai kehilangan kendali diri. Jika dulu semua yang datang sekedar untuk mengagumi wortelnya diberi kebebasan untuk melihatnya, sekarang ia mulai melarang untuk terlalu dekat melihatnya. Bahkan ia mulai mendirikan pagar-pagar kecil penghalang disekitarnya.

Kata-katanya juga mulai berubah, jika dulu kata-katanya selalu rendah hati jika ditanya bagaimana caranya dia merawat wortel itu, kini dengan membusungkan dada mengatakan bahwa dialah sendiri yang merawatnya dengan segala pupuk rahasia yang ada. Semakin lama rendah hatinya dimakan pujian dan bangga yang membutakan mata dan telinga.

Akhirnya, pada hari menuai hasil pun tiba. Cuaca yang selama ini tidak bersahabat hampir menghabiskan semua cadangan makanan dinegeri Worteland. Raja Worteland mendengar bahwa ada satu rakyatnya yang mempunyai wortel yang luar biasa. Raja berpikir, mungkin darinya dia bisa meminta beberapa bibitnya sehingga bisa ditanam dan dibagikan pada rakyat lainnya.

Melihat raja berkunjung bersama para prajuritnya, kelinci bertubuh tinggi ini senang luar biasa sekali. Disambutnya dengan senyuman lebar dan penuh bangga. Lalu diperlihatkan wortel kebanggaannya pada sang raja sambil memuji diri sendiri.

Raja yang melihatnya juga sangat takjub, bagaimana mungkin dikala wortel yang lainnya mati justru wortel kelinci bertubuh tinggi ini tumbuh subur. Atas permintaan sang raja, kelinci bertubuh tinggi mengiyakan bahwa dia akan memberikan bibitnya dengan hadiah emas dan permata.

Lalu raja memerintahkan agar para prajuritnya mencabut wortel berdaun menakjubkan besar itu. Tarikkan pertama terasa sulit, lalu, “Plop..”, tarikkan kedua begitu mudah. Saat melihat wortel itu, betapa terkejutnya semua mata yang melihat. Wortel itu kecil sekali, daunnya saja yang besar.

Yang lebih terkejut lagi adalah dipemilik wortel ini yaitu kelinci bertubuh tinggi. Dia hampir tidak percaya apa yang dilihatnya. Lalu dia memerintahkan agar prajurit raja mencabut wortel lainnya. Para prajurit melihat raja mereka. Raja mengangguk mengiyakan. Dan, “Plop…”, hasilnya sama.

Betapa kecewanya semua yang hadir disitu. Entah sudah berapa banyak wortel yang telah dicabut dan hasilnya sama. Raja yang melihat juga merasa kecewa. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan pemiliknya. Dalam kekecewaan itu, datanglah sahabat kelinci bertubuh tinggi yaitu kelinci bertubuh gemuk.

Dengan rendah hati kelinci bertubuh gemuk ini menawarkan diri ingin memberikan sebagian bibitnya sehingga bisa dibagi dengan lainnya. Ia juga menjelaskan bahwa wortelnya tidak semenakjubkan wortel sahabatnya, tetapi setidaknya masih bisa ditanam dan bertahan dicuaca seperti ini.

Sang raja setuju dan mengajak prajuritnya kesana. Bisa terlihat dimata mereka masih ada kekecewaan dan tidak berani terlalu berharap lagi. Wortel yang menakjubkan saja isinya kecil apalagi yang biasa?

Ketika sampai dirumah kelinci bertubuh gemuk, memang benar apa yang dikatakan pemiliknya. Semuanya berdaun kecil dan biasa. Malah beberapanya seperti baru tumbuh. Dan yang lebih aneh lagi, kelinci bertubuh gemuk ini menanam wortelnya jarang-jarang dan berjauhan.

Karena telah sampai disana dan tidak ingin membuat rakyatnya kecewa, sang raja meminta agar prajuritnya mencabut wortel itu. Kali ini raja meminta semua rakyatnya berdoa dan mensyukuri apapun hasilnya.

“Hhhmmppphhh…”, Tarikan pertama terasa sulit.
“Hhhmmppphhh…”, Tarikan kedua juga masih sulit.
“Hhhmmppphhh…”, Tarikan ketiga juga tidak membuahkan hasil.

Karena tidak bisa ditarik dan semua yang melihat juga bingung, raja tiba-tiba berteriak kecil agar semua memakai tangan mengalinya. Awalnya semua bingung, tapi tindakan raja yang tidak bisa ditebak yang langsung sendiri mengali membuat lainnya ikut tanpa diperintah lagi.

Dan hasilnya, wortel yang mereka dapatkan hampir 20 kali lipat lebih besar dari yang pernah mereka lihat. Bahkan untuk mencabutnya diperlukan berpuluh-puluh kelinci. Semua mata memandang tidak percaya, apalagi sahabat sikelinci bertubuh gemuk. Mereka mendapatkan bibit yang sama. Menanam ditanah yang sama. Tetapi hasilnya begitu berbeda.

Raja yang melihat hal tersebut sangat takjub dan bertanya, “Saudaraku, apa rahasianya kamu bisa mempunyai wortel yang sangat menakjubkan ini? Kirannya saudaraku mau berbagi dengan kita semua yang ada disini”.

Kelinci bertubuh gemuk tertawa kecil, jawabnya.

“Sejujurnya aku juga terkejut yang mulia. Aku tidak mempunyai rahasia apa-apa yang bisa kubagikan. Aku menemukan bibit ini saja secara tidak sengaja bersama sahabatku. Lalu kami membawanya pulang dan menanamnya bersama-sama dirumah masing-masing”.

“Aku menyiram seperti biasanya. Aku menjaga seperti biasanya. Mungkin yang membedakannya aku melakukannya dengan hati gembira dan berdoa”.

“Lalu apa bedanya denganku? Aku juga melakukan hal yang sama sepertimu, bahkan mungkin lebih. Aku juga berdoa supaya Tuhan memberikan wortel terbaik padaku…”, Tanya sahabatnya kelinci bertubuh tinggi menyela tidak mengerti. Kelinci bertubuh gemuk ini tersenyum.

“Ya, aku tahu sahabatku, kamu pasti lebih baik dalam merawat wortelmu dan itu terbukti dengan wortelmu yang luar biasa menakjubkan dan indah. Yang membedakannya mungkin NIAT dan ISI DOA kita”, jawab kelinci gemuk sambil tersenyum.

“Apa ISI DOAMU?’, Tanya sang raja tersenyum bangga. Kelinci bertubuh gemuk menjawabnya.

“Sahabat baikku berdoa agar Tuhan memberikan wortel terbaik padanya dan Tuhan telah mengabulkannya. Sedangkan aku berdoa agar diberikan wortel yang terbaik juga sehingga aku bisa BERBAGI dengan lainnya, dan Tuhan mengabulkannya”.

“Sahabatku meminta yang terbaik untuk dirinya, maka Tuhan memberikan sesuai permintaanya. Sebuah wortel terbaik yang pernah dilihatnya. Aku juga meminta yang terbaik, tetapi bukan hanya untukku melainkan untuk yang lainnya yang membutuhkan juga”.

“NIATku adalah aku ingin membagikan wortel ini, dan Tuhan mengabulkan doaku dengan cara membesarkan ISI. Tuhan itu Maha Tahu, dan Dia tahu bahwa yang aku butuhkan bukanlah apa yang dilihat dan dibanggai mata, tapi ISInya yang DIBUTUHKAN yang bisa DIBAGI dan DINIKMATI SESAMA”.

Itulah gambaran umum yang sering kita lihat dikehidupan kita. Kita diberi BIBIT oleh Tuhan. Bibit yang sama pada semua orang. Lalu kita dengan usaha keras merawatnya dan menjaganya agar bibit itu bertumbuh sempurna. Dan, memang bertumbuh indah.

Lalu ketika bibit itu bertumbuh semakin tinggi dan besar, kitapun menjadi merasa “tinggi dan besar”. Kita menjadi “tinggi” dengan kata-kata kita, dengan status kita. Kita menjadi “besar” dengan perbuatan kita, dengan perlakuan kita pada sesama. Dan akhirnya, kita menutup mata dan telinga.

Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Dia yang empunya bibitnya dan dia yang membesarkannya.

Tetapi, ketika waktunya telah tiba, apakah kita siap ketika Tuhan bertanya, “Aku lapar, dan Aku ingin meminta buahmu. Seberapa BESAR dan MANIS buah yang dulu masih bibit kutitipkan padamu?”.

Jawabanmu? (^_^)

Jangan jawab padaku. Tanyakanlah pada diri kita masing-masing.

Ingatlah, Tuhan tidak melihat daun/pohonnya (segala puji puja dunia), tetapi buahnya (hati).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s