Aku dan temanku


Seringkali aku bertanya, “Mengapa aku tidak bisa seperti mereka yang dilahirkan dengan segala kemewahan? Tidak perlu susah payah bekerja bekeringatan. Tidak perlu menanggis disudut ruangan menahan olokan”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Aku juga rajin beribadah. Aku setiap hari berdoa. Aku selalu berusaha, aku bahkan rela bekerja dua kali lebih lama. Tetapi, mengapa aku selalu tidak jauh dari tempatku sekarang berada?

Ketika aku ingin memarahi dunia, bos yang semena-mena, rekan kerja yang pemaksa, teman yang durhaka, keluarga yang keras kepala bahkan pasangan yang selalu memberi luka, aku selalu teringat kata seorang teman yang kukenal dulu saat berkenalan dengannya dibangku taman kota.

Dia mengatakan, “Kekayaan tidak diberikan padamu hanya karena kamu menginginkannya. Seberapa giat kamu bekerja dan berdoa, ada hal didunia ini yang kita tidak mengerti dan menjadi misteri Tuhan mengapa kita tidak diberi. Kamu hanya perlu MENYESUAIKAN MATAMU untuk melihatnya saja”.

Ya, aku setuju dengan katanya. Tetapi siapapun bisa mengatakan itu setelah memiliki segalanya bukan? Jika seandainya temanku itu diposisiku sekarang, akankah dia berkata hal yang sama denganku.

Aku bisa mengatakan demikian karena aku mengetahui temanku ini telah mempunyai segalanya. Rumah dan mobil mewah. Kerajaan bisnis yang sudah tidak perlu diurusnya. Status yang membuat orang mengenalnya merendahkan kepala, serta dua penjaga yang selalu menemaninya.

Dia tertawa kecil ketika aku membela penjelasanku padanya.”Memang benar apa yang kamu katakan. Aku memang tidak berada diposisimu sekarang, tetapi bukan berarti aku tidak pernah merasakan posisimu teman”, jawabnya ramah.

“Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Aku juga sama rajinnya beribadah denganmu. Bahkan jika aku boleh berbangga, mungkin doaku dua kali lebih banyak darimu. Tetapi, seperti yang kamu katakan juga teman, aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan”.

“Aku tahu wajahmu sekarang pasti mengernyitkan dahi tidak percaya apa yang barusan kukatakan, dan aku juga tidak memaksa kamu harus percaya. Aku juga yakin kamu pasti mempunyai banyak pertanyaan bagaimana aku bisa mempunyai segalanya dan terlihat bahagia bukan?”.

“Percayalah, bukan segalanya itu yang membuatku bahagia, tapi aku MEMPERCAYAI BAHWA AKU BISA BAHAGIA SEKALIPUN AKU TIDAK MEMPUNYAI APA-APA. Yang harus kamu lakukan hanyalah sedikit memaksa kepalamu melihat kekiri atau kekanan setelah itu berjalanlah kedepan, jangan terus melihat kebelakang”.

Kata-katanya indah bukan?. Sebuah nasehat yang terdengar bagus sekali. Bukankah aku telah berjalan kedepan selama ini? Tetapi mengapa aku selalu tertinggal dibelakang dan direndahkan?

Aku bahkan siap berlari tanpa perlu dipaksa asalkan aku bisa memiliki segala kemewahan. Aku bosan dengan kemiskinan yang menderaku. Aku bosan direndahkan mata yang memandangku. Aku ingin menang. Aku ingin buktikan bahwa aku juga bisa seperti mereka.

Belum selesai aku membela “kebenaranku”, temanku tertawa kecil. Aku bingung dan tersinggung. Tetapi justru dalam keadaan terbawa perasaan itu aku mengetahui kebenaran yang baru, yang membuka mataku.

“Kalau begitu, maukah kamu bertukar posisi denganku? Aku memberikan segala kemewahanku dan kamu memberikan segala yang kamu sebut kekurangan itu?”, tanyanya tersenyum ramah sambil memandangi angkasa.

Aku hampir tidak percaya mendengar apa yang barusan dikatakannya. Dia ingin bertukar posisi denganku yang hidup dalam kekurangan yang aku sendiri bosan dan mau kutinggalkan?

Apakah dia tidak tahu betapa tidak bahagianya aku diposisi itu? Dan yang membuatku lebih heran dan ingin tertawa dia mengatakan langit sangatlah cerah. Apakah dia tidak merasakan hembusan angin yang cukup dingin dan tetes air hujan mulai menjatuhi wajahnya? Seakan bisa membaca pikiranku, dia berkata padaku.

“Setiap hari itu indah. Sayangnya, aku tidak bisa menikmatinya”.

Lalu dia membuka kacamata hitamnya. Mata temanku buta.

“Sekarang, maukah kamu bertukar posisi denganku?”, tanyanya ramah. Aku terdiam.

“Bagaimana teman? Aku punya segalanya yang selalu kamu mintakan pada Tuhan. Rumah yang seperti istana. Mobil puluhan kelas mewah. Status yang membuat orang merendahkan kepala. Kerajaan bisnis yang membuatmu semakin kaya. Harta benda yang puas kamu gunakan sampai lelah, dan aku dengan senang hati bertukar posisi denganmu?”, lanjutnya tersenyum dan sungguh-sungguh.

Aku kehilangan “kebenaranku”. Aku kehilangan kekuatan membela “kebenaranku”. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku MENOLAK “segalanya” itu yang tidak pernah absen dalam doaku. Temanku menepuk bahuku. Lalu dia meminta padaku agar menemaninya sebentar sebelum kami berpisah. Kemudian dia mengeluarkan sebuah dompet yang terlihat cukup tua.

“Maukah kamu membantuku membuka dompet tua itu untukku?”, tanyanya ramah. Aku mengiyakan dan kubuka. Ada gambar seorang wanita disisi kirinya, dan ada gambar seorang gadis kecil kira-kira berumur 5 tahun disisi kanannya. Aku langsung tahu bahwa ini istri dan putrinya ketika melihatnya.

“Itu istri dan putriku teman. Dan aku tidak bermaksud untuk memamerkan mereka padamu. Apakah putriku cantik teman? Bisa ceritakan padaku bagaimana rupa putriku?”, tanyanya tersenyum lagi dan terlihat bahagia. Aku akhirnya mengerti apa maksud temanku ini memperlihatkan dompetnya padaku. Mataku berkaca-kaca.

“Iya teman…, putrimu cantik sekali. Bola matanya biru seperti mamanya. Rambutnya pirang keemasan. Giginya sudah tumbuh beberapa dan tertawa sangat cantik sekali…, cantik sekali teman…”, kata-kataku mulai bergetar. “Dia me…, memakai pakaian yang seperti malaikat…, cantik sekali teman…, sungguh cantik sekali…”, aku tidak mampu melanjutkannya.

Temanku mengusap matanya. Aku tidak berani bertanya apa yang sedang dilakukannya, tapi aku sangat tahu apa yang sedang dilakukannya.

“Terimakasih teman…, terimakasih… Adalah sebuah kebahagiaan sempurna ketika kita bisa melihat putri kita bertumbuh besar dan menemaninya. Sayangnya, aku tidak bisa teman…”, jawabanya sambil melihat padaku dengan raut wajah yang pilu.

“Ketika kamu berkata bahwa kamu tidak bahagia karena belum mempunyai segala yang mewah yang kamu inginkan seperti ada padaku, maka, aku akan dengan senang hati bertukar denganmu. Dan jika itu bisa benar-benar bisa terjadi, hal pertama yang akan kulakukan adalah berlari secepat mungkin menemui putriku…”, lanjutnya tersenyum. Aku tahu dia sedang membayangkan kebahagiaan itu.

“Teman, kamu mempunyai fisik yang utuh, itulah KEKAYAAN. Belum pernah kutemui orang yang mau menukar bagian tubuhnya hanya untuk menjadi kaya. Mungkin ada yang melakukannya, tapi aku yakin mereka melakukannya bukan karena ingin menjadi kaya melainkan demi hal lainnya”.

“Dulu aku juga berdoa kepada Tuhan agar mataku dikembalikan. Aku berjanji akan mengikuti-Nya seumur hidup dan melakukan semua perintah-Nya. Tetapi lihat aku, apakah aku bisa melihat kembali? “.

“Aku juga pernah bertanya sepertimu mengapa Tuhan begitu tega mengambil mataku. Mengapa bukan kekayaanku. Mengapa bukan rumahku. Mengapa bukan mobil mewahku. Mengapa bukan harta bendaku, tetapi malah mataku? Dan jawaban apa yang kuterima? Tidak ada, tapi aku tahu ada MAKSUDNYA dibalik semua bencana”.

“Teman, ini hanyalah nasihat dari orang buta saja. Dunia ini setiap hari indah, bahkan dunia itu sendiri indah dan bahagia. Bedanya tergantung BAGAIMANA kamu melihatnya dan MEMAKAI MATA apa melihatnya”.

“Kadang, untuk melihat terang kamu tidak harus selalu membuka mata. Kadang kamu perlu menutup mata fisikmu sebentar dan melihat terang itu dengan mata hatimu”.

“Dan kadang, untuk melihat gelap kamu tidak harus menutup mata apalagi sampai kehilangan mata. Seringkali mereka yang justru bisa melihat dengan jelas menjadi “buta” karena “silau” dengan apa yang dilihatnya”.

“Nikmatilah dan syukurilah KEKAYAANMU teman. Pergunakanlah untuk kebaikkan. Janganlah bertanya pada Tuhan mengapa Dia tidak memberikan apa yang kamu inginkan, tetapi bertanyalah APA YANG BISA KAMU BERIKAN. Lagipula, tanpa kamu meminta Tuhan sudah tahu apa yang kamu inginkan”.

“Semua bisa memberi dengan kekayaan mereka dan itu baik maksudnya, tetapi mereka yang memberi dalam kekurangannya itulah yang disebut ISTIMEWA. Dan yang kutahu, bonusnya selalu bernama BAHAGIA”, peluk temanku hangat dan kamipun berpisah.

“Kebenaran” lamaku tergantikan kebenaran yang baru.

Apakah aku berubah setelah mendapat kebenaran baru itu? Jawabannya Ya dan Tidak.

Ya, karena aku akhirnya mengerti untuk menjadi bahagia kita tidak perlu harus mempunyai segalanya dan mengapa Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Tuhan ingin kita belajar sesuatu terutama menjadi “guru kehidupan” bagi lainnya seperti yang dilakukan temanku.

Tidak, karena aku ini hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari segala dosa dan salah. Aku masih mengeluh ketika beban pundakku melebihi kuat kakiku. Tetapi dibandingkan dulu, aku yang sekarang tahu bagaimana meringankan beban itu. Tidak dengan mengerutu sana-sini seperti dulu, tapi MENSYUKURI aku masih bisa “mengangkatnya” dan UTUH. Dan aku percaya, ketika saatnya tiba, segala usaha dan kebaikkan itu akan dilipatkan Tuhan bagi kita nantinya.

Terimakasih teman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s