Indahnya gagal


Gagal itu indah? Hmm, sepertinya judul diatas sangat “menjebak” bukan? Tetapi, sebelum kamu mengatakan itu, marilah kita sama-sama pahami mengapa gagal itu “indah” menurut kata-kata “bijak” yang pernah kita sadari maupun tidak tentang kegagalan.

Pada kalimatku diatas, kamu pasti mendapatkan kata “bijak” uang saya tulis pakai tanda petik bukan?! Saya sengaja memakai tanda petik dimaksudkan karena tidak semua mengganggap kata bijak itu bijak. Dan itu tidak salah. Persepsi kita, pengalaman kita, dan pembenaran kita alami berbeda sehingga bisa memberikan arti yang berbeda bahkan sebaliknya.

So, bagi kamu yang setuju janganlah menyalahkan yang tidak setuju. Dan bagi kamu yang tidak setuju, jadikanlah sebuah informasi tambahan saja. Mungkin bisa jadikan sebagai sebagai inspirasi baru yang kamu sesuaikan dengan pribadi serta pengalamanmu.

Kegagalan adalah sukses yang tertunda.Salah satu kata yang sudah tidak asing bukan? Tidak peduli kamu mengartikannya bagaimana, sesungguhnya sukses adalah kegagalan yang hanya tertunda saja.

Mengapa disebut tertunda? Ya karena kita belum berhasil menyelesaikannya PROSESNYA. Untuk mudahnya kita analogikan saja kita ingin membuat akun Facebook.

Untuk membuat akun Facebook, kita harus mempunyai email dulu. Lalu apa itu email? Bagaimana membuat email? Tanyakan pada tuan Google saja ya. Setelah punya email, kita diminta untuk mengisi email kita dan Password diFacebook. Lalu isi data kita dan selesai. Kamu sudah SUKSES membuat akun Facebook.

Tetapi, ketika saat diminta isi data ini itu dan kamu merasa sungkan karena berbagai alasan – privasi, tidak bisa bahasa English, tidak tahu, bingung, malas – maka tentu saja akun Facebook tidak bisa selesai dan kamu tidak bisa main Facebook.

Apakah kamu gagal? Tentu tidak, kamu hanya BELUM MENYELESAIKANNYA. Dan ketika kamu MELANJUTKAN untuk menyelesaikan PROSES itu, apakah hari ini, besok pagi, bulan depan ataupun tahun depan, akun Facebook – SUKSES – sedang menunggumu. Setelah selesai, kamu tinggal menikmatinya.

Kegagalan adalah biaya atau harga yang kamu harus bayar. – Yup! Ada yang harus kamu bayar untuk mendapatkan sukses. Selayaknya kita ingin menguasai bahasa English, lalu kita mengambil les atau kursus. Dan tentunya les atau kursus itu tidaklah gratis.

Ya, ya, ya…, ada yang gratis kok. Misalnya saudara atau sahabat kamu yang sukarela mengajarimu ataupun sebuah lembaga yang memang khusus disediakan untuk itu. Tetapi pertanyaannya apakah semuanya itu benar-benar gratis?

Kamu perlu biaya transportasi ketempat les atau kursus itu.
Kamu perlu membeli buku atau apapun untuk mencatat yang penting bagimu.
Dan yang terutama kamu perlu WAKTU.

Itulah biaya yang harus kamu bayar sebelum kamu bisa dan mahir berbicara bahasa English – SUKSES. Dan pertanyaanya pentingnya justru bukan pada biayanya, tapi pada WAKTUNYA.

Biaya yang harus dibayar sudah pasti – modal usaha, kerja keras, sikap diri, semangat, dan sebagainya – tetapi apakah kamu sabar semua itu memerlukan WAKTU?. Dan yang lebih penting, janganlah membandingkan mengapa si A lebih cepat waktunya dan mulai iri dengannya. Tetapi cari tahulah dan pelajarilah apa yang membuat si A bisa lebih cepat.

Jika itu baik, baik bagimu, bagi bagi sesamamu dan terutama baik dimata Tuhan, tirulah. Jika yang tidak baik jangan diikuti. Tuhan yang memberi kita semua, kelak Dia yang akan mengambilnya juga.

Sukses perlu biaya atau harga (kegagalan), dan kamu telah membayarnya. Sisanya yaitu WAKTU biar Tuhan yang menentukannya.

Kegagalan adalah cara sukses memberitahu bahwa kamu salah.  – Masih ingatkah ketika kamu masih kecil ketika orang tuamu mengajarimu berhitung? Ketika ditanya 1+1 berapa dan kamu menjawab salah orang tuamu dengan sabar dan penuh kasih memberitahumu bahwa jawaban itu salah. Lalu mereka memberitahukan jawaban yang benar.

Ataukah seperti mandi. Ketika kamu tidak mandi sehari – karena tidak ada air, malas dan sebagainya – tubuh mengeluarkan aroma hmm… yang tidak sedap. Tubuh (sukses) memberitahu padamu bahwa kamu beraroma tidak sedap (salah atau gagal), dan untuk menghilangkan aroma tidak sedap itu, CARANYA adalah mandi.

Itulah yang terjadi dalam kehidupan. Kegagalan yang terjadi padamu semua bukanlah gagal sesungguhnya, cara kamulah yang salah dan kegagalan itu memberitahukan pada kita. Yang perlu kamu lakukan adalah kamu mempelajarinya dan kamu memperbaikinya.

Memang perlu waktu harus mengulang atau membangun lagi, tetapi kamu telah mengetahui caranya. Mana yang salah dan mana yang perlu diperbaiki.

Kegagalan pasti dan pasti datang padamu, sesempurna apapun dirimu. Ya, kegagalan pasti terjadi dan lalu mengapa kamu takut gagal? Perlihatkan padaku langit mana yang selamanya biru. Perlihatkan padaku malam mana yang selalu berbintang. Perlihatkan padaku bunga apa yang tak pernah layu. Sesempurna apapun itu, ia pasti pernah runtuh dan berlalu.

Mungkin ada yang berkata, biru langit yang digambar.
Mungkin ada yang berkata, bintang diluar angkasa yang bersinar.
Mungkin ada yang berkata, bunga plastik yang selamanya tetap mekar.

Dan semua itu benar.

Dan ingatlah juga, semua gambar yang digambar pernah salah.
Semua bintang pernah redup sinarnya.
Semua bunga plastik pernah gagal bentuknya.

Dan lagi, justru kegagalan berulang kali itulah yang membuat sesuatu menjadi semakin “sempurna”.

Kamu tidak belajar berlari sebelum kamu belajar berdiri. Dan untuk bisa berdiri kamu jatuh entah berapa puluhan bahkan ratusan kali.

Kegagalan adalah bagian dari hidup dan ia akan datang padamu. Satu-satunya manusia yang tidak pernah gagal bukanlah mereka yang tidak pernah mencoba. Karena seperti pada poin pertama, mereka yang tidak mencoba hanyalah tertunda semata. Mereka yang telah meninggallah yang tidak pernah gagal.

Aku tidak gagal, aku hanya belum menemukan cara yang benar. – Itulah yang dikatakan Thomas Alva Edison ketika orang lain bertanya mengapa dia sudah gagal ribuan kali masih tetap mencoba dan tidak menyerah.

Dan itulah semua kata-kata bijak yang begitu menginspirasiku. Bukankah “indah” sebuah kegagalan itu? Dan tentu saja saya tidak meminta kamu harus setuju padaku. Kita semua mempunyai pengalaman “gagal” yang berbeda. Bagaimana kita melihat kegagalan itulah yang membedakan kita juga.

Saya ingin berbagi sebuah cerita lama dan kutulis dalam bahasaku yang sederhana apa adanya. Ada seorang temanku yang telah hampir mencapai puncak karirnya setelah puluhan tahun berusaha, tiba-tiba terjadi hal yang diluar dugaan sehingga karirnya terpaksa berakhir begitu saja. Baginya, kegagalan ini adalah hal yang sama sekali tidak indah – pada awalnya.

Sekarang, dia justru berkata padaku bahwa dia sangat berterimakasih atas “kegagalannya” dulu karena sekarang dia bisa membangun “kerajaan” bisnisnya sendiri. Ketika sambil bercanda kutanya apakah dia telah menjadi milyader, dia hanya tersenyum dan berkata padaku,

“Tidak bro, malah setengah dari gajiku dulu diperusahaan itu tidak sampai. Tetapi, aku baru menyadarinya bahwa aku bisa berbisnis juga. Dan yang penting aku sangat menikmatinya. Dulu ketika masih kerja, hari-hariku kuisi dengan keluh kesah. Bahkan aku sangat berdosa ketika aku harus kehilangan karirku dan memarahi Tuhan mengapa aku harus mengalaminya ketika masa jayaku tiba”.

“Untunglah aku punya keluarga yang sangat mendukungku. Mereka tanpa henti menyemangatiku. Padahal dulu aku selalu memarahi mereka tanpa alasan jelas hanya karena aku mengalami hari buruk ditempat kerjaku. Sekarang, aku malah merasa sangat bersalah”.

“Jika aku tidak gagal disana, aku mungkin tidak berhasil disini juga. Penghasilan kami memang tidak sebanyak yang setelah puluhan tahun kuhasilkan disana, tapi aku percaya tidak perlu puluhan tahun untuk menghasilkan penghasilan sebanyak itu disini”.

“Dan sejujurnya, bukan hanya penghasilan itu yang kuinginkan, tapi berkumpul setiap hari bersama keluargaku. Inilah yang sesungguhnya kuinginkan. Aku mungkin gagal memetik setangkai mawar merah, tapi aku justru mendapatkan setaman mawar putih. Bunga mana yang lebih indah bagimu? Aku tidak tahu. Tapi bagiku, tentu saja setaman mawar putih disini”.

:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s