Aku dan diari putri kecilku


“Daddy, besok kan hari minggu…, bawa aku main ketaman ya?”, tanya Angel sambil tersenyum manis pada ayahnya ketika sang ayah sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya didepan komputer diruang kerjanya.

“Daddy tidak bisa sayang. Daddy banyak kerjaan…”, jawab sang ayah dengan suara kecil dan pelan. Matanya tidak lepas dari monitor komputernya. “Tapi daddy kan sudah bilang minggu ini mau ajak aku main ketaman…”, kata Angel sedikit merengek dan memeluk ayahnya dari belakang. Dan, “Busss…”, bunyi suara sesuatu yang hangus. Secangkir kopi panas diatas meja kerja tumpah.

“KELUAR!!”, teriak keras sang ayah sambil mengepalkan kepalannya. Angel yang melihat ayahnya begitu marah jadi terdiam. Wajahnya sangat ketakutan. Kakinya gemetar. Ia ingin lari tapi tidak mempunyai kekuatan sama sekali.

“Aku bilang keluar!! Tahukah apa yang telah kamu lakukan? Itu perkerjaan daddy yang telah berhari-hari daddy kerjakan. Tanpa itu, daddy tidak akan bisa menghasilkan uang. Dan tidak ada uang artinya kamu tidak bisa makan. Tidak bisa sekolah bahkan tidak bisa tinggal disini lagi karena tidak ada uang sewa. Itukah yang kamu inginkan? Sekarang cepat keluar dan jangan pernah masuk ruangan ini lagi.”.

Setahun telah berlalu sejak kejadian itu. Angel yang dulunya ceria dan selalu manja pada ayahnya terlihat sedikit berbeda. Ia masih bersekolah. Ia masih bermain dengan dengan teman-temannya. Tetapi keceriaan itu telah berkurang sejak kejadian diruang kerja ayahnya.

Sejak kejadian itu juga, Angel jadi jarang  menyapa ayahnya. Bukan hanya karena ia takut tetapi dia tidak ingin membuat lagi ayahnya marah. Angel telah kehilangan ibunya sejak ia masih belia, ayahnyalah yang selama ini merawatnya dan ia sangat mencintai ayahnya.

Kini, kehidupan mereka mulai membaik dibandingkan kehidupan mereka yang sebelumnya. Mereka sekarang bisa tinggal dirumah yang lebih layak. Angel bahkan mempunyai seorang pembantu bernama Maria yang siap mengurus semua kebutuhannya. Ayahnya seperti biasanya tetap bekerja keras demi menghidupi keluarga kecilnya.

Suatu hari, Angel memberanikan dirinya menemui ayahnya ketika sedang asyik menonton siaran TV dikamarnya. “Daddy…”, panggil Angel pelan takut mengganggu ayahnya. “Iya sayang? Ada apa?”, tanya ayahnya dengan suara datar.

“Mulai besok Angel kesekolah sendiri saja ya. Angel bersama teman-teman Angel janjian mau kesekolah sama-sama, jadi daddy tidak perlu mengantar Angel lagi dan bisa menghemat waktu ayah…”, katanya dengan suara yang agak kecil dan pelan. Ayahnya melihatnya tajam.

“Kalau itu keinginanmu baiklah. Dan ya, daddy bisa menghemat banyak waktu tidak mengantarmu sehingga daddy bisa memanfaatkan  mengerjakan perkerjaan daddy”, jawab ayahnya mengiyakan sambil melanjutkan tontonannya. Angel tersenyum manis. “Terimakasih daddy…”, katanya sambil pamit kembali kekamarnya.

Berbulan-bulan telah berlalu, Angel dan ayahnya semakin  jarang saling menyapa. Pagi hanya diisi sarapan dalam kesunyian tanpa kata-kata dan pertemuan kembali larut malam dimana Angel telah lelap dalam tidurnya.

Suatu malam, Angel berjalan pelan kekamar kerja ayahnya. Ketika sampai didepan pintu, tangan dan kakinya gemetaran. Ada yang ingin Angel sampaikan pada ayahnya, tetapi setiap kali tangannya hendak memegang gagang pintu, keringat selalu membasahi tubuhnya. Kali ini, ia merasakan keringatnya lebih banyak.

Angel mengambil napas panjang, lalu dihembuskan. Diambilnya napas lagi, lalu dihembuskan. Itu dilakukannya berkali-kali. Setelah terkumpul cukup keberaniannya, Angel mencoba sekali lagi membuka pintu,  tetapi terhenti disana lagi. Ia merasa matanya agak berat dan pandangan mulai kabur. Ia mengosok-gosok matanya dengan kedua tangannya. Ia lalu menyeka keringatnya yang cukup banyak diwajah. Lalu diambilnya napas lagi, dihembuskannya. Katanya, “Oke, aku pasti bisa dan daddy pasti senang…”. Dan, “Brukkk…”, suara sesuatu jatuh.

Ketika pintu itu dibuka, betapa terkejutnya sang ayah. Ternyata suara itu adalah suara Angel jatuh pingsan didepan pintu. Ayahnya yang sedang berada didalam bekerja mendengar suara yang cukup keras dan mencari asal suara itu, dan ternyata ia menemukan putri satu-satunya tergeletak dengan muka pucat dan bibir terlihat biru.

Suara sirene ambulan malam itu membangunkan para tetangga. Ayah Angel terlihat begitu panik dan cemas sekali. Lalu dengan cepat mobil ambulan itu berlalu membawa mereka kerumah sakit.

Sesampainya dirumah sakit, Angel dibawa pada ruang ICU dan diperiksa oleh dokter yang menanganinya. Ayahnya hanya bisa menunggu diluar sambil berdoa dengan air mata yang tidak juga berhenti sejak diambulan yang membawa mereka.

Setiap detik serasa sejam, ayahnya begitu cemas. Pengalaman lalu saat kehilangan ibunya atau istrinya sudah sangat menorehkan luka yang dalam. Dan kini, putri kecilnya sedang berjuang. Ketika lampu diatas pintu ruang ICU padam, ketika dokter dan suster yang menanganinya keluar, sang ayah melompat dan langsung menangkap tangan dokter yang sedang bergumam.

“Ba…, bagaimana keadaan putriku? A…, a…, apakah… dia baik-baik saja? Mohon selamatkan putriku dokter…, aku mohon….”, pinta sang ayah tiba-tiba mundur beberapa langkah langsung berlutut memohon dan sambil menyembah. Melihat tingkah sang ayah, dokter dan suster segera menahannya dan memintanya agar berdiri. Tapi sang ayah tetap saja menyembah seakan tidak mendengar apa-apa.

“Tuan, anda tidak perlu melakukan ini semua, tenanglah…, putrimu baik-baik saja. Ia hanya kelelahan dan kedinginan saja. Istirahat beberapa hari sudah baikkan.”, jawab dokter sambil tersenyum ramah dan membantunya berdiri. Betapa bahagianya sang ayah mendengar hal itu. Setelah mendapat ijin dokter dan entah berapa kali bungkukan badan berterimakasih, sang ayah langsung mengunjungi putrinya.

Dilihat wajah cantik putrinya yang terlelap. Cantik. Cantik sekali. Entah sejak kapan dirinya mulai tidak menyadari kecantikkan itu. Padahal mereka tinggal bertahun-tahun lamanya pada atap yang sama. Dibelainya wajah putrinya dengan lembut dan penuh cinta.

“Maaf tuan, ini barang putrimu yang tadi kami termukan dibajunya. Sepertinya tuan perlu menyimpannya”, sapa seorang suster yang sejak tadi membereskan kamar disana. Sang ayah mengangguk mengiyakan dan berterimakasih. Lalu suster itu berpamitan meninggalkan mereka.

Dilihatnya buku kecil yang diberikan suster itu padanya. Buku kecil yang tidak asing baginya. Disampul depannya tertulis My Wish yang artinya Impianku. Dengan tangan yang masih gemetar, sang ayah membuka buku kecil itu yang sebenarnya diari Angel putrinya. Tulisannya terlihat tumpang tindih dan agak berantakan, tapi rapi dan terawat bersih.

Tanggal xx bulan xx tahun xxxx

Daddy sangat marah padaku karena aku telah merusak komputernya. Daddy benar-benar marah dan aku tahu itu salahku. Tetapi aku tidak membenci daddy, daddy pasti sangat sedih karena mommy belum pulang. Dan daddy harus bekerja keras untuk menabung supaya dapat uang dan mengirimkan uang itu pada mommy sehingga mommy bisa pulang.

Air mata mulai membasahi matanya. Dia ingat itulah kata yang diucapkannya pada putrinya ketika putrinya bertanya mommynya kemana. Karena masih kecil dan dirinya tidak pandai menjelaskan, dia terpaksa mengarang cerita bahwa mommynya ada diluar jauh nun disana dan perlu uang untuk pulang kerumah. Untuk itulah dia harus bekerja siang dan malam.

Lalu sang ayah membuka lembaran halaman selanjutnya.

Tanggal xx bulan xx tahun xxxx

Sejak merusak komputer daddy, aku berjanji tidak akan menganggu daddy kerja lagi. Aku tidak akan masuk keruang kerja daddy lagi. Aku akan membantu daddy menabung juga walaupun aku tidak tahu bagaimana caranya.

Tanggal xx bulan xx tahun xxxx

Akhirnya aku menemukan caranya, aku membeli kue bibi Anna yang dikantin dan kujual pada teman-temanku. Hasilnya lumayan untuk kutabung. Aku juga menabung uang jajan yang daddy berikan padaku sehingga lebih cepat terkumpul. \(^o^)/

Tanggal xx bulan xx tahun xxxx

Daddy memberikanku buku diari ini. Aku senang sekali. Tapi karena daddy sedang sibuk, aku tidak berani memeluknya dan berterimakasih. Terimakasih ya daddy walaupun daddy tidak bisa mendengarnya. Aku senang sekali. Aku sayang daddy. (^*^) mmmuaccchh….

Tanggal xx bulan xx tahun xxxx

Aku meminta pada daddy agar tidak perlu mengantarku lagi kesekolah, jadi daddy bisa manfaatkan waktunya untuk bekerja. Aku juga bisa menjual kue-kueku lebih pagi dan lebih banyak kepada teman-temanku (^_^)

Tanggal xx bulan xx tahun xxxx

Kak Maria mendapati aku menjual kue disekolah. Dia memarahiku mengapa aku harus menjual kue-kue itu padahal uang jajanku sudah lebih dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhanku. Aku katakan padanya agar tidak mengatakan pada daddy dan aku jelaskan mengapa.

Aku bingung, kak Maria hanya menanggis mendengar ceritaku dan memelukku. Setelah itu dia membantuku menjual kue-kueku. Bahkan kak Maria membuatkanku kue sendiri sehingga aku bisa menjualnya dan bisa menabung lebih banyak. Aku senang sekali. Terimahkasih kak Maria… (^_^)

Tanggal xx bulan xx tahun xxxx

Kakiku sakit sekali dan ada darah disepatuku. Kak Maria yang mengetahuinya begitu cemas dan membalut dan mengobati lukaku. Kak Maria juga marah padaku agar jangan menjual kue dan memaksakan diri lagi. Padahal sakit itu sudah biasa bagiku.

Aku tidak mau membuat kak Maria cemas, jadi aku beberapa hari tidak menjual kueku. Sedih rasanya karena aku tidak bisa jualan dan tidak bisa menabung (T_T).

Tanggal xx bulan xx tahun xxxx

Akhirnya, tabunganku cukup. Aku senang sekali. Malam ini, aku akan mengantarkannya pada daddy tabunganku. Semoga dengan tabungan itu aku bisa membayar daddy satu hari agar bisa menemaniku bermain ketaman bersama kak Maria juga dan sisanya untuk mommy agar bisa pulang.

Hehehe.., aku deg-degan (^_^)

Malam yang ditulis didiari Angel adalah malam ini, tetapi belum sempat ia menyerahkannya pada ayahnya, ia lebih dulu berbaring lemah dikasur empuk yang bukan kamarnya. Sang ayah yang selesai membaca habis diari putrinya, tubuhnya bergetar dan terlihat tetesan warna merah jatuh ke diari putrinya. Itu adalah darah dari bibirnya yang digigit menahan amarah penyesalan yang teramat sangat menderanya.

Dibalik akhir diari itu, ada satu slip yang bertuliskan gaji diatasnya. Ternyata itu slip gaji sang ayah selama sebulan kerja. Angel yang memang sangat ingin agar daddynya bisa menemaninya, mencuri selembar slip gaji ayahnya. Lalu dia menghitung sendiri berapa sehari yang harus dia bayar kepada ayahnya agar bisa membeli waktu sehari ayahnya dan menemaninya bermain ketaman impiannya.

Itulah mengapa selama setahun Angel bersabar tidak meminta ayahnya menemaninya. Itulah mengapa dia rela tidak diantar ayahnya kesekolah agar dia bisa menjual lebih banyak kue-kuenya disekolahnya. Itulah mengapa kakinya lecet dan berdarah karena menjajakan kuenya kerumah-rumah sebeluk kesekolah. Semua itu dilakukannya semata-mata hanya ingin ayahnya menemaninya walaupun cuma sehari saja. Dan dia tidak ingin merugikan ayahnya, dia ingin membayarnya.

Dengan perasaan yang hancur lebur, sang ayah hanya menanggis dengan lirihan yang sangat menyayat hati. Dengan tangan yang bergemetaran, sang ayah menaikkan sedikit selimut yang menyelimuti kaki putri kecilnya. Ketika dilihat kaki kecil mungil itu, terlihat banyak bekas luka yang telah mengering menghias kaki malaikat kecilnya. Disaat anak-anak lain seusianya lagi bersenang-senang menikmati masa kecilnya dan merawat tubuhnya dengan baik, putrinya justru harus melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan setelah dia dewasa.

Penyesalan memang datang terlambat, tetapi setiap manusia diberi kesempatan lain untuk memperbaikinya. Begitu juga sang ayah yang telah menyadarinya.

Saat tenggelam dalam penyesalan dan tanggisnya, putrinya yang sedari tadi terlelap terbangun mendengar isak tanggis ayahnya. Kepolosan putrinya justru menambah penyesalan sang ayah. “Daddy…”, panggilnya masih lemah, “Mengapa daddy menanggis…?”, lanjutnya sambil berusaha tersenyum. Tangan kecilnya mencoba meraih tangan ayahnya hendak menghiburnya.

“Angel tidak apa-apa daddy…, maaf ya kalau Angel membuat daddy menanggis…”, katanya lagi mencoba berusaha bangun. Sang ayah tidak mampu menahan gejolak perasaannya lagi, dipeluknya malaikat kecilnya itu dan dikecup berkali-kali dengan penuh sayang.

“Tidak sayang, daddylah yang harus meminta maaf padamu…, maafkan daddy ya, maafkan daddy sayang…”, isak sang ayah begitu menyesal sekaligus bangga mempunyai seorang putri yang begitu peduli padanya.

“Daddy…”, panggil Angel dengan suara pelan.
“Iya sayang, ada apa?”, tanya sang ayah masih tetap memeluknya.
“Boleh tidak aku meminta sesuatu, cuma kali ini saja daddy…, aku janji setelah itu aku tidak akan meminta apa-apa lagi…”, tanya Angel dengan sedikit ragu-ragu. Sang ayah melepaskan pelukannya. Dibaringkannya kembali putrinya itu kekasurnya. Kali ini, pandangan sang ayah begitu lembut dan penuh kasih. “Boleh sayang, apa saja…, apa saja sayang…, semua permintaan Angel akan daddy kabulkan”.

“A…, akukan sudah menabung… Tapi tabunganku tidak banyak. Aku ingin membayar daddy satu hari untuk membawaku dan kak Maria main ketaman. Kapan harinya  daddy yang tentukan asal daddy tidak sibuk. Aku sudah menghitungnya dan aku rasa tabunganku cukup untuk membayar daddy satu hari. Nanti uang kak Maria aku yang akan membayarnya setelah aku tabung lagi ya…”, kata putrinya dengan mata berbinar-binar memohon.

Seandainya kebahagiaan bisa dibeli dengan uang, maka kebahagiaan inilah mungkin paling tinggi harganya diatas dunia. Dengan air mata yang masih membasahi wajahnya, sang ayah menjawab putri semata wayangnya yang berhati mulia.

“Sayang…, tabunganmu itu tidak hanya membeli satu hari daddy saja, tapi membeli setiap hari daddy sampai daddy tua dan tidak bisa menemanimu lagi.  Angel juga tidak perlu menabung lagi untuk kak Maria, asal Angel bahagia siapapun boleh Angel ajak bersama…”, jawab sang ayah mengecup sayang putrinya.

“Benar daddy? Daddy janji? Daddy tidak sibuk lagi kan?”, tanya putrinya hendak melompat saking senangnya. “Iya sayang, makanya cepat baikkan ya…, besok kalau Angel sudah sehat, kita ajak kak Maria ketaman ya…”, jawab sang ayah tersenyum ramah dengan raut wajah yang sangat bahagia.

“Horeee….”, teriak kecil Angel. “Terimakasih daddy…, terimakasih…, aku sayang sekali sama daddy…”, kata Angel sambil menarik wajah ayahnya dengan kedua tangan mungilnya dan mencium pipi ayahnya. Sang ayah juga membalas kecupan putrinya. Lalu putrinya mengecup kembali pipi ayahnya. Sang ayah tidak mau kalah, ia kembali mengecup pipi putrinya. Itu dilakukan mereka berdua untuk beberapa lama. Tawa bahagia menghias malam mereka.

Sebuah pelajaran berharga bagi sang ayah, sebuah kado terindah bagi malaikat kecilnya.

Apa inti cerita diatas? Ah, saya rasa semua telah mengetahuinya dan saya tidak perlu menjelaskannya.

:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s