Kupu-kupu dan lebah


ugly_bee_by_dadina

“Mama…”, panggil Bee pada ibunya.

“Maa…maaaa….”, panggil lagi ia pada ibunya. “Ada apa sayang?”, tanya sang ibu berlari kecil menghampiri putrinya. Matanya berkaca-kaca dan terlihat Bee sedang menahan tanggisnya. “Aku mau jadi kupu-kupu!”, kata putrinya langsung memeluk ibunya dan menanggis.

Sang ibu hanya membelai putri kecilnya tanpa berkata apa-apa. Ia membiarkannya menanggis dulu sepuasnya. Setelah puas menanggis, sang ibu dengan penuh cinta bertanya, “Apa yang membuatmu sedih sayang? Dan mengapa kamu ingin menjadi kupu-kupu?”.

“Hiks…, Aku malu ma…, semua kupu-kupu punya sayap yang besar dan indah. Baju mereka warna-warni dan selalu dipuji bunga. Sedangkan aku…, setiap hari harus pakai baju yang sama. Belang kuning dan hitam”.

“Mereka juga sering mengejekmu ma…, katanya aku seperti kereta api yang cepat tidak bisa diam. Dan, mereka tidak mau bermain dekat-dekat denganku karena takut akan tersengat aku. Aku malu ma…”, jawab putrinya melanjutkan menanggis.

Sang ibu tersenyum. Ia tahu putrinya yang baru beranjak remaja belum mengerti apa-apa dan ia juga tidak ingin menyalahkan “kebenaran” yang dipercayai putrinya. Daripada menyadarkan putrinya dengan kata-kata indah yang seringkali hanya diterima dan didengar semata, sang ibu justru mengiyakan keinginan putrinya.

“Baiklah, ibu akan membuatmu menjadi kupu-kupu. Ibu kenal seseorang yang bisa membuatmu jadi kupu-kupu. Tetapi sebelum itu, ibu ingin memastikan bahwa kamu yakin benar-benar mau menjadi kupu-kupu?’, tanya sang ibu dengan pandangan yang dalam dan penuh arti.

“Iya ma…, aku mau…”, jawab putrinya mengiyakan dengan senyuman yang terlihat bahagia.

Ketika matahari pagi menghangatkan pepohonan dan bunga-bunga ditaman, ketika burung-burung berterbangan menyambut pagi sambil berkicauan, Bee terbangun dengan perasaan yang deg-degan. Tanpa membereskan tempat tidurnya, ia langsung berlari kedepan kaca. Ada pantulan seekor kupu-kupu berdiri didepan.

“Mama…”, panggil Bee pada ibunya dengan perasaan senang yang tidak pernah ia rasakan. Ia ingin cepat-cepat menemui ibunya yang biasa bekerja ditaman bunga depan. Tetapi ia merasakan tubuhnya tidak segesit dirinya yang dulu dan terasa berat. Karena sedang berbahagia, Bee tidak mempedulikannya.

Ketika berada ditaman, Bee mendengar sebuah sapaan yang akrab ditelinganya. “Hei cantik, sayapmu cantik sekali? Kamu orang baru ya?”, tanya seekor kupu-kupu tampan yang dikelilingi kupu-kupu cantik lainnya. Bee terpesona pada keindahan kupu-kupu ini, padahal sejak dulu Bee sudah terpesona pada keindahannya dan inilah salah satu alasan Bee ingin menjadi kupu-kupu sepertinya.

“Ha…Haiiii…”, jawab Bee tersipu malu. “I…Iya, aku baru disini. Dan aku hendak mencari ibuku…, maksudku ibu temanku…”, lanjut Bee berbohong.

“Wah…, aku tidak menyangka ada kupu-kupu secantik ini disini. Maukah kamu berteman denganku?”, tanya kupu-kupu tampan ini yang tadi memanggilnya. “Namaku Benny, siapa namamu?”, tanya Benny sambil berlutut dan menciumi tangan Bee selayaknya pangeran yang menginginkan putri. “Namaku Be…, maksudku Cindy”, jawab Bee berbohong sekali lagi.

Hari itu adalah hari yang paling bahagia bagi Bee. Mereka menikmati setiap keindahan bunga ditaman. Ia begitu diterima dan tidak henti-hentinya mereka memuja kecantikkannya. Kupu-kupu tampan lain yang berada ditaman lain pun terkesima dan sengaja datang mencari dirinya. Baginya, itulah hari yang paling berharga dan berbahagia.

Keesokan harinya, seperti biasanya, Bee hendak berpergian dengan teman kupu-kupu lainnya. Ketika membuka pintu hendak keluar, Bee dikejutkan dengan seorang nenek yang berperawakan kumuh. “Siapa kamu?”, teriak kecil Bee sambil melompat mundur. Sang nenek hanya tertawa kecil.

“Apakah mamamu ada dirumah? Bagaimana keadaannya?”, tanya sang nenek cekikikan. Penampilannya seperti nenek sihir yang jahat. Rambut panjang putih berantakkan ditambah gigi yang tersusun tidak beraturan.

Bee yang sedang takut spontan menjawab,” Aku tidak tahu, sudah beberapa hari ini aku mencarinya dan tidak menemukannya. Biasa mama pagi-pagi sudah keluar dan pulang ketika matahari terbenam. Kalau mau, temui saja ditaman sana”, sambil menunjuk ketaman disana.

“Apa? Jadi selama ini kamu tidak tahu kemana ibumu?”, tanya sang nenek sedikit terkejut. Lalu ia tertawa cekikikan lagi. “Sebaiknya kamu menemui ibumu sekalipun barang sebentar. Kamu ada hari ini karena permintaan ibumu lho”, jawab sang nenek sambil berlalu. Bee hanya bingung dan masih terkejut dan takut.

Tapi apa daya, ketika mata sudah terbuai yang indah, ketika telinga sudah terbuai puji dan puja, kita seringkali melupakan apa dan siapa kita sesungguhnya. Bee, tanpa menghiraukan nasihat dari sang nenek tua berlalu saja menemui teman-temannya. Lagipula, siapa yang akan mendengarkan perkataan seorang nenek tua asing yang berpenampilan buruk rupa?

“Hei, coba lihat lebah itu…”, panggil seekor kupu-kupu pada Bee dan teman-temannya ketika mereka melintas diatas taman dan mendapatkan seekor lebah sedang mengumpulkan sari bunga. Ia tua, lemah dan terlihat banyak bekas luka.

“Ups, hahaha….”, terdengar ledakkan tawa para kupu-kupu ketika lebah itu jatuh dari kelopak bunga. Sari yang dikumpulkannya pun tumpah. “Dasar bodoh, mengapa dia tidak terbang saja…”, kata seekor kupu-kupu.

“Mungkin sayapnya kecil sehingga tidak bisa terbang”, lanjut seekor kupu-kupu lain. “Atau karena sayapnya jelek dan malu melihat kita sehingga tidak berani terbang…”, lanjut kupu-kupu lainnya disertai tawa mengejek yang semakin menjadi.

Kali ini, Bee terdiam. Kata-kata itu mengingatkan kembali apa yang telah dilupakannya. Dulu, dia diposisi yang sama pada lebah tua yang mereka olok itu. Bedanya, dulu dia masih lari dengan gesit ketika digoda atau dipermalukan mereka. Tetapi, lebah tua ini santai dan tidak menghiraukannya.

“Yok, kita turun dan lihat. Ini akan jadi pemandangan yang menarik”, kata Benny sang kupu-kupu tampan idola Bee. Semua mengiyakan dan Bee hanya mengikuti mereka dari belakang. Lalu mereka duduk diatas bunga sambil memandangi lebah tua yang tidak berdaya dan menunggu untuk tertawa.

Lebah tua itu berusaha bangun dan terlihat kesusahan. Lalu dikumpulkannya sari-sari yang tumpah itu dari tanah. Melihat kupu-kupu sedang memandanginya, lebah tua ini tidak merasa malu. Dia hanya merapikan kerudungnya dan membungkuk memberi salam lalu kemudian melanjutkan bekerja.

Tangan-tangan kecilnya bergerak pelan berusaha menaiki pokok bunga. Ternyata, lebah tua ini bukannya tidak mau terbang. Ia juga bukannya malu karena sayapnya kurang indah jika dibandingkan mereka. Tetapi karena sayapnya hilang sehingga tidak bisa terbang.

Keheningan terjadi sesaat, lalu meledak tawa ketika silebah tua tersebut jatuh lagi. Itu terjadi beberapa kali hingga sang angin yang tidak tega melihat lebah tua ini dipermainkan, kerudung yang dipakainya itu diterbangkan terlepas dibawa angin.

“Hahaha…”, makin meledaklah tawa kupu-kupu yang melihatnya. Ternyata lebah tua itu juga buruk rupa. Bagi mereka, itu tontonan yang lucu dari atas sana. “Haha…, ibu siapakah itu yang begitu buruk rupa? Kalau aku jadi anakknya aku pasti…”, belum selesai bicara, Bee menyahut berteriak,

“Maaamaaaaa….”.

Tanpa mempedulikan teman-temannya, Bee terbang dengan cepat menghampiri lebah tua itu yang ternyata ibunya. Sudah beberapa hari ini ia tidak menemukan ibunya, ternyata justu ia mendapatkannya jadi bahan tertawaan teman-teman bahkan dirinya.

“Mama…, apa yang mama lakukan disini? Mengapa mama terlihat kurus, lemah dan berantakkan?”, tanya Bee sangat cemas. Tetapi lebah tua ini menjawab, “Anak muda, terimakasih atas perhatianmu. Tetapi, apakah kamu tidak salah orang? Bagaimana mungkin aku bisa menjadi mamamu? Aku adalah lebah tua yang cacat, sedangkan kamu adalah kupu-kupu yang begitu indah”.

“Ma…, maafkan aku… aku tahu aku telah tidak mempedulikan mama selama ini, dan aku tahu kamu mamaku karena tidak mungkin aku melupakan sayapmu yang patah waktu kecil melindungiku. Aku benar-benar menyesal telah membuat mama menjadi demikian…”, lanjut Bee mulai menanggis.

Benny dan kawanan kupu-kupu lainnya menjadi bingung apa yang barusan mereka lihat. Mengapa seekor kupu-kupu bisa mempunyai ibu seorang lebah? Jelek lagi. Belum selesai bingung mereka, datang lagi seekor lebah tua yang berpenampilan kumuh dengan tawa cekikikan yang tidak asing ditelinga. Ya, itu nenek lebah tua yang tadi mengunjungi Bee dirumah.

“Salam tetua…”, kata lebah tua tak bersayap ibunya Bee pada nenek tua ini. Sang nenek hanya tertawa cekikikan. “Bagaimana? Sudah melihat mamamu bukan?”, tanya sang nenek tua pada Bee. Bee hanya mengangguk tidak berkata apa-apa sambil memeluk ibunya yang terihat sangat lelah.

“Jadi, apa yang ingin kamu perbuat daripadaku?”, tanya sang nenek tua sambil memandangi Bee dengan tajam. Bee mengusap air matanya. “Kembalikan ibuku seperti dulu…”, pinta Bee berharap.

“Baiklah, dan itu berarti kamu akan kembali seperti dulu. Kamu akan kehilangan puji pujamu. Kamu akan diejek dan diolok-olok seperti dulu. Kamu akan dikucilkan karena segala ketidak-indahanmu. Apakah kamu masih mau?”, tanya sinenek dengan mimik muka serius. Kali ini Bee dengan senyuman termanisnya menjawab.

“Iya, itulah yang sangat kuharapkan sekarang. Adalah sebuah pelajaran bahwa adalah kesia-siaan menjadi orang lain hanya supaya ingin diakui dan dicintai. Apalah artinya aku mendapatkan pujian dunia dan dicintai yang bukan diriku yang sebenarnya sedangkan aku melupakan dia yang menerimaku dan mencintaiku sungguh-sungguh apa adanya”.

“Aku mengira dengan menjadi kupu-kupu indah aku akan berbahagia. Tetapi, yang kudapatkan aku justru semakin tidak bahagia. Aku takut suatu saat mereka akan mengetahuinya dan akan semakin menjauhiku. Sehingga malamku seringkali kuhabiskan didepan kaca memohon agar aku tidak kembali menjadi lebah”.

“Tetapi, pada hari ini aku mendapati bahwa ternyata aku salah. Saat kulihat mamaku dari atas sana, ia terlihat begitu indah. Bukan karena fisiknya, tetapi bagaimana para bunga-bunga disini begitu bahagia mendapati dirinya dikunjungi lebah”, jawab Bee sambil melihat para bunga mengangguk mengiyakan tersenyum padanya.

Sang nenek tua tertawa cekikikan. “Baiklah, ternyata kamu telah mendapatkan pelajarannya. Dan aku akan mengabulkan permintaanmu itu”, jawab sinenek tua. Lalu dia mengambil tempayan kecil yang dikumpulkan ibu Bee. Diberikannya tempayan kecil itu pada Bee dan diminta memakan sari yang ada didalamnya.

Setelah memakan sari itu, tubuh kupu-kupu Bee pelan-pelan berlayuan. Warna-warni indah pada sayapnya luntur berjatuhan. Selang beberapa waktu, tinggallah sayap kecil transparan yang tidak indah bagi pemuja keindahan. Baju belang kuning hitam lusuh yang hanya tetap melekat pada tubuhnya. Benny, sang kupu-kupu tampan berserta kupu-kupu lain sangat terkejut dengan apa yang barusan dilihatnya.

“Hai para pemuja keindahan yang disana, kamu dikarunia dengan hal-hal yang indah dan mempesonakan mata. Bersyukurlah karena itu sebuah anugerah.  Tetapi janganlah keindahan itu, kamu membuang hatimu tidak indah dengan merendahkan lainnya”.

“Keindahan yang terlihat mata, akan memudar seiring waktunya. Keindahan yang terdengar telinga, akan menghilang bersama angin membawanya. Tetapi keindahan hati yang sesungguhnya akan bertahan selama waktu itu ada, dan akan mengendarai angin kemana ia membawanya”.

“Tidak ada yang indah ketika kamu meniru indah lainya. Justru kamu menjadi indah karena kamu apa adanya. Dan bersyukurlah kamu menemukan mereka yang mengejekmu dan meninggalkanmu karena ketidak-indahanmu, karena kamu saja menemukan teman yang tidak baik bagimu”.

“Dan ketika kamu menemukan mereka yang mencintaimu apa adanya, menyayangimu apa adanya, dan tetap memujamu ketika usia mengijinkanmu dikatakan tidak indah, dialah yang harus kamu jaga selama-lamanya”.

:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s