Oto, simobil tua


Oto adalah sebuah mobil tua yang dulu selalu dibanggakan oleh tuannya. Warna bajunya yang biru angkasa sudah luntur, terkelupas dan penuh noda coretan dimana-mana. Walaupun begitu, Oto masih terbilang cukup kuat untuk ukuran mobil tua.

Dengan senyuman hangat sehangat matahari pagi yang menghangati pagi, Oto sedang melihat tuan dan putrinya bermain dengan Jenny. Jenny adalah mobil mewah keluaran terbaru yang sangat canggih, warnanya cling-cling dan bentuk bodynya membuat mata yang memandang iri.

Oto dan Jenny adalah nama pemberian tuan mereka. Tuan mereka yang dikenal bernama Mike adalah seorang pengusaha yang sukses. Kisahnya bagaimana ia menjadi sesukses sekarang adalah kisah tersendiri yang hanya Oto yang tahu.

Tuanku adalah dari kalangan yang selalu orang kelas  atas sebut dengan “orang rendahan”. Tetapi tuanku adalah pemuda yang baik. Ia jujur. Ia suka membantu. Dan ia tidak pernah melupakan kewajibannya dengan yang Diatas. Lebih tepat bukan disebut kewajiban, tetapi KEINGINANNYA ingin mendekatkan diri dengan Tuhan.

Hari-hari muda tuanku dihabiskan dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Semua itu dilakukannya untuk mengumpulkan lembaran kertas yang bertuliskan angka-angka sehingga bisa ditukar dengan sebungkus makanan untuk menghilangkan laparnya.

Apakah ia mengeluh dengan segala kekurangannya? Sudah pasti dan sering, tetapi ia juga tahu bahwa mengeluh tidak akan membuat hidupnya berubah dan yang terutama tidak akan mengeyangkan perut yang berdemo meminta upah.

Ketika malam tiba, tuanku akan merebahkan tubuh kecilnya disebuah sudut gelap beralaskan koran dan berselimut jaket lusuhnya dan berdoa sebelum terlelap dijemput para peri dari negeri mimpi. Seandainya bulan dan bintang bisa berkata-kata, mereka mungkin akan mengatakan, “Senyumannya sangat indah dan menghangatkan”.

Mengapa Ia tidak bersama orang tuanya? Mengapa ia tidur disudut gelap sana? Dan pertanyaan mengapa lainnya. Dan untuk menjawabnya, bukan karena ia tidak mau, tapi ia tidak bisa.

Tuanku telah kehilangan orang tuanya sejak kecil, dan karena desakan ekonomi dari keluarga yang menampungnya membuatnya seringkali mendapatkan perlakuan kasar dan semena-mena. Singkatnya, disinilah ia dan sudah tahunan lamanya.

Tuhan itu Maha Tahu dan Bijaksana. Kadang, Dia memberikan apa yang bertolak belakang dengan keinginan doa. Dan karena itulah Mulia-Nya Tuhan, sesungguhnya Dia sedang mempersiapkan umat-Nya untuk mendapatkan kado terbaik-Nya. Dan untuk itu, perlu usaha yang keras dan KESIAPAN HATI untuk mendapatkannya.

Setelah bertahun-tahun dijalanan, akhirnya tuanku mendapatkan kado kecil dari seorang pengusaha baik pemilik sebuah perusahaan. Waktu itu hujan turun lebat dan menghalangi pandangan. Tiba-tiba, mobil pengusaha ini dihentikan oleh beberapa gelandangan.

Semua miliknya yang bisa diambil dan dibawa dari tubuhnya diambil semua. Sebuah benda tajam menempel dilehernya membuat pengusaha ini tidak bisa melawan mereka. Hanya beberapa menit dalam guyuran hujan apa yang ada ditubuhnya telah habis diambil.

“Maaf…, tolong sisakan jam tangan ini, ini kenangan dari…”, belum selesai berkata pengusaha ini, sebuah tinju mendarat diperutnya. Dan jam itupun harus lepas dari tangannya. Setelah puas mendapatkan apa yang mereka inginkan, para gelandangan ini pergi meninggalkan ia.

“Brukkk…”, terdengar suara tabrakan. “Maaf, maafkan aku, aku tidak bisa melihat dengan jelas karena hujan lebat…”, kata seorang pemuda sambil membantu orang yang ditabraknya hingga jatuh. “Sudah, biarkan saja, cepat pergi”, jawab temannya yang ternyata gelandangan yang merampok pengusaha tadi.

“Maaf tuan? Ini pasti jam tangan tuan ya?”, tanya pemuda ini pada pengusaha yang barusan dirampok. “Iya, terimakasih banyak nak. Tapi bagaimana kamu bisa menemukannya?”, tanya pengusaha ini sedikit bingung terlihat lebih ceria.

“Maafkan aku tuan, tadi aku ada disudut lorong gelap itu saat tuan sedang dirampok. Tapi aku tidak berani keluar dan menolong tuan karena aku takut. Aku hanya berdoa dan berharap supaya tuan tidak dilukai. Dan untunglah tuan baik-baik saja”.

“Waktu itu saya juga mendengar tuan memohon agar jam tangan itu tidak diambil. Saya berpikir itu pasti barang yang sangat berharga bagi tuan. Lalu saya memutar jalan dan pura-pura menabrak mereka sehingga saya bisa mengambil jam tangan tuan. Mungkin lebih tepat mencuri dari mereka”, jawab pemuda ini tersenyum.

“Ya, ini jam yang sangat berharga. Harganya sendiri sangatlah murah, tapi ini adalah jam tangan peninggalan putraku yang diberikannya padaku ketika aku berulang tahun. Dia sekarang sudah meninggal karena sakit yang dideritanya…”, kata pengusaha ini.

Mereka hanya terdiam mengenang kenangan pahit itu lagi. Yang satu kehilangan putranya, yang satu kehilangan orang tuanya. Dan merekalah yang paling tahu HARGA dan NILAI sebuah kenangan yang tak tergantikan materi dunia.

Tidak terasa tahunan berlalu lagi. Pemuda jalanan ini sekarang tidak tinggal dijalanan lagi. Ia telah berkerja pada pengusaha baik yang dipertemukan Tuhan padanya. Ia sekarang bisa tinggal disebuah rumah yang sederhana. Dan karena kejujuran serta etos kerjanya yang baik dan luar biasa, pemuda ini diberikan hadiah sebuah mobil yang sederhana.

Dan mobil itu diberinya nama. Namanya adalah Oto, dan itulah pertemuan pertamaku dengan tuanku.

Aku sangat bangga mendapatkan seorang tuan yang begitu baik. Ia memandikanku hampir setiap pagi. Ia merawatku selayaknya aku bagian dari keluarganya yang sangat berarti. Bahkan aku sering diajak tuanku ketaman tuk sekedar menemaninya menikmati matahari terbenam.

Dan disanalah, aku mengenal calon pendamping hidup tuanku.

Kisah tuanku dan calon nyonyaku sangatlah sederhana. Berkenalan. Berkencan. Lalu kealtar pernikahan. Dan setelah tahunan membina rumah tangga, akhirnya tuanku diberikan momongan penambah kebahagiaan.

Aku masih ingat bagaimana paniknya tuanku membawa nyonyaku ketika hendak melahirkan. Aku juga berpacu secepatku sambil berusaha menjaga agar nyonyaku tetap merasa nyaman dan aman. Untunglah saat itu aku cukup bisa diandalkan dan jalanan juga tidak semacet sekarang, nyonyaku melahirkan seorang putri yang cantik yang kelak memberiku banyak gambar dan tulisan dibadan.

Namanya Angel, dan ia berusia 4 tahun. Hobinya adalah mengambar, dan tidak jarang akulah yang jadi kertas gambar. Kamu pasti bertanya apakah tuanku dan nyonyaku tidak marah aku dicorat-coret? Maka dengan bangga aku membela tuanku dan nyonyaku, tidak marah  sedikitpun, malah mereka berkata itu akan jadi kenangan yang indah ketika putrinya dewasa. Hebatkan tuan dan nyonyaku.

Sayang…, manusia bisa berubah.

Setelah sekian tahun berkeluarga dan bekerja, akhirnya keinginan tuanku tercapai ketika ia masih tinggal dijalanan dan setiap malam berdoa. Ia meminta agar diberi rumah sederhana, Tuhan memberinya sebuah istana. Ia meminta agar diberi sepeda yang bisa membawanya kemana ia suka, Tuhan memberinya kendaraan merk ternama. Ia meminta sedikit upah kerja sehingga bisa melegakan lapar dan dahaga, Tuhan memberinya koki ternama yang bisa memasakan apa saja. Hidup tuanku sangat sempurna.

Dan untuk pertama kalinya, aku dilupakannya.

Mobil mewah dengan nomor polisi pilihan. Warna dengan polesan cat paling berkualitas dan memuaskan. Perawatan menyewa mereka yang ahli dalam kendaraan. Intinya ia diperlakukan layaknya putri raja sebuah kerjaan.

Ia diberi nama Jenny. Mobil mewah pengundang kata wah, mobil mewah pembuat mata terpana, mobil mewah penegas kelas atas yang dipuja-puja.

Apakah aku membenci Jenny yang lebih disayang tuanku? Tentu saja tidak! Tapi aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri. Ya, aku membenci Jenny mengapa ia merebut tuanku dariku. Aku membenci Jenny tuanku tidak pernah lagi mengajakku. Aku membenci Jenny karena mengambil segalanya dariku. Dan yang lebih menyedihkan lagi, aku dibiarkan saja disebuah ruangan gelap dan kumuh.

Hari ke hari, bulan ke bulan tidak terasa setahun aku dilupakan. Aku juga telah melupakan semua kebencianku. Aku hanya berharap ada seseorang yang datang menemaniku walaupun barang semenit saja. Dan untuk pertama kalinya aku berdoa kembali selayaknya dulu tuanku mengajakku berdoa mensyukuri semua.

Setelah berucap amin penutup doa, aku mendapati tubuhku geli seperti digaruk sesuatu. Saat kubuka mataku, aku mendapatkan seorang anak perempuan kecil yang sangat kurindukan sedang menanggis sambil mencoret tubuhku.

“Astaga…”, kataku terkejut. Dia sudah sebesar ini? Aku begitu bahagia karena ia datang padaku, tapi aku juga sangat sedih melihatnya menanggis pilu. “Papa jahat…, mama jahat…, aku benci papa dan mama!!”, teriaknya padaku.

Aku ingin menghiburnya, tapi aku tidak bisa. Aku ingin menghapus air matanya, tapi tidak bisa. Apalah daya aku hanyalah seonggok besi tua. “Hiks…, Cuma Oto yang selalu menemaniku…”, lanjutnya kecil lalu masuk dan menanggis dikursi belakangku.

Malam itu Angel tertidur pulas dikursi tuaku dan berdebu. Aku begitu kuatir karena aku tahu pasti tuanku dan nyonyaku sedang mencarinya. Mereka pasti begitu cemas putri semata wayangnya ada dimana.

Aku melihat jam tua yang hampir setuaku diatas meja. Hampir menunjukkan jam 10 malam. Aku semakin kuatir karena Angel sudah bersamaku lebih dari 3 jam. Dan dari napasnya tersenggal-sengal aku mendapati ia sepertinya sedang demam. Aku merasakan dengan kursi tuaku kalau badan Angel terasa panas. Dan ia mengigil kedinginan.

Aku mencoba mengoyangkan tubuhku agar ia segera bangun, tapi hasilnya justru sebaliknya. Ia semakin terlelap dan semakin mengigil. Aku sangat kuatir sekali. Lalu aku tidak tahu entah bagaimana dan mengapa, kakiku sedikit bergerak. Aku terkejut, tapi kutepis keterkejutan itu dan terus berusaha keras untuk bergerak.

Dan entah bagaimana aku merasakan ada angin yang seakan-akan mendorongku dari belakang sehingga aku bergerak maju dan, “Brakkk…”, suara cukup keras bunyi pintu kutabrak. Jika ini hari biasanya aku akan sangat takut sekali telah merusah pintu tuanku. Tapi malam ini, aku justru berharap tuanku dan nyonyaku mendengar dan mendapati kami.

Dan memang, tuanku dan nyonyaku beserta pembantu segera datang.

Betapa cemasnya ketika tuanku dan nyonyaku mendapati putrinya sedang kedinginan dan demam. Lalu tuanku mengendong putrinya dan segera meminta agar nyonyaku segera menelpon ambulan. Ketika hendak pergi, Angel bergumam dalam tidur, “Pa…pa…, ajak Oto ya…, ka… sihan Oto…”.

“Putri Anda baik-baik saja, besok pagi juga sudah sembuh kok. Untung Anda cepat membawanya kesini”, kata dokter pada tuanku setelah sampai dirumah sakit. Nyonyaku begitu bahagia dan lega mendapati putrinya tidak apa-apa.

Bulan pada malam itu begitu terang. Aku dengan sabar menanti diluar rumah sakit dekat parkiran. Samar-samar kulihat seorang pria berjalan kearahku. Dia adalah tuanku.

Sentuhan hangat penuh sayang kurasakan kembali malam itu. Tuanku, dengan mata yang sayu memandangiku. “Oto…, terimakasih. Angel sekarang sudah baik-baik saja. Terimakasih…”, kata tuanku pelan dan kurasakan ada tetesan air kecil menjatuhi badanku.

Aku sebenarnya ingin menghibur tuanku, tapi apalah dayaku. Lalu tuanku melanjutkan kata-katanya selayaknya dulu dia sering berbagi kisah cintanya dengan nyonyaku waktu muda dulu, atau sekedar curhat tentang beban hatinya.

“Oto…, melihatmu malam ini, aku baru menyadari betapa mudahnya manusia itu berubah. Kamu yang dulu selalu kubangga dan membawaku kemana saja kusuka, begitu mudahnya aku mengganti dirimu dengan yang baru hanya karena aku merasa mampu dan ingin dipuji teman-temanku”.

“Melihat tubuhmu yang penuh coretan dan gambar, membawaku pada kenangan masa lalu dimana kita kemana-mana selalu bersama dan sangat bahagia, dan sebagai tanda bahagia itu aku sering dan putriku mencoretmu. Tetapi ketika aku mendapatkan yang baru, aku malah melarang keras putriku untuk mencoretnya dan menjauhinya. Aku bahkan memperlakukannya lebih mirip putriku daripada putriku sendiri yang sesungguhnya”.

“Sekarang melihatmu, aku menyadari betapa bodohnya aku yang menukar kebahagiaan dalam kesederhanaan hanya demi gengsi dan puja puji yang justru membuatku lupa diri. Aku melupakan tugasku sebagai ayah bagi putriku. Dan parahnya, aku sukses menjaga bisnisku, tapi aku justru gagal menjaga keluarga kecilku”.

“Keindahan apa yang bisa dibeli materi membuatku menjual keindahan hati yang tidak bisa dibeli. Dan untunglah pada malam ini aku disadarkan olehmu teman. Dan maafkan aku yang telah begitu lama melupakanmu dan membuangmu diruangan gelap dan kumuh itu…”.

Tuanku menanggis dan memelukku terlihat begitu menyesal.

Sejujurnya, tidaklah masalah bagiku apa yang tuanku perbuat padaku. Aku sudah begitu bahagia ia masih mengingatku. Aku tidak peduli aku harus dibuang ataupun dilupakan, asalkan tuanku bisa berbahagia dengan keluarganya, aku juga sangat bahagia. Setahun berada diruangan gelap dan kumuh mendewasakanku apa yang disebut kasih sayang sejati itu.

Pagi ini aku begitu deg-degan. Matahari bersinar cerah. Dan untuk pertama kalinya aku dikeluarkan dari ruangan yang gelap dan kumuh. Aku begitu senang sehingga tanpa sadar aku berjalan bergoyang-goyang. Angel putri tuanku tertawa kecil melihatku yang sudah karatan dan besi tua rongsokkan berjalan seperti kakek yang mencoba menari dan terpatah-patah.

“Angel mau kasih Oto baju warna apa?”, tanya tuanku sambil mencium pipinya dengan mesara. “Aku mau warna biru, biru angkasa kayak dulu…”, teriak Angel melompat-lompat kegirangan. “Hohoho…, baiklah tuan putri”, jawab tuanku meminta pada mereka yang telah siap-siap hendak menganti bajuku.

Aku merasa geli sekali ketika para ahli ini mengampas tubuhku. Ketika mereka hendak mengampas coretan dan gambar ditubuhku, tuanku tiba-tiba berlari kecil kemari dan berkata, “Maafkan aku tuan-tuan, tapi tolong bagian coretan dan gambar itu jangan dihilangkan. Itu kenangan putriku yang sangat berharga”, sambil tersenyum memandangiku.

Mereka yang mendengar permintaan tuanku kebingungan dan hanya bisa mengiyakan. Bukankah bagi semua orang justru coretan itu jelek dan tidak berharga?

Dan ya, aku setuju sekali dengan tuanku. Bagian itu dan bagian lainnya yang berisi kenangan jangan dihilangkan. Karena itu adalah kenanganku yang sangat berharga dengan tuanku, nyonyaku dan putri…, sebelum aku selesai membanggakan diriku sendiri, tuanku berkata, “Dan putrimu juga Oto. Putri kita…”, sambil berlalu tersenyum mengedipkan matanya dan kembali bermain dengan nyonyaku dan putrinya. Putriku juga.

Terimakasih tuan. Terimakasih Tuhan. Aku pernah berdoa meminta menjadi manusia, tapi kamu memberiku sebuah keluarga. Dan bagimu pemilik hati yang indah, jagalah keluargamu melebihi segala keindahan dunia. Karena ia tidak akan tergantikan selamanya.

:)

One thought on “Oto, simobil tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s