Membeli kebahagiaan


door-emotion-feeling-happiness-shop-sign-Favim.com-59051

Suatu hari, seorang pria memasuki sebuah toko yang bertuliskan BAHAGIA. Penjaganya adalah para malaikat Tuhan yang bertugas memberi kebahagiaan.

Pria: Aku ingin membeli bahagia.
Malaikat: Baiklah, dan menurut bahagia seperti apa yang kamu inginkan?

Pria: Aku ingin kaya dan sukses. Aku pasti bahagia kalau sudah seperti itu.
Malaikat: Baiklah.  *sambil tersenyum ramah.

Besoknya pria ini langsung kaya dan sukses. Dia memiliki berbagai mobil mewah dan rumah selayaknya istana. Perusahaannya berkembang pesat dan dikenal oleh dunia. Tetapi, setahun kemudian pria ini mendatangi toko Bahagia para malaikat kembali.

Pria: Mengapa aku tidak bahagia? *tanyanya lesu.
Malaikat: Bukankah aku telah memberimu yg membuatmu bahagia?

Pria: Iya, tetapi mengapa tidak bertahan lama? *bingung.
Malaikat: Karena kamu yang membuatnya demikian.

Pria: Maksudnya? *semakin bingung.
Malaikat hanya tersenyum.

Malaikat: Ingatkah kamu ketika pertama kali kamu mendapatkan pensil dari toko tuan George yang baik hati?
Pria: Iya, aku masih ingat *tersenyum mengenang kembali.

Malaikat: Bagaimanakah perasaanmu waktu itu?
Pria: Aku senang sekali. Bahkan aku menjaganya baik-baik. Sekarang akupun masih membawanya kemanapun aku pergi. *sambil mengerluarkan pensil itu dari saku bajunya.

Malaikat: Apakah pensil itu mahal harganya?
Pria: Ini? Tentu saja tidak. Diberikan pada siapapun mungkin tidak ada yang mau mengambilnya.

Malaikat: Lalu mengapa kamu begitu bahagia memilikinya dan menyimpannya?

Pria: Karena ini adalah hadiah pertamaku dari tuan George (tersenyum). Dia bagaikan seorang ayah bagiku. Aku sejak kecil telah kehilangan sosok seorang ayah. Ayah meninggalkan kami berdua entah kemana.  Hanya ibu dan tuan George yang memperlakukanku dengan baik. Dan pensil ini adalah hadiah ulang tahunku yang kesepuluh darinya.

Malaikat tersenyum.

Malaikat: Baiklah, apakah kamu masih ingat sepeda warna biru pemberian ibumu?
Pria: Ooohh…, sudah pasti! (bersemangat), ibuku membelikanku karena aku naik kelas. Padahal aku dulu sangat bandel dan malas belajar.

Malaikat: Bagaimanakah perasaanmu waktu itu?
Pria: Wuiihhh, aku senang sekali. Bahkan ibuku sampai marah ketika aku ingin memindahkannya kekamar tidurku karena takut hilang. Hahaha… (sambil terawa mengenang kepolosannya waktu kecil).

Malaikat: Apakah itu sepeda itu mahal harganya?

Pria: Haha…, pada jaman itu saja sepedanya sangatlah murah. Tapi itu adalah hadiah dari ibuku yang sangat kusayang. Sejujurnya aku tidak peduli mau itu sepeda atau apa, asalkan itu dari ibuku aku sudah sangat bahagia. Apalagi melihatnya yang begitu bahagia bisa menabung dan memberikanku sepeda itu, aku sudah sangat bahagia (dengan mata berkaca-kaca).

Malaikat: Lalu apakah kamu masih menyimpannya? Maukah kamu menjualnya padaku?

Pria: Tentu saja aku masih menyimpannya. Sepedanya masih terawat dengan baik dan kusimpan digarasi khusus dirumah. Itu adalah kenangan paling berhargaku yang tidak akan kujual pada siapapun ataupun ditukar apapun didunia i…. (pria ini sadar maksud malaikat).

Malaikat tersenyum puas, lalu dipeluk sebentar pria ini. Katanya.

“Banyak yang mengira dengan meminta harta dan kemewahan dunia ia akan menjadi bahagia. Dan mereka berusaha keras mewujudkannya. DIA yang Maha Baik melihatmu yang begitu menginginkannya dan berusaha keras mewujudkannya, memberikanmu apa yang kamu inginkan untuk mengajarkanmu sebuah pelajaran”.

“Tetapi, setelah sekian tahun bahkan berpuluh-puluh tahun, banyak daripada kamu mulai menyadari dan mempertanyakan kebahagiaan itu sendiri seperti pertanyaan tadi yang kamu tanyakan padaku”.

“Mengapa aku masih tidak bahagia? Mengapa kebahagiaan itu hanya sementara?”

“Ketika aku bertanya tentang segala kenanganmu yang membahagiakan, kamu begitu bersemangat bercerita. Bahkan semua barang-barang itu yang melekat dengan kenangan membahagiakanmu kamu simpan dan kamu jaga dengan sebaik-baiknya”.

“Kamu juga berkata padaku semua itu barang yang murah. Tidak ada harganya. Sederhana dan bisa dibeli kapan dan dimana saja. Tetapi ketika kutanya apakah kamu mau menjualnya padaku, kamu malah menolaknya. Padahal bukankah kamu telah mempunyai kekayaan dunia yang bisa membelinya berapa saja kamu suka”.

“Dan ketahuilah, itulah KEBAHAGIAAN SEJATI yang sesungguhnya. Ia tidak bisa dibeli maupun ditukar apapun didunia. Ia tidak ada sampai kamu MENCIPTAKANNYA”.

“Kebahagiaan sejati tidak datang dari luar diri kita, ia datang dari dalam hati kita”.

“Kebahagiaan sejati tidak memilih apakah dia harus sukses dan kaya dahulu ataupun miskin dan sengsara hingga dia butuh. Kebahagiaan sejati datang pada mereka yang berbahagia. Bukan pada mereka yang memenuhi syarat untuk bahagia sesuai aturan manusia maupun dunia”.

“Coba lihatlah mahkluk hidup yang kamu sebut anjing, apa yang kamu dapatkan ketika kamu pulang kerja larut malam? Dia menunggumu dari sejak kamu berangkat kerja sampai pulang kerumah dengan setia bukan? Dan apakah dia terlihat sedih melihatmu?”.

“Mungkin saat itu ia sedang kelaparan. Mungkin saat itu ia kesepian. Tetapi ketika hanya mendengar suara langkah kakimu saja, ia sudah senang bukan kepalang”.

“Itulah yang disebut kebahagiaan sejati. Ia datang dari dalam hati dan ia DICIPTAKAN. Dan baginya, tuannya dan keluarga tuannya adalah kebahagiaan itu sendiri, makanya ia menjaganya dengan kebahagiaan juga. Ia bahagia bukan karena mendapatkan apa-apa, ia bahagia karena ia tahu ia INGIN bahagia ada tuannya, dan ia tahu tuannya akan bahagia jika ia bahagia”, jawab malaikat tersenyum.

Sang pria terdiam sambil tersenyum puas. Dipeluknya malaikat ini dengan hangat. Dan sebelum berlalu, malaikat bertanya lagi dengan senyuman penuh arti.

Malaikat: Jadi, bahagia seperti apa yang kamu inginkan?

:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s