Buku itu bagaikan sebuah peta


82780205

Dulu, seorang teman baik berkata padaku, “Bro, gak perlu baca buku motivasi kayak gituan dech. Semua cuma teori aja. Paling loe baca sekarang dan termotivasi hari ini aja. Gue jamin dalam seminggu loe akan lupa lagi dan hidup loe juga seperti hari-hari sebelumnya”.

Saya tersenyum padanya.

Sejujurnya, saya merasa sedikit sakit hati dikatakan begitu. Disisi lain saya juga menghargai komentar dan “kebenarannya” dia mengatakan seperti itu. Buku yang saya baca pada waktu itu adalah buku yang menjadi favorit saya hingga kini. Dan buku itulah yang membuat saya mengambil keputusan menjadi sedikit lebih baik seperti hari ini.

Memang benar, buku sehebat apapun yang kita baca tanpa kita simak dan praktekkan hasilnya juga akan sia-sia. Dan yang lebih yang menyedihkan, seringkali kita menyalahkan buku itu dan bahkan orang yang membaca buku yang sama karena apa yang kita harapkan dari buku itu tidak memberikan hasil yang kita inginkan.

Dan memang benar, ada beberapa buku yang isinya sudah tidak cocok lagi untuk diterapkan pada zaman yang berubah serba cepat ini. Itulah mengapa kita perlu menyimak dahulu apakah isi dari buku itu bisa untuk diterapkan atau tidak. Jika masih bisa, kitapun harus pandai-pandai menyesuaikan isinya dengan keperluan kita.

Terdengar merepotkan? Ya, jika kamu berpikir demikian. Dan tidak, jika kamu berpikir tidak.

Sebuah buku kita bisa analogikan sebagai peta. Ketika kita ingin jalan-jalan kesebuah kota yang belum pernah kita kunjungi, hal yang pertama kita lakukan adalah mencari tahu bukan? Dan salah satunya adalah membeli peta kota tersebut.

Dari peta itu, kita bisa mengetahui jalan-jalan utama yang harus kita lewati untuk berkunjung ketempat yang ingin kita tuju. Dari peta itu kita juga mengetahui bahwa ada berapa dan dimana saja tempat wisata yang terkenal dikota tersebut. Jadi dengan peta kita menghemat waktu kita harus mencari dan bertanya.

Tentunya, peta yang kita beli itu haruslah peta yang masih berlaku atau bisa dipergunakan. Maksudnya adalah bahwa apa yang tergambar dipeta itu masih sesuai dengan tata kota sebenarnya. Jangan karena kita telah memiliki peta, kita asal jalan saja sehingga ada beberapa jalan yang telah diubah dan kita malah tersesat.

Ujung-ujungnya kita menyalahkan peta yang “menyesatkan” tersebut. Dan ternyata setelah kita cermati, peta itu sudah bertahun-tahun lebih tidak diperbarui. Atau mungkin sudah diperbarui tapi kitalah yang tidak mencermati pada awalnya. Siapakah yang harus disalahkan?

Itulah sesungguhnya fungsi buku – setidaknya dalam pengertianku.

Buku adalah peta yang ditulis oleh mereka yang telah pernah melakukannya. Dan sekalipun yang menulis tidak pernah melakukannya, setidaknya mereka menulisnya dari pengalaman orang lain yang telah melakukannya.

Dan, sekalipun penulisnya tidak menulis dari pengalaman sendiri maupun dari pengalaman orang lain dan sembarangan asal tulis saja, asalkan isinya memang baik dan bisa dilakukan, maka mengapa kita tidak mencoba melakukannya?

Ya, saya bisa mendengar Anda berkata semua orang bisa menulis buku yang memotivasi sekalipun kehidupannya tidaklah se-“Wah” yang ditulis atau dikisahkan mereka. Tetapi bukankah disitulah seninya motivasi, mereka membuat kita terinspirasi dan mengambil sebuah keputusan yang kelak mungkin akan mengubah kita hari ini.

Sebuah buku adalah tetap buku. Kita membacanya atau tidak buku itu tidak akan marah. Ketika saya berkata, ”Buku jelek! ini tidak akan bisa memberikan hasil”, mungkin Anda jauh disana berkata, “Ini buku yang hebat! Saya mendapatkan hasil yang luar biasa melalui buku ini”.

Lalu apa yang membedakan saya dan Anda?

Sesungguhnya kita sudah tahu. SIKAP dalam menyikapi buku tersebut. Saya mungkin terlalu pesimis, skeptis dan “kalah” sebelum berperang atau bahasa mudahnya TAKUT GAGAL. Sedangkan Anda berpikir sebaliknya dan Anda MEMBUKTIKAN bahwa buku itu bisa dilakukan dan Anda SUKSES.

“Jika penulisnya adalah orang yang biasa-biasa saja dan belum sukses, bagaimana dia bisa mengajarkan orang sukses? Seperti orang merokok. Jika dia tidak pernah merokok bagaimana dia bisa mengajari orang merokok?”, Tanya temanku.

Saya tersenyum lagi padanya. Dan sebelum melanjutkan, apakah Anda akan membenci saya atau tidak, saya ingin mengatakan ini, rokok tidak perlu dipelajari dan diajari dengan alasan yang kita telah tahu semua.

Hmm, rasanya dilemma bukan? Seorang penulis yang belum sukses menulis buku motivasi tentang sukses ataupun buku-buku sejenisnya yang memang pada dasarnya baik dan memberi inspirasi pada yang membacanya. Dan untuk menjawabnya, saya kutip satu kalimat dari buku yang pernah saya baca.

“Pemimpin tidak menciptakan pengikut. Pemimpin menciptakan pemimpin lainnya”.

Apakah sudah menangkap maksud saya? Saya rasa Anda pasti sudah memahaminya dan tersenyum sambil menganggukan kepala. Dan ijinkan saya berbagi maksud yang ingin saya sampaikan yang mungkin sedikit berbeda.

Buku adalah peta kita menuju suatu “keadaan” yang kita ingin. Dan keadaan itu bisa berupa pribadi yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik, penghasilan yang lebih baik, pasangan yang lebih baik, maupun yang lebih baik lainnya yang intiny baik.

Bagaimana kita memperlakukan SIKAP kita dalam menyikapinya itulah yang MEMBEDAKANNYA.

Tidak peduli apakah penulisnya itu pria yang ganteng, wanita yang cantik, orang yang belum sukses, pembohong kelas teri dan sebagainya, asalkan bisa memberikan hasil yang baik dan memang baik maka ia pantas untuk dilakukan.

Seandainya penulisnya adalah orang yang belum menciptakan hasil yang seperti Anda katakan, tetapi jika buku itu menciptakan Anda yang berhasil seperti yang Anda inginkan, mengapa Anda harus bersikeras bahwa buku itu tidak menghasilkan?

Dan saya yakin, setelah Anda berhasil mencapai “keadaan” yang Anda inginkan itu melalui buku yang Anda baca, Anda pasti tidak akan mengatakan buku itu jelek ataupun penulisnya blah blah blah lagi bukan?

Saya percaya malahan Anda akan mempromosikannya. Dan pada akhirnya buku itu membludak dan terjual habis. Bukankah penulis itu menjadi penulis yang sukses sekarang? Berkat siapa? Anda juga bukan?

Kok bisa begitu? Karena penulisnya tahu bahwa bukunya akan menciptakan seorang pemimpin baru, bukan seorang pengikut yang ikut-ikutan menulis buku. Terdengar dibuat-buat dan penuh khayalan? Ataukah ini trik saya supaya tulisan saya dibenarkan? Anda yang memutuskannya. Dan percayalah apapun penilaian Anda pada tulisan saya, saya dengan senang hati menerimanya (^_^)Y.

Sebagai penutup, tulisan ini saya tulis bukan untuk mengatakan membaca pasti membuat Anda sukses. Tetapi membaca itu sangat bermanfaat bagi kita. Buku memberi kita pengetahuan baru yang belum kita terpikirkan sebelumnya.

Selayaknya peta, kita jadi mengetahuinya walaupun kita belum pernah kesana. Kita jadi tahu bahwa dikota A adalah wisata A yang luar biasa. Dan ketika kita berkesempatan untuk mengunjungi kota A tersebut, kita bisa langsung menuju tujuan wisata yang ingin kita kunjungi tanpa perlu membuang waktu lagi tanya sana-sini yang seringkali membuat kita tersesat.

Dan sebagai penutup, saya ingin berbagi sebuah petikan kecil dari komik lama yang pernah  saya baca yang kutulis dalam bahasa sederhana seadanyaku sendiri.

“Peta hanyalah sebuah peta, bagaimana kita melihat (bersikap) peta itulah yang membawa kita kesana. Ia menjadi gulungan kertas biasa ketika kita takut menghadapi ombak lautan, tetapi ia menjadi gulungan emas bagi yang menerima tantangan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s