Berhentilah melukai dirimu sendiri.


stop_complaining

Berhentilah menetap dimasa lalu. Seringkali kita begitu mengagumi masa lalu kita yang begitu jaya, indah dan terlihat sempurna. Lalu kita begitu bangga dan menceritakan itu pada semua telinga, baik diwarung kopi dengan kenalan-kenalan yang baru dikenal, maupun mengulang-ulang pada teman kita yang dengan terpaksa mendengar dan sudah bosan.

Berhentilah menetap dimasa lalu. Itu sudah menjadi masa lalu. Tatap kedepan dan nikmati hari ini. Jadikan masa lalu yang indah itu sebagai PENGINGAT bahwa perasaan itu sangat menyenangkan, dan ciptakan kembali perasaan itu.

Dan apabila masa lalumu tidaklah indah, itu justru harus dilupakan. Jangan pernah menetap disana apalagi sampai “menginap” sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya. Tanyakan pada dirimu, apa yg menyenangkan dengan menetap dimasa lalu dan membuat menanggis menjadi tidak bahagia?

So, lupakan masa lalu yang menyakitkan. Kenanglah yang menyenangkan dan ciptakan kembali.

Berhentilah mengkuatirkan masa depanmu. Sebelum Anda melanjutkan membaca, baca ulang poin kedua ini. Berhentilah MENGKUATIRKAN masa depan. Saya tidak meminta Anda untuk berhenti memimpikan masa depan, terutama  masa depan yang cerah dan baik. Tetapi yang saya minta adalah BERHENTI MENGKUATIRKAN.

Analoginya sederhana. Anggap saja Anda sekarang penggemar film seri romantis Korea yang entah berjudul apa dan Anda begitu menyukainya. Ceritanya hampir mencapai puncaknya dan Anda begitu kuatir dengan bagaimana endingnya. Bagaimana tokoh utama pria yang tampan itu akan menjalani hukuman demi kekasihnya? Bagaimana sang kekasih menjelaskan salah paham itu? Dan sebagainya.

Ya, tidak mengapa jika itu membuatmu penasaran. Itu hal yang wajar. Tetapi jika rasa penasaran itu membuat Anda tidak bisa tidur nyenyak, mengganggu aktivitas Anda, bahkan mengosip seseorang hanya karena mirip dengan kisah film seri tersebut, itu sudah tidak wajar.

Saya terlalu membuat-buat? Mungkin ya, tetapi itulah yang sering kita lakukan.

Kita sering mengkuatirkan hari esok yang hari ini saja belum lewat. Kita sering bertanya malam ini ada bulan dan bintang tidak ya sedangkan sang mentari masih bersinar terik.

Hari ini adalah ANUGERAH Tuhan, besok adalah MISTERI-NYA. Lakukan yang terbaik untuk hari ini dan biarkan besok datang dengan sendiri dengan masalahnya ataupun hadiahnya. Ketika Anda memfokuskan apa yang akan terjadi besok, maka apapun yang hari ini bisa dijadikan indah menjadi tidak indah.

Taruhlah impianmu setinggi langit, tetapi capailah dengan langkah-langkah per tahap yang mantap. Jangan bertanya berapa anak tangga yang diperlukan untuk mencapai impian itu, tetapi bertanyalah tangga apa saja yang akan membawamu kesana, dan BAGAIAMANA.

Berhentilah mengeluh. Yup, berhenti mengeluh! Saya tidak perlu menjelaskan mengapa, karena Anda tentu lebih tahu dari saya. Dan jika Anda tidak tahu, maka carilah orang yang suka mengeluh dan mintalah dia mengeluh padamu. Untuk apa? Untuk menyadarkanmu bagaimana rasanya mendengar keluhan dan betapa tidak ada gunanya mengeluh.

Berhentilah membatasi dirimu sendiri. Inilah yang sering dilakukan kita – baik sadar maupun tidak – dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata pembatasan selalu muncul dalam kesehariaan kita. Kata-kata itu adalah,

Tidak bisa!
Tidak mungkin.
Tetapi…
Seandainya.

Dan sebagainya.

Kekuatan kata-kata sangatlah luar biasa, dan sesungguhnya kata-kata pembatasan diatas bukanlah berarti tidak boleh diucapkan. Tetapi banyak yang menggunakan kata-kata itu untuk membatasi dirinya.

Sebagai contoh,

“Tidak bisa, saya sudah mencobanya berkali-kali tetapi selalu ditolak”.
“Tidak mungkin, dia tidak mungkin suka padaku yang hanya karyawan rendah”.
“Saya ingin melamar pekerjaan itu, tetapi saya tidak mempunyai keahlian apa-apa”.
“Seandainya saya seperti [nama artis/actor kesukaanmu], maka saya pasti bahagia”.

Dan sebagainya.

Apakah semua itu salah? Tentu saja tidak. Kitalah yang menyalah-gunakannya. Saya pernah mendengar satu pepatah China yang sudah entah berapa lama usianya, dan secara pribadi bagi saya masih tersimpan kebenarannya. Bunyinya,

“Jangan menilai dari apa yang ditanyakannya, tetapi apa yang dipikirkannya”.

Saya yakin Anda pasti telah mendapatkan maksudnya dan apa hubungannya dengan kata-kata yang membatasi diatas.

Ya, karena kita BERPIKIR tidak bisa, dan untuk “membenarkan” bahwa kita tidak bisa, kita membuat kata-kata pembenaran tersebut. Dan hasilnya, kita menjadi YAKIN tidak bisa. Ironis bukan?!  Yang lebih parah, kita belum coba tetapi sering mendengar orang lain melakukannya tidak bisa, kita MENYAKINKAN diri sendiri bahwa kita juga pasti tidak bisa.

Tetapi, tetapi…, bagaimana seandainya kita memutar balikkan kata itu menjadi begini,

“Saya sudah mencobanya berkali-kali dan ditolak, TETAPI colonel Sanders sang empunya KFC yang udah tua aja tidak menyerah. Masa saya menyerah? Memalukan?”. *Sambil tepuk jidat pun boleh biar lebih dramatis.

“Dia TIDAK MUNGKIN suka padaku, bukan karena aku pegawai rendahan. TETAPI aku yang selalu merendahkan diri sendiri. Aku akan menjadi pribadi yang baik dan ketika pribadiku baik, aku akan menarik belahan hati yang baik dan dia pasti akan meliriku. YES!”. *Teriak sekeras-kerasnya, tapi jangan mengagetkan orang lain ya.

“Saya mungkin tidak mempunyai keahlian apa-apa yang menurut syarat yang dibutuhkan perkejaan yang ada, TETAPI saya mempunyai keahlian INGIN BELAJAR dan KEJUJURAN yang tinggi yang seringkali tidak dimiliki mereka yang punya ijazah dengan nilai sempurna dan keahlian yang ada”. *Sambil memandangi mata orang lain dengan penuh percaya diri. Kalau tidak ada, pakai cermin sampai Anda pede dengan kata-kata Anda.

“Saya memang bukan [nama artis/actor kesukaanmu], dan itu bukanlah alasan mengapa aku tidak bahagia. Aku sendiri yang MEMILIH untuk tidak bahagia. Lagian, semua keindahan fisik wajah bisa hilang dimakan usia, mengapa aku harus memilih bahagia yang justru menghilang nantinya?”. *Sambil berkata mengagumi dirimu sendiri betapa Tuhan begitu indah memberimu wajah sepert itu.

Terdengar dibuat-buat? Dan sebelum Anda menggunakan kosa kata PEMBATASAN diri Anda membela “kebenaran” Anda, PIKIRKAN kembali sebelum menggunakannya.

Berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain. Mungkin inilah cara paling mudah dan paling cepat melukai diri kita sendiri.

Sesungguhnya bukan perbandingan itu sendiri yang membuat Anda semakin terluka, tetapi bagaimana perbandingan itu yang Anda ciptakan untuk “mengasihi” diri Anda ataupun “membenarkan” mengapa Anda pantas untuk tidak bahagia.

“Aku memang tidak bisa karena aku tidak bersekolah seperti mereka”.
“Seandainya aku terlahir dikeluarga yang kaya seperti A, aku pasti bisa bahagia”.
“Dia punya keahlian itu, jadi sudah pasti bisa. Beda sama aku yang tidak bisa apa-apa”.

Dan blah blah blah lainnya yang bisa kamu tambahkan sendiri yang saya sendiri sangat sarankan dan memaksa tidak usah dilakukan. Semua itu PEMBATASAN DIRI dan MELUKAI.

Membandingkan diri Anda, apalagi kekurangan yang ada adalah hal yang wajar jika perbandingan itu dilakukan untuk MENILAI SEBERAPA JAUH IMPIAN Anda telah TERCAPAI. Tetapi jika perbandingan itu dilakukan hanya semata-mata untuk menunjukkan betapa jauhnya Anda dengan mereka dan semakin terpuruk dan memperburuk perasaanmu, maka itu sangat-sangat tidak dianjurkan.

Anda, saya dan kita semua mempunyai keinginan terdalam untuk “dibela” dan mungkin perasaan ingin “dikasihani” Karena memerlukan telinga untuk mendengar kisah kita. Ada yang menyebutnya perhatian, ada yang menyebutnya kepedulian, bahkan tidak jarang banyak yang hanya sekedar ingin mengeluh saja.

Jika itu memang bisa melegakan bebanmu, lakukan dan setelah itu jangan diulang! Apalagi yang justru semakin membuatmu terpuruk. Lagipula, apa gunanya Anda menyakiti diri Anda sendiri seperti itu? Dan jika Anda bersikeras ada, maka jangan katakan padaku. Tetapi tuliskan pada sebuah kertas dan setelah selesai bacalah kembali.

Membandingkan diri sendiri terutama kekurangan dengan kelebihan orang lain adalah sama saja dengan tidak mensyukuri apa yang telah Tuhan beri. Dan sebelum Anda protes dengan “kebenaran” dan “kepantasan” Anda tentang ketidakbahagiaan Anda, ingatlah ini.

“Tuhan tidak memberi ketidakbahagiaan. Andalah yang MEMINTA, dan Anda pulalah yang MENCIPTAKANNYA”.

Bagaimana caranya? Ya dengan melukai diri Anda seperti poin-poin diatas dan poin-poin bonus yang Anda ciptakan sendiri.

Ingatlah, bagimu itu sebuah kekurangan belum tentu bagi orang lain itu sebuah kekurangan. Bisa saja kekuranganmu dianggap kelebihan pada orang lain. Begitu juga sebaliknya, apa yang kamu anggap sebagai kelebihan bisa saja dimata orang lain sebagai kekurangan.

Anda berkata, “Seandainya aku kaya seperti dia memiliki segalanya”, dia mengatakan, “Seandainya aku memiliki keluarga seperti dia”. Anda berkata, “Mengapa aku selalu dijauhi keindahan dunia? Padahal aku sudah berusaha dengan baik dan membantu sesama?”, seseorang berkata, “Mengapa aku selalu dijauhi sahabat-sahabatku dan justru didekati yang hanya mengincar kemewahanku?’. Dan blah blah blah…

Anda ada karena Anda penting bagi dunia. Dunia memerlukan Anda sehingga Tuhan menciptakanmu dengan indah. Syukurilah segala yang telah Anda miliki, bukan yang belum Anda miliki apalagi sampai mensyaratkan akan bersyukur jika sudah memiliki.

Anda masih bernapas hari ini, Anda masih bisa membaca tulisan ini, seharunsya Anda harus banyak-banyak berterimakasih karena Tuhan masih memberimu ijin untuk tinggal didunia ini.

:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s