Suami dan dua buket bunga


flowers_pink_tulips_bouquet-0208

“Untuk apa bunga ini? Tanya Michelle bingung memandangi suaminya Mike.

Wajah Mike berseri-seri, senyumnya indah bagaikan pelangi diangkasa. Dengan kecupan hangat Mike mengecup pipi istrinya. “Bunga ini untukmu sayang”, jawab Mike dengan mata terlihat berkaca-kaca.

Istrinya tersenyum manis, lalu bertanya, “Iya sayang, lalu bunga yang satu ini untuk apa?”. Mike tertawa kecil, dilihatnya putrinya yang memasuki usia 17 tahun menghampiri mereka. “Ini untuk malaikat kecil kita”, jawab Mike langsung memeluk Angela.

Bingung dan bahagia, itulah yang dirasakan oleh istri dan putrinya. Tetapi Mike hanya menjawab kebingungan mereka dengan tawa kecil yang terdengar sangat bahagia. Karena penasaran, istrinya bertanya lagi, “Sayang…, ulang tahun pernikahan kita kan masih lama, dan ulang tahun putrimu juga sudah lewat. Jadi sesungguhnya ini bunga untuk apa?”.

Mike tersenyum. Dipeluknya mereka berdua. Katanya.

“Bunga ini adalah bunga tanda SYUKUR betapa aku begitu berbahagia memiliki kalian berdua. Dan aku pastikan kalian akan mendapatkan bunga ini rutin setiap bulan dariku”, dengan senyuman yang mempesona.

“Sayang, ketahuilah saat aku masih bekerja tadi, aku mendengar dan disadarkan betapa selama ini aku telah melupakan anugerah Tuhan yang begitu indah yang Dia berikan padaku. Dan anugerah itu adalah kalian berdua”.

“Ketika sedang menikmati makan siang bersama beberapa rekan kerjaku, aku mendapati bahwa aku sedang mendengar obrolan serius yang saling mengkomplain tentang istri mereka masing-masing”.

“Yang pertama aku mendengar rekan kerjaku mengkomplain mengapa istrinya selalu tidak bisa mengerti dia. Selalu mengeluh dan menganiayainya. Tentu saja pengertiaan menganiayainya bukan secara fisik, karena fisik temanku itu besar. Jadi yang dimaksudnya adalah selalu memperlakukannya tidak seperti suami sendiri”.

“Yang kedua aku mendengar rekan kerjaku mengkomplain mengapa istrinya tidak mempedulikannya. Tidak dibuatkan sarapan, selalu menceramahi sikapnya yang terlalu santai dan pendiam, selalu menyalahkannya atas semua yang terjadi padanya, dan komplainan lain yang tidak pantas aku ceritakan”.

“Yang ketiga aku mendengar rekan kerjaku mengkomplain mengapa putrinya selalu melawan perintahnya. Sering pulang malam dan bergaul dengan anak-anak lain yang nakal. Bahkan beberapa kali berani memarahi dan menyumpahi ayahnya”.

“Ketika mendengar mereka semua saling membandingkan siapa yang paling menyedihkan dan pantas diberikan piala pria paling kasihan, aku justru mendapatkan aku tidak menemukan komplainan apapun pada istriku dan putriku”.

“Makanya ketika aku pulang, aku bergegas ketoko bunga dan membelikan bunga ini padamu berdua sebagai tanda syukur atas segala cinta yang kuterima. Aku tidak menyadarinya sampai aku disadarkan oleh mereka”.

“Aku mungkin terlambat untuk mengatakan ini sayang, tapi aku benar-benar sangat bersyukur kamu memilihku sebagai suamimu dan memberikan putri yang cantik padaku serta menyempurnakanku”.

“Dan padamu putriku, ayah sungguh bahagia kamu hadir pada keluarga ini dan memberikan kehangatan cinta yang telah lama ayah rindukan”, sambil mengenggam tangan istri dan putrinya dengan erat.

Dalam keharuan yang dalam, Mike memandangi istrinya. Dibelainya dengan penuh sayang wajah istrinya itu.

“Aku telah melupakan betapa kamu begitu mengasihi kami sehingga pagi-pagi buta kamu telah bangun dan menyiapkan sarapan untuk kami supaya kami mempunyai tenaga ketika melakukan aktivitas kami”.

“Aku telah melupakan betapa lelahnya kamu mengurus rumah supaya kami pulang dan tetap nyaman dan bisa beristirahat dengan tenang, padahal yang lebih pantas mendapatkan itu semua adalah kamu yang membuat kami betah”.

“Aku telah melupakan betapa cemasnya kamu menunggui kami pulang dan berdoa agar Tuhan melindungi kami sedangkan yang kami lakukan hanyalah menambah waktu cemasmu dengan bersenang-senang diluar dengan alasan pekerjaan”.

“Aku juga telah melupakan betapa terlukanya kamu ketika aku membentakmu yang terlalu “cerewet” karena begitu cemas dengan kelelahanku bekerja, dan aku malah memakai alasan kepeduliaanmu yang penuh kasih sayang itu menyerangmu hanya demi melampiaskan kemarahanku yang tidak pantas kucurahkan”.

“Dan aku juga telah melupakan betapa putri kita ingin menghabiskan waktu bersama diakhir pekan dan berkumpul menghabiskan waktu bersama, tetapi aku malah memilih menghabiskan waktu bersama teman yang kapanpun bisa kulakukan”.

“Indahnya, kalian tidak pernah mengkomplain tentang sikapku yang tidak tahu berterimakasih dan mensyukuri apa yang telah kumiliki. Tetapi malah terus mendukungku tanpa memperlihatkan padaku betapa kecewanya kalian atas sikapku”.

Maafkan aku sayang, aku benar-benar menyesalinya. Aku tahu aku terlambat untuk menyadarinya, tetapi aku ingin memperbaiki semuanya. Dan terimakasih atas segala cintamu dan cinta putri kita padaku. Terimakasih…, terimasih…”, sambil mereka berpelukan mensyukuri segala anugerah yang Tuhan berikan.

Seringkali, karena kesibukan yang menyita waktu dengan alasan yang terdengar “indah”, kita semua melupakan yang sesungguhnya justru paling indah. Yaitu KELUARGA. Jagalah dan hargailah, jangan sampai kamu menyesalinya dikemudian hari nantinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s