Biasakanlah mengucapkan terimakasih


thx

Mengapa?

Jawabannya adalah karena terimakasih adalah cara termudah untuk memulai mensyukuri apa yang telah kamu miliki sekalipun kamu tidak atau belum menyadarinya. Dan terimakasih adalah cara termudah “mempelagikan” segala “badai” orang lain.

Ucapkan terimakasih atas udara yang kamu hirup.
Ucapkan terimakasih atas makanan yang kamu makan.
Ucapkan terimakasih atas minuman yang kamu minum.
Ucapkan terimakasih atas pekerjaan yang kamu kerjakan.
Ucapkan terimakasih atas pasangan yang Tuhan berikan.
Ucapkan terimakasih atas anak-anak Anda yang penuh semangat.
Ucapkan terimakasih atas orang tua Anda yang begitu menyayangi Anda.
Ucapkan terimakasih atas sahabat-sahabat yang selalu ada.

Dan selalu ucapkan terimakasih atas bantuan orang lain pada Anda. Apapun itu.

Ketika saya mengatakan apapun itu, maksud saya adalah bantuan yang bisa berupa materi, tenaga, ide, nasehat baik bahkan kritikkan pedas pada Anda. Ucapkan terimakasih sekalipun Anda berhak memaki dan ingin membalas kritikan itu berkali-lipat lebih pedas.

Sebuah ucapan terimakasih itu sangat ajaib. Ketika Anda mengatakannya dengan setulus hati, ada satu dorongan dari hati yang membuat Anda merasa senang. Anda merasa bersemangat dan Anda merasa lega.

Dan ajaibnya lagi, kata terimakasih yang Anda ucapkan pada seseorang yang telah membantu Anda, merasa berkali-kali lebih bahagia.

Bahkan, sekalipun orang itu adalah orang yang paling menyebalkan yang memberi Anda kritikkan pedas, mendengar Anda mengucapkan terimakasih, hati orang yang bersangkutan akan merasa suatu dorongan yang membuatnya “meleleh”.

Kritikkan yang pedas itu pelan-pelan tanpa dia menyadarinya mulai menjadi lebih tidak begitu pedas. Nadanya mulai melembut. Suaranya mulai terdengar menjadi lebih menyenangkan. Dan tanpa disadari, kritikkan pedas itu menjadi sebuah masukkan.

Terlalu mengada-gada?

Percayalah, memang sesederhana itu kok. Dan saya dulu mengalami hal yang sama ketika saya masih bekerja disebuah perusahaan kecil dimana saya emosi terhadap satu rekan kerja yang kerjaanya menurut saya “lamban”.

Ketika saya mendatanginya dan memarahinya bahkan saya mengguruinya dengan “kebijaksaanku” dan “kebenaranku” yang belum tentu benar, rekan kerjaku hanya mendengarkannya dengan seksama tanpa membalas perkataanku.

Setelah puluhan menit mengkritiknya, dia menurunkankan kepalanya. Saya berkacak pinggang merasa menang dan dia yang kalah. Lalu dia memandangiku dan berkata,

“Bro, loe benar sekali. Terimakasih atas masukkannya. Kalau gue diposisi loe yang memang sangat menghargai waktu, gue juga akan merasa emosi dan marah. Terimakasih bro. Terimakasih banyak. Lalu apa saranmu supaya gue bisa lebih efektif?”, tanyanya meminta saranku, padahal saya baru saya memarahinya dengan pedas. Pedas sekali.

Saya yang berkacak pinggang mulai menurunkan tanganku dan melipatnya didada. Saya waktu itu tanpa sadar menurunkan nada suaraku yang memang tinggi. Lalu kuberikan saran yang mungkin bisa membantunya.

Saya memakai kata mungkin karena waktu itu saya merasa bahwa saya terlalu menilai seseorang dari posisi sepihak saja. Padahal mungkin saja rekan kerjaku ini sudah melakukannya dengan maksimal, tapi keadaan yang membuatnya terlihat berbeda.

Saat itu, kami malah saling memberikan masukan dan menyesuaikan dengan pekerjaan kami. Bahkan kami tertawa beberapa kali mengapa tidak terpikirkan hal demikian sebelumnya.
Itulah hebatnya kata terimakasih yang tulus.

Memang benar dengan kata terimakasih bukan berarti semua orang akan berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan, karena memang benar banyak orang diluar sana yang memang senang atau hobi untuk mengkritik orang yang istilah kerennya adalah Haters (pembenci).

Tetapi mengapakah kita harus membalas kritikan orang yang memang menyebalkan seperti itu?, Senyum sajalah dan ucapkan terimakasih atas kritikkannya. Lama-lama dia akan capek sendiri dan dia akan menyadari bahwa kamu terlalu cerdik untuk dijadikan “teman” dalam saling mengkritik.

Dan memang benar tidak mudah untuk melakukannya apalagi mereka yang mengkritik sudah sampai memaki, membawa nama baik, keluarga bahkan agama.

Bagaimana sikap kita bila menemukan orang seperti itu? Mungkin pendapatku ini akan ditertawai Anda dengan alasan saya bodoh dan tidak gentleman atau apalah, tetapi jika saya diposisi itu, saya akan tersenyum saja.

Apa bisa? Tentu saja tidak bisa ketika pertama kali melakukannya, tetapi percayalah, saya sudah berkali-kali melewatinya dengan berbagai kisah yang berbeda pula. Dan saya percaya Anda PASTI LEBIH BISA.

Bahkan saat menghadapi situasi seperti itu dulu, saya sempat berucap terimakasih atas semua “masukkanya”. Dan sebagai informasi saja, beberapa dari mereka yang memberiku “masukan” yang sangat pedas itu malah menjadi teman yang baik.

Mereka kadang masih merasa segan dan sangat menyesal mengapa bertingkah seperti itu dulu ketika kami bertemu. Bahkan mereka masih tidak percaya mengapa saya justru berterimakasih bukannya menyerang.

Well, sejujurnya saya ingin menyerang kembali. Tetapi itu tidak saya lakukan karena saya menyadari hasilnya pasti berbeda dengan sekarang, dan mungkin tulisani inipun tidak akan kutuliskan dan kubagikan.

Itulah kekuatan ajaib kata terimakasih.

Kata terimakasih memberi kita sebuah kekuatan untuk mensyukuri. Dan bagi yang mendengarya membuat hati dan perasaan menjadi lebih indah (saya tidak tahu bagaiamana menggambarkannya), bahkan kadang kata-kata yang diucapkan dengan tulus dan berkali-kali membuat kita salah tingkah.

Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman kecil yang saya alami berhubungan kata ajaib terimakasih ini.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan Broadcast BBm dari seorang teman bahwa terjadi kemacetan dijembatan tol dikota kecil kami. Sebenarnya saya paling malas membroadcast ulang.

Tetapi saat itu saya merasa info ini cukup penting karena mungkin bisa berguna bagi teman-teman lainnya yang tinggal dikota yang sama dan hendak pulang melalui jembatan tol yang macet tersebut.

Lalu sayapun membroadcast ulang BBm tersebut dengan tambahan kalimat terakhir dibawah yang saya tulisan, “Hanya meneruskan BC teman, semoga informasi ini membantu. Terimakasih”.

Lalu apa yang terjadi? Hampir semua teman diBBm saya membalas Broadcast tadi dengan ucapkan yang sama, berkali-kali lagi.

Dan kata itu adalah TERIMAKASIH.

Bagaimana perasaan saya? Yang pasti merasa gimana gitu dech. Senang dan membuat saya salah tingkah. Padahal saya hanya meneruskan informasi yang bukan milik saya. Saya hanya merasa ini mungkin cukup penting dan saya juga mengucapkan terimakasih pada teman saya yang membroadcast info itu sebelumnya.

Dan kata terimakasih itu membuat saya mensyukuri bahwa ternyata sebuah perbuatan baik kecil yang tidak ada apa-apanya bagi kita bisa menjadi perbuatan yang besar bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkannya.

Itulah kekuatan terimakasih, dan karena hebat dan ajaibnya kata terimakasih ini, ia memberikan saya inspirasi untuk menulis tulisan sederhana kalang kabut ini dan untuk berbagi.

Akhir kata, terimakasih sudah mengunjungi blog kecil ini. Dan terimkasih telah mau membaca tulisan ini. Dan terimakasih sekali lagi Anda mau berucap terimakasih, jangan pada saya, tetapi pada mereka yang telah membantu Anda.

Terutama pada Anugerah Tuhan pada saya, Anda dan kita semua.

Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s