Kamu tidak memakan cangkirnya, kamu meminum tehnya.


tumblr_mdfu3mmUG61rnz60oo1_500

Suatu hari, empat sahabat baik yaitu Amir, Amat, Budi dan Andi mengadakan reuni bersama setelah sekian tahun tidak bersua. Mereka mengadakan reuni disebuah cafe favorit mereka sejak masih muda.

Dalam perbicangan mereka, diketahui mereka telah menjadi pengusaha yang sukses. Amir sekarang berbisnis bahan-bahan bangunan. Amat mempunyai restoran dimana ia tinggal. Budi meneruskan mini market orang tuanya, dan Andi adalah seorang pengembang yang cukup dikenal.

Tetapi, dalam perbincangan mereka juga, kebanyakkan yang diperbicangkan bukanlah tentang bisnis itu sendiri ataupun kenangan-kenangan berharga ketika mereka masih berstatus muda dan berjiwa petualang. Yang diperbicangan dan malah saling “membanggakan” adalah keluhan dan ketidakbahagiaan mereka.

Setelah berdebat cukup lama, Amir yang kebetulan lebih banyak mendengar menghentikan “kebanggaan” teman-temannya. “Stop bro! Gue pusing nih dengar keluhan kalian. Kita harusnya bersenang-senang udah lama gak ngumpul malah jadi tempat curhat dan keluh kesah…”.

“Iya ne bro, tapi kita memang tidak bisa lari dari kenyataan bukan? Buktinya gue sekarang mau ngumpul dengan kalian aja susah. Mana mini market yang gue jalani 24 jam lagi. Capek dee…”, jawab Budi sambil diiyakan dengan anggukkan kepala teman-temannya.

“Oya, mengapa kita tidak menemui guru kita waktu SD dulu yang terkenal baik dan bijak? Mungkin dia bisa memberi kita jawaban mengapa kita tidak pernah merasa bahagia dengan apa yang kita lakukan. Padahal banyak diluar sana banyak sekali yang ingin mempunyai posisi seperti kita. Pasti ada yang salah dengan kita semua”, lanjut Andi.

Semuanya setuju dengan pendapat Andi. Lalu setelah menentukan waktu dan lokasi berkumpul, keempat sahabat ini pun berpisah dengan kendaraan pribadi masing-masing.

“Selamat siang pak guru Mike…”, sapa Amir dengan semangat sambil melambaikan tangannya. Terlihat duduk seorang tua sedang mengajar anak-anak kecil dibawah kumpulan pepohonan yang rindang. Ternyata itu adalah guru SD mereka yang bernama Mike.

Setelah berbasa-basi sebentar dan menemani anak-anak bermain sebentar sesuai permintaan guru mereka Mike, mereka pun disuruh gurunya untuk berkumpul dirumah sederhananya.

Kedatangan mereka disambut hangat oleh guru mereka, dan tanpa mereka ketahui ternyata gurunya telah tahu maksud kedatangan mereka.

“Ada yang suka teh?’, tanya sang guru. Semua mengangguk kepala tanda setuju. Lalu guru mereka masuk kedapur dan membawa 6 cangkir teh. 2 cangkir teh sangat mewah. 2 cangkir teh terlihat biasa dan 2 cangkir lainnya terlihat jelek tidak menyenangkan mata.

Ketika guru mereka meletakkan 6 cangkir itu, 2 cangkir pertama langsung diambil Amir dan Amat seperti saling berebutan. Budi dan Andi saling berpandangan dan langsung mengambil 2 cangkir yang terlihat biasa itu. Sisanya, 2 cangkir yang terlihat jelek itu tidak seorangpun yang mau.

Padahal guru mereka sengaja menaruh cangkir paling mewah itu jauh dari jangkauan mereka, dan yang terlihat jelek ditaruh didekat mereka. Melihat mereka, sang guru hanya bisa tersenyum. Lalu ia pun menuangkan teh itu pada cangkir pilihan murid-muridnya.

“Lalu, apa yang membawa kalian kesini menemui kakek tua yang sudah pikun ini…”, tanya gurunya membuka suara. Lalu keempatnya tanpa babibu basa-basi mulai mengeluh dan saling membandingkan.

Setelah cukup lama mendengar keluhan mereka, gurunya hanya tersenyum dan seringkali tertawa kecil melihat tingkah mereka. Keempatnya sudah jadi pengusaha sukses, tetapi apa yang mereka bicarakan seakan-akan menyesal telah sukses.

Dengan santai sang guru mengambil cangkir mereka semua. Lalu dibawanya cangkir itu kedapur dan dicuci bersih lagi. Setelah itu cangkirnya dibawa keluar lagi dan diletakkan diatas meja tadi. Kali ini, guru mereka melarang mereka untuk mengambil cangkirnya dahulu.

Lalu dipanggilnya cucunya datang menghampiri mereka semua. “Cu…, mau minum teh kakek?”, tanya sang guru pada cucunya. “Mau kek, mau banget…”, jawab sang cucu sambil melompat-lompat senang. “Kalau begitu pilih cangkir yang kamu mau”, lanjut sang guru sambil tersenyum ramah.

Sang cucu langsung saja ambil satu cangkir yang dimeja dan kebetulan yang diambil adalah cangkir yang terlihat paling jelek. Lalu sang guru menuangkan teh pada cangkir itu.

“Hmmm…, enak kek, minta lagi”, pinta sang cucu. Sang kakek tertawa kecil. “Kalau begitu pakai cangkir ini saja”, pinta sang kakek sambil memberikan cangkir yang terlihat biasa. “Boleh kek…”, jawab sang cucu senang.

“Hmmm…, enak banget kek. Teh kakek memang hebat”, puji sang cucu sambil meminta secangkir lagi. Kali ini sang kakek meminta cucunya memakai cangkir paling mewah. Sang cucu mengiyakan dan berkata, “Mau pakai cangkir apapun boleh kok kek, lagipula aku bukan suka cangkirnya, aku suka TEHNYA“.

Setelah 3 cangkir, sang cucupun puas dan kembali keluar bermain bersama teman-teman sebayannya. Keempat sahabat ini hanya bisa bingung melihat apa yang dilakukan gurunya.

“Apakah kalian telah menemukan jawabannya?”, tanya sang guru. Keempat sahabat ini saling memandang dan menggelengkan kepala. Sang guru hanya tertawa kecil dan menambah bingung keempat muridnya.

“Murid-muridku, apa yang kamu tanyakan tadi, jawabannya baru saja dikatakan cucuku. Sayang, kalian tidak menyadarinya dan aku juga tidak heran kalian datang padaku dengan segala keluhan itu”.

“Kebahagiaan yang kalian cari tidak didapatkan dari luar, tetapi didapatkan dari dalam”.

“Ketika aku membawa 6 cangkir tadi diawal, kamu berdua (Amir dan Amat) langsung mengambil cangkir yang terlihat paling mewah padahal aku meletakkannya paling jauh. Sedangkan kamu berdua (Budi dan Andi) melakukan hal yang sama, padahal didepan dan paling dekat adalah cangkir yang sama hanya berbeda terlihat jelek saja”.

“Ketika kamu mendapatkan cangkir yang kurang bagus menurutmu, kamu mulai memperhatikan sekelilingmu dan sesamamu yang mendapatkan cangkir yang bagus dan mewah. Kamu mulai membandingkan cangkirmu dengan cangkir orang lain sehingga menjadi iri dan dengki dengan cangkirmu sendiri”.

“Tetapi, kalian lupa, cangkir itu hanyalah wadah. Kalian lupa bahwa cangkir itu akan diisi tehnya. Dan sesungguhnya menurutmu mana yang lebih penting ketika kamu INGIN meminuh teh, cangkirnya ataukah TEHNYA?”.

“Itulah mengapa kamu tidak menemukan kebahagiaan seberapapun kamu mengejarnya, karena kamu MENGEJAR dan MEMBANDINGKAN CANGKIRNYA, bukan MENIKMATI TEHNYA. Semakin kamu membandingkan cangkirnya, semakin kamu tidak menikmati tehnya”.

“Ketika cucuku kuminta meminum teh kesukaanku dan juga kesukaannya, apapun cangkir yang kutawarkan, dia terima dengan gembira. Baginya, mau cangkir apa saja tidak masalah karena dia menginginkan tehnya”.

“Itulah yang sekarang kamu perbuat murid-muridku. Kamu mengejar cangkirnya (luar), tapi kamu melupakan isinya (dalam). Kebahagiaan tidak berasal dari luar, ia berasal dari dalam”.

“Menginginkan cangkir yang bagus itu baik, tetapi ketika kamu mulai MEMBANDINGKAN cangkirmu dengan cangkir orang lain, itu sudah tidak baik. Semua mempunyai teh yang sama enaknya, sayangnya banyak yang MENGIRA dan BERASUMSI bahwa tehnya akan menjadi lebih enak dipadukan cangkir yang mewah”.

“Kamu tidak memakan cangkirnya, kamu meminum tehnya. Kamu juga tidak bisa membeli bahagia, kamu hanya bisa MEMILIH untuk berbahagia. KAPAN SAJA dan DIMANA SAJA“.

:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s