Impian bagaikan resep ayam goreng


Southern-Fried-Chicken-Recipe

Ada 3 sahabat yang sangat ingin mencicipi ayam goreng. Suatu hari mereka mendengar ada seorang pertapa yang tinggal dipuncak gunung bisa memberikan resep ayam goreng itu. Ketiga sahabat ini sangat bersemangat dan berjanji besok pagi mereka akan menemui pertapa itu.

Paginya, mereka berangkat dengan semangat penuh. Mereka bernyanyi dan senang sekali. Lalu tibalah mereka ditanjakan pertama dan bertemu seorang pemuda. Dia terlihat kelelahan. Salah satu dari 3 sahabat ini bertanya mengapa. Lalu berceritalah pemuda ini.

Ternyata, pemuda yang lelah ini juga ingin menemui sang pertapa, tetapi dia menyerah karena puncaknya masih tinggi. Dengan membayangkan saja sudah membuatnya merasa lelah. Dia juga bertanya pada 3 sahabat ini apakah pantas ayam goreng yang akan mereka dapatkan nanti sesuai dengan segala usaha mereka. Pemuda ini juga menyarankan lebih baik menunggu disini sampai mereka yang berhasil mendapatkan resepnya diatas dan turun membagikan pada mereka.

Ketiga sahabat ini terdiam. Lalu salah satunya berkata, “Sahabatku, aku setuju dengan pemuda ini. Untuk apa kita bersusah payah bertiga naik keatas, bukankah lebih baik menunggu saja. Tidak perlu capek-capek mendakinya. Lagipula, gunungnya sangat tinggi penuh bebatuan dan berliku-liku lagi”.

Akhirnya, setelah berdebat sebentar, tinggal 2 sahabat yang tetap mendaki. Mereka menghargai keputusan sahabat yang satunya dan tidak mau memaksakan kehendak mereka. Padahal mereka juga telah berusaha menyakinkan sahabatnya bahwa mencoba dan mendapatkan sendiri resepnya lebih baik daripada menunggu disana.

Setelah perjalanan cukup jauh, tibalah mereka ditanjakan kedua.

Ditanjakan kedua ini, terlihat beberapa pemuda yang duduk santai juga. Mereka terlihat lebih sedikit menikmati dibanding pemuda yang ditanjakan pertama. Ketika hendak melanjutkan perjalanan, seorang pemuda memanggil mereka datang menghampiri 2 sahabat ini. Lalu dia menawarkan resep ayam goreng yang dicari mereka.

Kedua sahabat ini terkejut. Bagaimana mereka bisa mendapatkan resep itu?. Dan daripada mereka, kedua sahabat ini mengetahui bahwa resep itu adalah resep yang ditulis oleh seseorang yang pernah sampai dipuncak dan menjualnya pada mereka. Dan karena sudah mengetahui resep tersebut, mereka tidak mau menaiki tanjakan itu lagi. Bagi mereka itu sudah cukup. Lagipula untuk apa capek-capek keatas lagi dan hanya mendapatkan resep yang sama.

Kedua sahabat ini terdiam. Lalu salah satu sahabat ini berkata, “Sahabatku, untuk yang kali ini aku setuju dengan pemuda ini. Untuk apa kita bersusah payah naik keatas lagi jika kita sendiri bisa membelinya disini? Lagipula, resepnya juga sama bukan? Belum lagi gunungnya masih tinggi dan tanjakan makin tinggi”.

Dengan perasaan berat, sahabat yang tinggal sendiri ini terus melanjutkan perjalannya. Ketika ditengah perjalananya keatas, terpikir beberapa kali ia hendak berhenti. Banyak pikiran yang membenarkan pendapat sahabat-sahabatnya. Tetapi karena keinginannya yang besar untuk mendapatkan langsung resep dari sang pertapa, ia tetap berjuang sekalipun sendirian.

Setelah cukup lama berjuang, akhirnya ia tiba dipuncak. Ia begitu terkejut dengan pemandangan disana. Sangat indah, menentramkan, dan penuh kepuasan yang tak terkatakan. Samar-samar didepannya ia melihat seorang tua sedang mengoreng sesuatu.

Belum sempat ia bertanya siapa, orang tua ini berkata padanya, “Anak muda, ayam gorengnya sedang aku siapkan. Duduklah sebentar dan beristirahatlah. Nikmatilah perjuanganmu, karena kamu pantas mendapatkannya.” Ternyata orang tua ini adalah pertapa yang ia dan sahabat-sahabatnya ingin temui.

Setelah menunggu sebentar dan puas beristirahat, ia dan pertapa ini menikmati ayam goreng yang sangat diimpikannya. Ternyata ayam goreng tersebut luar biasa enaknnya. Gurih dan penuh rasa yang memanjakan lidah dan jiwa. Sambil menikmati ayam goreng tersebut, pertapa ini bertanya padanya, “Anak muda, maukah kamu resep ayam goreng ini?”.

“Iya, aku mau guru”, jawabnya  sangat gembira. Lalu sang pertapa memberikannya resep ayam goreng yang nikmat itu. Ternyata, setelah dilihat, resep itu hampir sama dengan resep yang ditawarkan oleh para pemuda ditanjakan kedua. Memang ada yang berbeda, tetapi sisanya hampir sama.

Seperti bisa membaca pikirannya, pertapa ini berkata.

“Sesungguhnya tidaklah terlalu penting resep ayam goreng itu anak muda, karena resepnya semuanya memang hampir sama. Tetapi mengapa dengan resep yang hampir sama bisa menghasilkan RASA yang berbeda, semua itu tidak lain karena KEINGINAN dan USAHA“.

“Ada yang merasa resepnya susah, bahan-bahannya tidak ada, perlu waktu lama dan biaya, mereka menyerah. Ada pula yang sudah berusaha, tetapi seringkali gagal dan tidak sesuai selera, akhirnya menyerah dan mencari yang mudah dengan segala cara yang sebenarnya membohongi dirinya sendiri dan sesamanya”.

“Tetapi, mereka yang terus berusaha, tidak menyerah, mengikuti dan terus menyesuaikan resep itu hingga akhirnya, merekalah yang mendapatkan resep sesungguhnya. Dan resep itu, hanya mereka yang tahu. Yang lebih luar biasanya, mereka malah menemukan resep baru yang kadang unik dan berbeda”.

“Ingatlah anak muda, kamu bisa mendapatkan resepnya darimana saja, tetapi ketika kamu tidak berkeinginan dan malas untuk melakukannya, sesempurna apapun resep itu, ia akan menjadi sia-sia”.

“Begitu juga sebaliknya bagi mereka yang tidak menemukan resep yang sempurna. Tetapi mereka berkeinginan keras, tidak malas dan terus berusaha, justru mereka yang kelak akan menciptakan resep baru yang dicari-cari orang banyak didunia”.

“Ada yang puas hanya dengan menunggu ayam goreng pemberian orang lain kepadanya. Ada yang puas dengan membeli resep dan mengoreng seadanya saja sekalipun sudah bosan dengan rasanya. Dan ada yang  berusaha keras menciptakan sendiri ayam goreng favoritnya dan terus menikmatinya”.

“Semua kembali pada KEINGINANmu, USAHAmu dan seberapa kamu MAU. Bukan pada resepnya, tapi pada kokinya yang sesungguhnya adalah kamu”.