Kucing dan semangkok susu


day-101-cat-drinking-milk

Suatu hari, ada dua ekor kucing yang sedang berdebat. Yang satu berpostur besar dan bulunya berwarna hitam pekat. Yang satu berpostur kecil dan bulunya berwarna keabuan.

“Tidak! Aku tidak akan bisa menerima ide bunuh dirimu yang mencari makanan direstoran mewah didepan sana. Apakah kamu tidak sadar sudah berapa banyak saudara kita yang pulang dengan bekas luka ditubuhnya? Bahkan beberapa kehilangan anggota tubuhnya”, jawab kucing berbulu hitam sinis.

“Tetapi apakah kamu tidak bosan dengan keadaan kita sekarang? Yang bertahun-tahun tidak ada perubahan dan makin menyedihkan? Untuk mendapatkan makanan saja kita harus menunggui sampah yang dibuang dan mengalir kesungai ini”, balas kucing berbulu keabuan.

“Haha…, apa yang kamu harapkan? Mencari makan kerestoran mewah didepan sana dengan mempertaruhkan nyawa? Menurutku itu bukan saja ide yang gila, kamu mungkin juga sudah gila”.

“Saudaraku, kita DILAHIRKAN untuk seperti ini selamanya. Kita TIDAK AKAN BISA mengubahnya. Jika kita pantas untuk makan direstoran mewah tersebut, mengapakah DIA menempatkan kita disini sejak dari kecil dulu?”.

“Terima sajalah. Kita sudah sangat beruntung bisa mencari makan disini tanpa perlu bersusah payah, yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu dan bergerak cepat ketika ada makanan lewat”, jawab kucing berbulu hitam ini sambil berlalu.

Dengan kepala tertunduk lesu, kucing berbulu keabuan ini pasrah. Apa yang dikatakan temannya memang ada benarnya juga. Tetapi, hati kecilnya juga melawan seakan menasehatinya. Lalu kucing berbulu keabuan ini mengambil keputusan, ia pergi menemui para pendahulunya yang pernah kerestoran mewah.

“Ya, manusia sangat jahat disana. Lihat ekorku yang terputus ini, itu karena mereka tidak menyukai kita. Aku sudah sangat beruntung bisa selamat dari sana dan kembali hidup-hidup. Saranku padamu, jangan pernah kesana sekalipun kamu tidak sayang nyawa”.

“Kamu mau kesana? Hahaha…, Apa aku tidak salah dengar? Coba lihat bekas ditubuhku ini, menurutmu ini sebuah kebanggaan aku kehilangannya? Buang jauh-jauh pikiran itu anak muda”.

“Hanya satu permintaanku padamu teman. Jangan pernah kesana. Itu bukan untuk kita. Itu untuk mereka yang beruntung saja. Kita tidak akan bisa”.

Itulah jawaban-jawaban pesimis yang dilontarkan kucing lainnya ketika ditanya bagaimana cara kerestoran mewah impian kucing keabuan ini. Semakin mendengar, semakin putus asa kucing keabuan ini.

Karena memang telah kehilangan semangatnya dengan segala kebenaran yang dikatakan saudara-saudaranya lainnya, kucing berbulu keabuan ini mengambil keputusan terakhir. Ia akan bertanya pada satu kucing lain lagi. Tapi tidak pada kucing yang pulang gagal kemari, tetapi mereka yang pernah menikmati disana walaupun cuma sekali.

Kucing berbulu keabuan inipun teringat akan satu ekor kucing tua yang tinggal disebuah rumah mewah bersama seorang nenek tua. Lalu iapun bergegas kesana dan ingin menyelinap kesana sekalipun cuaca malam itu hujan lebat dan gelap.

“Catherine, aku pernah dengar kamu sekali tinggal direstoran mewah didepan disana dulu. Apakah benar? Bagaimana caranya?”, Tanya kucing keabuan ini pada kucing berbulu putih tua dengan bola mata biru tersebut seperti memohon.

“Hihi…, mengapa kamu tanya padaku? Bukankah aku dicap gila oleh kumpulanmu disana? Mengapa kamu tidak bertanya pada mereka yang lebih berpengalaman menurut mereka sendiri?”, Tanya kucing tua ini yang bernama Catherine sambil tertawa kecil.

“Aku sudah bertanya pada mereka…, dan mereka semua mengatakan aku gila…”, jawab kucing keabuan ini tertunduk lemah.

“Hihi…, melihatmu yang sekarang justru mengingatkanku waktu muda dulu. Aku juga kehilangan semangat sepertimu. Tetapi anak muda, ini saranku, PERGILAH KESANA dan lakukan apa yang terbalik dari yang dilakukan mereka yang mengatakan kamu gila. Plus dengarkan satu nasehatku ini”, jawab Catherine lalu membisikinya sesuatu.

“Ooooh…, begitu ya”, teriak kecil kucing berbulu keabuan ini menjadi bersemangat.

Setelah berterimakasih, maka berangkatlah kucing berbulu keabuan ini kerestoran mewah yang sudah lama diimpikannya.

…..

Setelah bertahun-tahun kemudian, kembalilah kucing berbulu keabuan ini mengunjungi Catherine. Cahterine yang melihatnya hanya tersenyum. Tanpa perlu berkata apa-apa Catherine tahu bahwa “anak didiknya” ini telah berhasil.

Tubuhnya tinggi tegap. Bulunya halus berkilaun terawat. Pandangan matanya tajam. Jalannya lincah dan penuh semangat.

“Hihi…, Selamat datang kembali anak muda, melihatmu yang sekarang, aku yakin kamu telah belajar banyak. Petualangan apa saja yang bisa kamu bagikan padaku sebagai pengantar tidurku? Hihi…”, sapa Catherine ramah.

Kucing berbulu keabuan ini merebahkan tubuhnya disamping Catherine yang telihat sudah lemah. Diciumnya kening Catherine. Lalu mulailah ia bercerita.

“Ketika pertama kali aku sampai disana, aku begitu kelelahan dan lapar. Aku rasanya ingin masuk kerestoran itu dan mengambil makanan untuk mengisi perutku. Tetapi aku tidak melakukannya karena teringat nasihatmu”.

“Kamu berkata padaku agar, JANGAN MENCURI atau MENGAMBIL APA YANG BUKAN MILIKMU”.

“Dengan menahan lapar, aku mengais tong sampah dibelakang restoran dan memakan seadanya. Setelah selesai, aku mengikuti nasehatmu. Aku duduk berjaga didepan pintu belakang restoran”.

“Hari pertama aku diusir oleh seorang koki tua sambil memakiku. Hari kedua juga sama hingga berminggu-minggu lamanya. Hingga pada minggu keberapa aku lupa, aku diberikan semangkok kecil susu segar. Koki tua yang awalnya mengusirku tersenyum ramah membelai kepalaku dan berlalu”.

“Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang indah. Semangkuk kecil susu segar menjadi semangkuk besar plus makanan restoran yang telah lama kuimpikan. Selanjutnya aku diberikan keranjang tidur yang ditempatkan didapur dekat jendela”, kenang kucing berbulu keabuan ini tersenyum.

“Hihi…, Sekarang?”, Tanya Catherine dengan mata terlihat sayu seakan hendak tidur. Kucing berbulu keabuan ini mencium keningnya lagi. Lanjutnya.

“Sekarang aku ditempatkan ditempat yang sangat nyaman. Disebuah rumah mewah dengan teman baikku yang memberiku banyak nasehat indah pada dulunya. Dengan perawatan terbaik, makanan terbaik dan penuh belaian kasih sayang sang tuan rumah”.

“Akhirnya aku mengerti arti perkataanmu dulu. Melakukan terbalik apa yang dilakukan oleh kumpulanku”.

“Dulu, mereka melakukan apa saja untuk mendapatkan makanan disana. Dan yang sering mereka lakukan adalah MENCURI dan MENGAMBIL apa yang bukan milik mereka. Dan tentu saja pemiliknya akan marah dan memperlakukan kita sepantas kita mendapatkannya”.

“Nasehatmu yang dulu kamu bisikkan padaku agar aku BERSABAR, BERSABAR, BERUSAHA dan SELALU BERJAGA dibelakang pintu restoran akhirnya aku tahu apa maksudnya. Kamu ingin mengajarkan padaku untuk selalu MELIHAT PELUANG dan MENCIPTKAN KESEMPATAN”.

“Ternyata, didapur banyak tikus yang berkeliaran. Dan bagi sebuah restoran kelas mewah, kehadiran tikus bisa merusak reputasinya. Karena itu, kamu memberiku saran dan nasehat aku selalu berjaga disana”.

“Ketika untuk pertama kalinya aku menangkap seekor tikus, aku mengikuti saranmu dengan mengeong keras-keras supaya koki yang disana keluar dan melihat. Saat itu aku begitu ketakutan sekali akan diusir dan dipukuli. Tetapi, yang kudapatkan malah semangkuk kecil susu segar”.

“Kamu mengajarkanku agar selalu BERSABAR dan BERUSAHA, selalu MELIHAT PELUANG dan MENCIPTAKAN KESEMPATAN. Dan sisanya aku yang mengambil keputusan”.

“Terimakasih Catherine…”, kecup kucing berbulu keabuan ini.

“Hihi…, bukan aku yang membuatmu menjadi hari ini, tapi KEPUTUSANMU waktu dulu dan MENGAMBIL TINDAKAN LANGSUNG. Apa yang kamu dapatkan hari ini adalah keputusan yang kamu ambil kemarin”.

“Dan ini nasehat terakhirku padamu anak muda, ketika kamu ragu dengan impianmu, CARILAH dan BERTANYALAH pada tempat yang tepat dengan PERTANYAAN YANG TEPAT”.

“Ketika kamu bertanya pada kumpulanmu dulu, kamu mendapatkan jawaban yang berbeda dengan jawabanku bukan? Sesungguhnya, kamu telah bertanya pada tempat yang tidak tepat”.

“Aku dan mereka memang pernah kesana mencoba meraih impian yang sama. Tetapi aku MENETAP DISANA, sedangkan mereka pulang dengan kegagalan dan menciptakan “kebenaran” yang sangat berbeda”.

“Pertanyaan yang tepat juga berpengaruh besar pada keputusanmu. Ketika kamu bertanya BAGAIMANA MEWUJUDKANNYA, kamu mendapatkan JAWABAN untuk mencapainya. Tetapi ketika kamu bertanya MENGAPA TIDAK BISA, kamu juga mendapatkan JAWABAN mengapa tidak bisa”.

“Impian yang sama, pertanyaan yang berbeda, menghasilkan JAWABAN YANG BERBEDA PULA”.

Setelah memberi nasehat terakhirnya, Catherine tertidur pulas dengan senyuman yang puas. Aku tahu dia akan tertidur selamanya. Kukecup kening Catherine. Lalu aku mengeong-ngeong agar tuanku datang.

Setelah membaringkan Cahterine ditempat istirahat terakhirnya, tuanku meninggalkan aku sendiri disana. Dia tahu aku baru saja kehilangan sahabat baikku yang telah mengajarkan aku banyak pelajaran hidup. Setelah beberapa lama, kulepaskan kalungku yang bertuliskan namaku disana sebagai tanda terimakasih dan sebagai bentuk penghormatan.

Setelah beberapa lama, tuanku memanggilku pulang. Kupandangi sebentar peristirahatan terakhir sahabatku.

“Selamat jalan Catherine, terimakasih atas semua pelajaran dan nasehat indah bijakmu dulu. Sekarang tugasku adalah meneruskan cita-citamu seperti yang kamu teruskan padaku”.

“Bye Cahterine….”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s