Kehidupan itu seindah taman bunga


Macro-photography-of-flowers-in-the-garden

“Apa sajakah warna bunga ditaman diluar sana?”, tanya seorang pemuda pada teman barunya yang terkenal gaul selalu berkacamata hitam.

Pemuda ini terbaring lemah dengan beberapa selang-selang kecil yang menembusi tanganya. Ia mencoba bunuh diri karena menurutnya dunia tidak pernah adil padanya. Dan itu “dibuktikannya” dengan kehilangan segalanya. Pekerjaannya. Uangnya. Bahkan pasangannya.

“Bunga-bunga diluar sana sangat indah teman. Aku sangat menyukainya. Mereka berwarna-warni seperti kehidupan. Aku selalu keluar untuk menikmatinya. Makanya, kamu harus cepat sembuh sehingga bisa sama-sama menikmatinya”, jawab teman gaul ini tersenyum ramah dan mulai bercerita.

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Teman gaul ini selalu datang menceritakan hal yang indah yang ia lihat ditaman. Suatu hari, pemuda ini yang masih tertekan tiba-tiba menjadi marah.

“Sudah hentikan semua. Kamu selalu datang dan menceritakan hal-hal indah. Sedangkan aku hanya terbaring lemah. Apakah kamu ingin memamerkan apa yang kamu lihat itu indah dan mengejekku bahwa aku tidak bisa menikmatinya? Aku sudah bosan mendengarnya. Mulai besok tidak perlu cerita semua itu lagi padaku”.

Keesokan harinya, teman gaul itu tidak datang lagi seperti permintaannya. Dan itu terus berjalan sehingga seminggu lebih. Pemuda ini juga sudah mulai baikkan. Ia merasa sangat bersalah karena telah memarahinya dan mengusirnya dulu.

Setelah sembuh dan diijinkan keluar dari rumah sakit, dengan perasaan yang masih belum sembuh total, pemuda ini mengunjungi taman yang diceritakan teman gaulnya. Harapannya, ia bisa dan ingin bertemu dengannya dan meminta maaf sebelum ia kembali kekehidupannya yang tidak indah menantinya. Setidaknya menurutnya begitu.

Tetapi, ketika sampai ditempat yang diceritakan teman gaulnya, tidak ada apa-apa selain gedung-gedung tinggi dan parkiran luas. Jangankan taman apalagi bunga, rumput saja tidak ada. Pemuda ini menjadi bingung.

Lalu ia kembali kerumah sakit dan bertanya tentang taman bunga dan teman gaul yang dulu sering mendatanginya pada seorang perawat.

“Oooh, maksud tuan, tuan Mike yang berkacamata hitam itu ya? Seminggu yang lalu dia telah meninggal karena kesehatannya memburuk. Ia tidak punya sanak saudara, baginya semua pasien disini adalah saudaranya. Tetapi sebelum ia meninggal, ia berkata bahwa ia sangat bahagia mempunyai seorang sahabat yang selalu mau mendengarkan ceritanya”.

“Dan, kamu tadi tanya dimana ada taman bunga bukan? Disini tidak pernah ada taman bunga. Memangnya kenapa tuan?”, tanya siperawat tersenyum ramah.

“Ti, tidak ada apa-apa”, jawab pemuda ini bingung. Apakah teman gaulnya itu berbohong padanya?

“Oya, aku lupa bilang. Tuan Mike kehilangan penglihatannya sejak kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Ia suka bercerita, terutama tentang betapa indahnya dunia ini ketika kita bisa melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda.”.

“Ia juga selalu memberi semangat kepada semua pasien disini. Bahkan kami para perawat juga selalu dinasehai dengan mengatakan bahwa pekerjaan kami sangatlah mulia. Disaat orang lain diluar sana kebanyakkan saling acuh tak acuh, kami justru melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa.  Kami merasa sangat kehilangannya ketika ia meninggal”, lanjut perawat ini dengan mata berkaca-kaca.

Akhirnya pemuda ini mengetahui apa maksud dari semuanya.

Temannya yang gaul sesungguhnya adalah buta, yang dunianya serba gelap gulita. Tetapi ia masih bisa MELIHAT betapa INDAHNYA dunia dalam kegelapannya. Dan ia yang bisa melihat malah buta? Dan yang lebih parah, ia hendak mengakhiri hidupnya?

Tiba-tiba pemuda ini merasakan semua bebannya terangkat. Air matanya pun mengalir keluar. Mulutnya bergumam kecil.

“Terimakasih teman, terimakasih…, dan maafkan aku…”.

Setelah cukup tenang, pemuda ini meminta alamat dimana teman gaulnya ini beristirahat selamanya. Perawat ini lalu menuliskan disebuah kartu nama yang dulu sering teman gaulnya berikan pada siapa saja yang ditemuinya. Setelah berterimakasih dan berpamitan, pemuda ini pun berlalu pergi.

Sebelum ia keluar dari pintu utama rumah sakit, ia membalikkan kartu nama itu. Ada tulisan tangan disana. Setelah membacanya, pemuda ini mulai menitikkan air mata. Ternyata, ketika temannya ini telah tiada, nasehatnya selalu diberikannya. Tulisan itu berbunyi.

“Kehidupan tidak pernah MEMAKSAKAN apa yang kamu inginkan dan apa yang tidak kamu inginkan. Kamulah yang MEMINTANYA. Dan kehidupan hanya MEMBERIKAN apa yang kamu INGINKAN. Dan ketahuilah, SELALU ada yang INDAH dalam setiap masalah. Bedanya bagaimana kamu hendak MELIHATNYA”.

:)

3 thoughts on “Kehidupan itu seindah taman bunga

  1. Pernah baca beberapa versi cerita yang hampir persis sama hanya perbedaan tokohnya saja.
    Over all nice story ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s