5 Menit lagi


time-clock

“Hai, selamat sore…, bolehkah saya bergabung duduk disini? “, sapa tanya seorang ibu muda yang berpenampilan sederhana tapi menarik. “Hai juga, silakan…”, jawab pria setengah baya ini dengan senyuman yang ramah.

“Sepertinya saya jarang melihat Anda disini, apakah Anda pindahan baru disini?”, tanya ibu muda ini  kembali. Pria setengah baya ini tersenyum, “Saya orang lama disini, hanya saja saya jarang datang kesini”.

“Oh begitu, kalau saya hampir setiap sore membawa putri saya dan menemaninya bermain disini. Oya, maafkan kelancangan saya karena lupa memperkenalkan diri. Nama saya Katie”.

“Kalau saya Mikhael, panggil saja Mike”, jawab pria setengah baya ini tersenyum ramah.

“Itu putriku yang memakai sayap kupu-kupu dibelakangnya, kami baru saja pulang dari pesta ulang tahun putriku, jadi kami sekalian menyempatkan diri kesini bermain menghabiskan sore seperti sore-sore sebelumnya”, kata Katie.

“Kalau yang pakai kaos biru sepakbola itu putraku, baru beberapa hari ini aku menyempatkan diri menemaninya bermain disini”, jawab Mike sambil terus memandangi putranya bermain seluncuran.

Selang barang semenit, putra Mike berlari menghampirinya. “Ayo nak, sudah habis waktunya, saatnya pulang…”, kata Mike sambil membasuh keringat putranya. “5 menit lagi ya, 5 menit aja…”, pinta putranya dengan mata membesar memelas. Mike hanya tertawa kecil. “Ok,  5 menit lagi ya”.

5 menit kemudian, putranya kembali dan langsung berkata, “Ayah, minta 5 menit lagi ya…, aku janji setelah 5 menit ini kita pulang. Besok datang main lagi ya…”. Mike hanya tersenyum. Jawabnya, “Iya, 5 menit lagi ya…”.

Katie yang duduk disampingnya yang terus melihat mereka hanya bisa tersenyum. Lalu  dia memuji Mike, “Anda pasti seorang ayah yang sangat penyabar…”. Mike tersenyum mendengar pujian itu. Lalu dia menjawab.

“Sesungguhnya aku bukanlah seorang figur ayah yang baik. Setahun yang lalu, putra sulungku meninggal karena kecelakaan didepan taman ini gara-gara seorang pengendara truk yang mabuk”.

“Dulu aku tidak pernah bisa menemaninya bermain disini. Aku selalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku hanya bisa mengantarnya kesini dan aku membiarkannya bermain sendirian bersama anak-anak lain dan ketika waktunya tiba, aku datang menjemputnya pulang”.

“Sejak kejadian itu, aku sangat menyesalinya. Yang paling aku sesali adalah aku memberikan waktuku lebih banyak pada pekerjaanku daripada pada putraku sendiri”.

“Sekarang, aku dengan senang hati akan memberikan waktu 5 menit yang diminta oleh putra bungsuku ini. Jangankan sekali, berapa kalipun akan kuberikan”.

“Ketika dia meminta 5 menit lebih lama, sesungguhnya aku mendapatkan waktu 5 menit lagi kebahagiaan bisa menemaninya dan melihatnya bermain dengan gembira”.

“Seringkali kita harus merasakan sendiri kehilangan baru menyadari betapa berharganya apa yang telah kita miliki. Tetapi jadikanlah pengalamanku ini sebagai pelajaran, bersyukurlah dengan apa yang telah kita punyai atau apa yang masih kita miliki karena belum kehilangan”.

“Kita tidak pernah bisa memutar waktu kembali, ada alasan mengapa kita tidak bisa mengulang masa lalu. Maka, jadikanlah hari ini menjadi kenangan indah ketika ia telah berlalu, terutama bersama keluargamu, karena merekalah harta dan anugerah sesungguhnya”.

One thought on “5 Menit lagi

Comments are closed.