Saudagar kaya pencari Kebahagiaan


camel-ride

Suatu hari, seorang saudagar yang kaya raya berkunjung kesebuah daerah. Tujuannya adalah dia ingin mengetahui rahasia kebahagiaan yang terkenal dari daerah yang akan dikunjunginya tersebut.

Dari kabar angin yang dia dengar, semua penduduk disana selalu bahagia. Padahal setahu saudagar ini, daerah itu bukanlah daerah yang makmur, melainkan hanyalah sebuah daerah yang sederhana.

Saudagar ini selalu berpikir, dia telah memiliki segalanya, apa yang dia inginkan selalu dia bisa dapatkan. Tetapi dia merasa kebahagiaan yang dia dapatkan hanyalah sementara.

Dan selama ini pula dia telah berkeliling mencari rumus kebahagiaan keman-mana tetapi masih belum mendapatkannya sampai dia mendengar daerah yang akan dikunjunginya ini terkenal dengan semua masyarakatnya yang selalu berbahagia.

Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang, tibalah saudagar kaya ini didaerah yang dituju. Dia cukup terkejut, karena untuk daerah yang sederhana tempat tersebut begitu rapi, bersih dan menyenangkan. Semua orang terlihat begitu ramah dan bahagia.

“Selamat siang tuan”, sapa seorang pemuda dengan senyum yang ramah. “Selamat siang…”, balas saudagar ini ramah juga. “Selamat siang tuan….”, sapa anak-anak yang bermain dan lewat didepannya sambil tertawa riang. “Selamat siang anak-anak…”, balasnya terkesima melihat keramahan semua.

Ketika bulan menampakkan dirinya, saudagar kaya ini masih tidak selesai mengagumi kebahagiaan orang disana. Semua terlihat benar-benar bahagia dan tulus memperlakukannya dengan baik dan ramah.

Karena penasaran yang sudah dipuncak kepala, saudagar ini yang sedari tadi memperhatikan mereka semua mengambil kesimpulan bahwa penyebab bahagia mereka adalah air yang mereka minum.

“Pasti rahasia kebahagiaan mereka adalah air. Mereka meminum air yang sama dimana-mana. Aku juga akan mencoba minuman tersebut, kalau perlu aku akan membeli resepnya dan menjualnya ditempatku sehingga semua bisa merasakan kebahagiaan yang sama”, kata saudagar ini menyakinkan diri.

Lalu diapun mencoba air yang dimaksud.

Setelah beberapa teguk, saudagar ini terdiam sebentar. Tidak merasa apa-apa. Lalu ia meneguk beberapa kali lagi, tetapi tetap tidak merasakan apapun seperti yang ingin ia rasakan.

Setelah beberapa botol dihabiskan, tidak ada rasa kebahagiaan seperti yang ia pikirkan. Masih dalam penasarannya, ia melihat beberapa wanita muda memetik setangkai bunga dan menciumi bunga itu. Lalu mereka tertawa bahagia.

“Oh, Jangan-jangan banyaknya bunga yang bertumbuh indah disinilah yang memberikan kebahagiaan…”, katanya dalam hati. Lalu ia pun mendekati bunga itu dan memetik setangkai bunga. Ia pun menciumi bunga itu. Hasilnya sama, ia tidak merasakan apa-apa.

Entah sudah berapa banyak yang ia tiru dan lakukan, tetapi tetap tidak menemukan rahasia itu. Ketika malam telah mencapai puncaknya, saudagar ini kelelahan dan merebahkan dirinya disebuah batu besar.

“Apa rahasia mereka? Jangan-jangan mereka telah tahu aku datang ingin mencari rahasia itu sehingga mereka pura-pura memperlakukan apa saja dan menjadi bahagia supaya aku bingung…”, desahnya kelelahan dan penasaran.

“Hoho…, tidak ada rahasia apapun pada mereka anak muda, justru mereka tidak pura-pura dan tulus dengan kebahagiaan mereka. Kamulah yang dengan pikiranmu dikepala itu yang membuatmu tidak menemukan kebahagiaan itu yang menurutmu rahasia disini”, kata seorang tetua yang kebetulan duduk disamping belakang batu besar itu.

Saudagar ini terkejut mendengar hal itu. Terkejut karena ada seseorang disana, dan terkejut mendengar apa yang barusan diucapkannya. Sebelum sempat bertanya, tetua disampingnya menjawabnya seperti bisa membaca pikirannya.

“Engkau mencari kemanapun rahasia itu tidak akan pernah kamu temukan. Bahkan dari sejak awal kehidupan rahasia itu sesungguhnya tidak ada. Dan jika harus ada, maka rahasia itu sangat sangat sederhana dan ada didalam diri kita”, kata tetua ini.

“Sekarang apakah kamu kelelahan setelah seharian mencarinya?”, tanya tetua ini.

“Iya, aku kelelahan sekali”, jawab saudagar kaya ini sambil menghela napas panjang.

“Lalu apakah yang paling kamu inginkan sekarang?”, tanya tetua ini lagi.

“Aku ingin minum…, aku haus…”, jawab saudagar kaya dengan suara pelan.

“Nih, minumlah air ini”, jawab tetua sambil menyerahkan sebotol air minum. Setelah berterimakasih, saudagar ini langsung meminumnya habis.

“Waahhh…, segar sekali. Air apakah ini? aku belum pernah merasakan air selega dan senikmat ini”, tanya saudagar kaya.

Tetua yang mendengar hal itu tertawa kecil. Tanpa menjawab saudagar ini, tetua tersebut memberikan setangkai bunga. Katanya, “Bawalah bunga ini dan berikan pada wanita manapun disekitar sini. Katakan padanya dengan tulus bahwa dirinya secantik bunga ini. Setelah itu kembalilah kesini dan akan kuberitahu rahasia air apa itu “.

Maka bergegaslah saudagar kaya ini memenuhi permintaan sang tetua. Tidak perlu waktu lama kembalilah saudagar kaya ini dengan penuh kebahagiaan. Tetua yang melihatnya juga tersenyum penuh arti.

“Bagaimana? Sudah selesai kamu melakukannya? Apakah masih perlu aku memberitahumu air apa itu?”, tanya tetua dengan pandangan yang ramah. Saudagar kaya ini tersenyum. Kali ini wajahnya terlihat bercahaya sama sekali tidak terlihat lelah.

“Aku sudah menemukannya. Ternyata memang tidak ada rahasia seperti yang tetua katakan. Dan jika memang harus ada rahasia, maka itu ada DALAM DIRI KITA SENDIRI”.

“Air yang tetua berikan, sesungguhnya air yang diminum anak-anak siang tadi dan aku juga dengan beberapa botol banyaknya. Aku menganggapnya ada rahasia dibaliknya, tetapi ternyata tidak ada”.

“Lalu tetua memintaku memberikan setangkai bunga pada wanita yang bisa kutemukan dan memujinya dengan tulus, ternyata itu bunga yang tadi kulihat beberapa wanita memetiknya disana dan menciuminya. Aku mengira ada rahasia dibaliknya, tetapi juga tidak ada”.

“Sekarang, aku tahu apa rahasia sesungguhnya. Bagaimana kita MENGHARGAI dan MENSYUKURI apa yang telah kita miliki itulah rahasia sesungguhnya”.

“Ketika sebelumnya aku mencari rahasianya, semakin kucari, semakin aku tidak bahagia. Dan dalam kelelahan itu, aku justru menemukan dahaga. Saat itu, yang aku pikirkan bukanlah permata atau lainnya, tetapi ingin sebotol air untuk menghilangkan dahaga”.

“Dan ketika aku mendapatkannya, aku begitu bahagia dan meminumnya. Rasanya menjadi berbeda karena aku menghargai air itu. Padahal, dengan segala kepunyaanku, aku bisa membeli berjuta-juta botol minuman yang sama. Tetapi aku percaya, rasanya pasti akan berbeda”.

“Lalu tentang bunga itu, aku mengira ada wangi khusus yang membuat seseorang menjadi bahagia. Tetapi aku menyadarinya ketika anda memintaku memberikan bunga ini pada wanita mana saja yang kutemui dan memujinya dengan tulus, ada kebahagiaan yang datang kepadaku ketika melihat mereka berbahagia”.

“Bukan karena bunga itu yang membuat seseorang bahagia, tetapi KETULUSAN yang tersampaikan melalui bunga tersebut yang membuat seseorang bahagia. Dan kebahagian itu datang dengan MEMBAHAGIAKAN atau MEMBAGI KEBAHAGIAAN pada orang lain juga”, jawab saudagar ini dengan wajah penuh kepuasan.

“Hohooho…, kamu memang bijaksana anak muda. Dan memang benar apa yang kamu katakan. Itulah rahasia sesungguhnya kebahagiaan. Ia tidak ditemukan pada orang lain apalagi menggantungkan pada benda lain. Ia ditemukan dari dalam diri kita sendiri. Hati kita sendiri”.

“Anak-anak, mereka selalu berbahagia apapun kondisi mereka. Mereka akan menanggis ketika terjatuh, tetapi setelah itu mereka akan tertawa lagi bermain seperti tidak terjadi sesuatu. Mereka bahagia karena mereka MEMILIHNYA, bukan karena ada sesuatu pada mereka”.

“Apapun minuman yang kamu berikan pada mereka, mereka akan meminumnya dengan bahagia. Mereka tidak peduli botolnya mau seindah apa, dari bahan apa, yang penting bagi mereka adalah ISI YANG ADA DIDALAMNYA yaitu air dan setelah itu botolnya akan mereka buang. Semahal apapun botol itu”.

“Lalu bunga yang kamu lihat pada beberapa wanita itu, bukan bunganya yang membuat mereka bahagia, tetapi mereka yang MENGHARGAI segala CIPTAAN dan ANUGERAH TUHAN dan mereka masih bisa menikmatinya sehingga mereka sangat BERSYUKUR dan memberikan perasaan bahagia”.

“Anak muda, semakin kamu mencari kebahagiaan diluar dirimu, semakin kamu akan dijauhi kebahagiaan yang ada. Justru ketika kamu melekatkan kebahagiaan itu pada yang diluar dirimu seperti benda-benda dunia, sesungguhnya kamu semakin menjauhkan kebahagiaanmu”.

“Kamu mungkin merasa bahagia dengan segala benda-benda yang selalu kamu inginkan dan dapatkan, tetapi itu bukan bahagia sesungguhnya, itu namanya kesenangan dan bersifat sangat sementara yang bisa tergantikan kapan saja. Dan ketika benda itu hilang, maka “kebahagiaan” itu juga akan ikut hilang”.

“Dan ketika kamu menemukan kebahagiaan dari dalam, kamu justru menemukan apapun yang telah kamu miliki itu menjadi sebatas pelengkap saja. Dan sekalipun kamu kehilangannya, itu tidak akan mengambil kebahagiaanmu. Karena kamu tahu, kebahagiaan tidak bisa diambil, ia hanya bisa dibagi”.

“Itulah RAHASIA BAHAGIA SESUNGGUHNYA”.